Tuesday, February 27, 2024

Inovasi Benang dan Kain dari Biomassa Sawit

Rekomendasi
- Advertisement -

Trubus.id — Institut Pertanian Bogor menciptakan inovasi benang dan kain dari biomassa sawit untuk aplikasi industri kreatif fashion. Inovasi ini diciptakan oleh Dr. Siti Nikmatin, peneliti dari Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA).

Ada dua permasalahan mendasar yang membuat Nikmatin, menciptakan inovasi tersebut. Pertama, keberadaan tandan kosong sawit yang meningkat secara linear seiring dengan produksi crude palm oil. Kedua, industri fashion berada di posisi kedua setelah kuliner.

Menurutnya, pemanfaatan tandan kosong sawit sudah lumayan banyak, baik sebagai bahan bakar maupun pupuk. Namun, perlu adanya diversifikasi produk untuk mengubah tandan kosong kelapa sawit menjadi material maju yang memiliki nilai ekonomi tinggi dan berdaya saing serta bisa substitusi impor.

Sementara itu, kebutuhan manusia akan tekstil juga sangat luar biasa, bahkan Indonesia harus mengimpor bahan bakar kapas hingga 90 persen.

“Keterbatasan kapas ini yang menginisiasi inovasi kapas buatan yang beredar di pasar. Sumbernya bisa dari eucalyptus, akasia, dan bambu. Kelapa sawit harus turut hadir di dalam industri fashion sebagai bahan baku untuk mendukung kedaulatan tekstil Indonesia,” kata Nikmatin seperti dikutip dari laman IPB University.

Sebelum diolah, tandan sawit kosong memiliki potensi besar untuk menjadi bahan dengan karakteristik yang paling mendekati kapas. Setelah melalui uji bahan baku dan komposisi kimia, tandan kelapa sawit berpeluang untuk direkayasa menjadi kapas buatan, yaitu rayon viskosa dan benang pilin.

“Tandan sawit kosong ini juga dibuat sebagai benang pilin untuk memperkaya khasanah budaya tenun Indonesia. Saat ini tenun dari ATBM (alat tenun bukan mesin) tidak ada yang berasal dari sawit. Ini adalah inovasi pertama, novelty kebaruan bahwa sawit hadir untuk future fashion,” jelasnya.

Nikmatin menjelaskan, ada beberapa tahapan yang harus dilalui dalam mengolah tandan sawit kosong menjadi rayon viskosa. Pertama, proses prahidrolisis kemudian dicuci hingga pH netral. Selanjutnya, melalui proses pemasakan untuk menghasilkan pulp yang kemudian diuji dan diputihkan untuk mendekati derajat bahan kapas.

Pulp tersebut kemudian diolah menjadi alkali selulosa dan diubah menjadi larutan viskosa. Lalu dijadikan rayon viskosa. Larutan ini yang menjadi bahan dasar pembuatan benang pilin.

Adapun variasi benang pilin yang dihasilkan ada dua, original dan diwarnai secara alami dengan secang atau pewarna buatan. Benang pilin divariasikan menjadi empat diameter berbeda, kemudian ditenun dengan ATBM sesuai dengan kebutuhan fashion.

Nikmatin menciptakan inovasi ini bersama kedua anggotanya Dr. Irmansyah dan Bambang Hermawan, M.Si. Riset biomaterial ini didanai oleh Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS), Kementerian Keuangan, Republik Indonesia.

- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Konsumsi Jamur dari Hasil Budidaya Organik

Trubus.id— Prinsip dasar pertanian atau budidaya jamur organik memang meminimalkan penggunaan bahan dari luar lingkungan seperti penambahan zat tumbuh...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img