Sunday, May 19, 2024

Inovasi Agar Harga Cabai Terkendali

Rekomendasi
- Advertisement -

Trubus.id—Cabai merah komoditas sayuran strategis yang mempengaruhi inflasi. Fluktuasi harga terjadi hampir setiap tahun akibat hukum pasar. Harga cabai meroket lantaran pasokan kurang dari permintaan konsumen dan sebaliknya.

Pada musim hajatan atau hari besar keagamaan, kebutuhan cabai meningkat 10—20% dari kebutuhan normal.  Kondisi iklim mempengaruhi produksi cabai. Pada saat musim hujan pasokan cabai cenderung turun karena tanaman rawan terkena penyakit.

Menurut dosen di Fakultas Pertanian, IPB, Prof. Suryo Wiyono,  salah satu penyakit yang menyerang cabai pada musim hujan antraknosa Colletotrichum sp. “Cendawan fitopatogen berkembang pada musim hujan dengan suhu yang hangat,” ujarnya.

Kini gejala serangannya pun semakin berat. Antraknosa cabai tidak hanya menimbulkan busuk pada buah, tetapi juga mati ranting. Namun, saat kemarau bukan jaminan pasokan cabai melimpah. Pasalnya, di beberapa sentra, produksi justru berhenti karena kekeringan.

Menurut Suryo salah satu hama yang kerap menyerang saat kemarau adalah Thrips sp. Menurut Dr. Ir. Suwandi, M.Si., gejolak harga cabai dapat diatasi jika luas tanam pada musim hujan meningkat dan dilakukan pengaturan luas tanam dan produksi saat kemarau.

Selain itu penting adanya aneka jenis varietas cabai unggul tahan penyakit dan berproduktivitas tinggi. Penanaman berbagai jenis varietas cabai dengan menggunakan teknologi seperti irigasi otomatis juga salah satu strategi. Teknik irigasi itu menyedot air dari parit yang dibendung menggunakan pompa.

Pompa beroperasi secara otomatis karena dilengkapi alat pengatur waktu. Untuk mengalirkan air ke tanaman, Kementerian Pertanian merancang 3 model irigasi, yaitu model regulating stick, irigasi tetes (streamline), dan spray jet. Dengan teknologi-teknologi diharapkan tak perlu lagi risau harga cabai menanjak.

- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Omzet Jutaan dari Berkebun Kakao Intensif

Trubus.id—Pekebun kakao di Kabupaten Luwu, Provinsi Sulawesi Selatan, Baramang mendapatkan omzet hingga Rp297 juta per tahun dari berkebun kakao....
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img