Monday, November 28, 2022

Impian 10 Tahun Mendatang

Rekomendasi

Buah lalu ditimbang, disortir sesuai bobot dan kualitas. Selesai dikemas dalam dus khusus, langsung diangkut menuju pelabuhan laut atau bandara terdekat. Lengkeng hasil panen pekebun di berbagai sentra di tanah air itu siap berangkat menuju Thailand, Malaysia, dan Singapura.

Saat ini, itu baru sekadar impian. Kenyataannya, justru lengkeng impor asal negeri Siam membanjiri toko-toko buah, pasar swalayan, dan kios-kios pedagang kakilima. Namun, satu dekade ke depan bukan tak mungkin sebaliknya yang terjadi. Setidaknya begitulah keyakinan Dr Ir Mohammad Reza Tirtawinata, MS, pakar dan praktisi buah ternama.

Kehadiran lengkeng-lengkeng introduksi yang beradaptasi di dataran rendah dan bersuhu panas membuat doktor di bidang manggis itu yakin (baca: Dari Sijangkung Wabah Itu Berasal halaman 20). Diamond river dan pingpong terbukti tumbuh subur di kebun milik Mulyono di Singkawang, Kalimantan Barat.

Pun yang ditanam di tengah lahan jeruk Mitra Jeruk Lestari, Sambas dan puluhan pohon koleksi Prakoso Heryono di Demak dan Suko Budi Prayogo di Semarang, Jawa Tengah. Tak sekadar tumbuh, lengkeng-lengkeng itu rata-rata berbuah sejak umur 8 bulan setelah tanam dan nyaris tanpa henti.

Itu bertolak belakang dengan kondisi lengkeng lokal di daerah sentra seperti Ambarawa dan Temanggung. Di daerah berketinggian di atas 600 m dpl itu buah dipanen dari pohon warisan berumur puluhan tahun. Wajar Reza berujar, “Ini (lengkeng dataran rendah dan berumur genjah, red) luar biasa.”

Mutasi?

Itu diakui Prof Dr Ir Roedhy Poerwanto, direktur Tanaman Buah, Direktorat Jenderal Bina Produksi Hortikultura, Departemen Pertanian RI. Lengkeng merupakan buah subtropis yang pembungaannya dipicu oleh suhu dingin. Ia membutuhkan perbedaan suhu siang dan malam minimal 10oC agar bunga muncul. Makanya lengkeng cocok dikembangkan di Cina Selatan, Thailand, dan Taiwan yang terletak di 23,5o lintang utara. Meski sentra di negara-negara itu terletak di dataran rendah dan menengah, suhunya dingin karena semakin mendekati kutub.

Berbeda dengan daerah tropis, seperti Indonesia. Suhu rendah pemicu pembungaan hanya diperoleh di dataran tinggi, seperti Temanggung yang temperaturnya bisa mencapai angka di bawah 15oC. Keharusan menanam di dataran tinggi membuat investor enggan terjun mengebunkan kerabat leci itu.

Tiga tahun silam terbetik kabar kehadiran lengkeng yang berbuah di dataran rendah dan panas. Informasi awal datang dari Singkawang, Kalimantan Barat. Berita berikutnya datang dari Sambas, Demak, dan Blitar. Jenis yang ditanam sama, diamond river dan pingpong. Diamond river berasal dari Cina tapi banyak dikembangkan pekebun Malaysia. Sementara sumber utama pingpong ialah Vietnam dan Thailand.

Reza dan Roedhy sepakat, 2 varietas itu merupakan seleksi dari tanaman hasil mutasi pada hormon pengatur pembungaan. Peluang mutasi—dari pemicu suhu dingin ke panas agar lengkeng berbunga—cukup besar. Terbukti beberapa pohon lengkeng lokal dilaporkan berbuah di dataran rendah seperti Jakarta dan Yogyakarta. Hanya saja, penemuan di Cina dan Vietnam itu langsung ditindaklanjuti dengan memperbanyak bibit secara vegetatif sehingga berkembang cepat.

“Kalau hasil pemuliaan, mestinya kemajuan-kemajuan yang ada bisa diikuti melalui jurnal-jurnal dan seminar-seminar,” kata Reza. Apalagi proses itu merupakan sebuah pekerjaan besar yang membutuhkan waktu lama. Dalam beberapa pertemuan dengan pakar buah dari Thailand, Reza tidak pernah mendengar berita tentang pemuliaan lengkeng menuju dataran rendah. Simposium tentang rambutan, leci, lengkeng, dan anggota famili Sapindaceae lain di Chiangmai pada September 2003 yang dihadiri Roedhy pun tak menyinggung-nyinggung hal itu.

Gantikan rambutan

Terlepas dari sejarah penemuan lengkeng dataran rendah dan tahan panas, bagi Reza ini sebenarnya yang ditunggutunggu. Maklum 80% lahan di Indonesiaberada di dataran rendah. Dengan begitu penanaman bisa massal. Sementara pasar terbentang untuk mensubstitusi impor. Hasil panen dari kebun di Singkawang lebih manis, segar, dan harum sehingga jadi rebutan pembeli.

Mata naga—namanya di Cina—potensial menggantikan rambutan. Kerabat dekat lengkeng itu “menguasai” penanaman di dataran rendah, tapi nilai ekonomisnya sangat rendah. Bila pekebun di Cileungsi, Bogor, panen raya, gunungan rambutan aceh lebak terlihat di manamana. Harganya cuma Rp1.000 per kg.

Bandingkan dengan harga yang diterima pekebun lengkeng di Singkawang: Rp6.000 per kg. Dari segi pascapanen,olahan lengkeng pun lebih variatif, misal di Cina dikeringkan sebagai obat. Itulahpeluang yang langsung ditangkap pekebunpekebunpionir. Dengan umur genjah dan produksi terus-menerus, jelas lengkeng tahan panas lebih menggiurkan ketimbang lengkeng lokal atau rambutan.

Lokasi penanaman tinggal menyesuaikan dengan kondisi. Iklim dan tanah di Singkawang, Demak, atau Semarang terbukti cocok untuk mengembangkan lengkeng dataran rendah. Menilik keadaan kebun-kebun awal itu, Reza menduga daerah pantai timur Sumatera bisa dipilih.

Tim bersama

Kalau sudah begitu, maka penyediaan bibit yang mesti buru-buru digarap. Sampai saat ini diamond river dan pingpong baru menyebar di kalangan hobiis dan sebagian kecil penangkar. Membeli langsung dari negara asal mahal. Pingpong setinggi 50 cm dari Kuching, Serawak, dibandrol RM25—RM30 setara Rp60.000—Rp70.000. Padahal untuk membentuk sentra-sentra penanaman dibutuhkan banyak bibitss.

“Idealnya dibuat dulu kebun pohon induk. Dari sana dihasilkan bibit-bibit untuk disebarkan ke daerah-daerah penanaman baru,” ujar Roedhy. Induk dikumpulkan dari beberapa jenis, termasuk lengkeng lokal yang adaptif di dataran rendah. Balai Benih Induk ditunjuk sebagai penyedia bibit di berbagai daerah.

Untuk mewujudkan pekerjaan besar itu perlu dibentuk sebuah tim yang melibatkan pemerintah, swasta, dan akademisi. “Kalau serius, dalam 5 tahun ke depan kita sudah punya kebun-kebun lengkeng di seluruh Indonesia. Sepuluh tahun lagi kita tidak perlu lagi impor, malah ekspor,” tegas Reza. (Evy Syariefa)

Bukti dari Miri

Sejak setahun lalu santer terdengar di kantor Direktur Tanaman Buah, Direktorat Jenderal Bina Produksi Hortikultura, Deptan, tentang kebun lengkeng genjah di dataran rendah Kalimantan Barat. Konon lengkeng didatangkan dari Kuching, Serawak, Malaysia, yang berseberangan langsung. Atas bantuan seorang teman penggemar buah-buahan di Kalimantan Barat, saya terbang langsung ke daerah asal.

Yang dikunjungi sebuah kebun agrowisata di Miri—14 jam perjalanan darat dari Kuching. Di sana ditanam lengkeng yang adaptif di dataran rendah varietas diamond river, pingpong, dan itoh, masing-masing 3—5 ha. Saya rasakan sendiri, kualitas buah yang disebut terakhir lebih baik ketimbang 2 saudaranya. Biji kecil, daging tebal, kesat, kenyal, dan manis.

Waktu berkunjung pada September 2003, pohon-pohon berumur 2—3 tahun itu sarat buah. Di luar panen besar, pohon nyaris tak pernah berhenti berbuah sepanjang tahun. Kebun itu juga menawarkan bibit. Karena terbilang anyar harga bibit itoh setinggi 50 cm lebih mahal, RM150 setara Rp360.000. Diamond river dan pingpong sepertiganya.

Keberadaan varietas dataran rendah itu membuka peluang untuk pengembangan di dataran rendah Indonesia. Itu bisa dikembangkan berbarengan dengan lengkeng selarong yang juga adaptif di daerah panas. Sentra penanamannya terletak di dataran medium berketinggian 50—100 m dpl di Bantul, Yogyakarta.

Penanaman di dataran rendah lebih potensial karena tanaman mudah dimanipulasi untuk berbunga. Jadi saya pikir, bibit ini bakal segera dicari orang. (Dr M Winarno, mantan Direktur Buah, Direktorat Jenderal Bina Produksi Hortikultura, Departemen Pertanian)

 

Previous articleBukan Arwana Biasa
Next articleVanili: Sekilo 3-Juta
- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Robusta Rasa Kelapa

Trubus.id— “Kopi arabikanya enak.” Itulah yang kerap terucap dari para penikmat kopi ketika mencicipi kopi asal Desa Tamansari, Kecamatan...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img