Trubus.id – Limbah cangkang telur yang selama ini kerap berakhir di tempat pembuangan akhir kini mendapat perhatian baru melalui inovasi biomaterial berkelanjutan yang dikembangkan mahasiswa Program Studi Teknik Pangan Institut Teknologi Bandung (ITB). Inovasi bertajuk EggCrate ini mentransformasi cangkang telur menjadi biokomposit ramah lingkungan bernilai guna tinggi.
Pengembangan EggCrate berangkat dari keprihatinan terhadap tingginya volume limbah cangkang telur di Indonesia yang mencapai lebih dari 550.000 ton per tahun. Limbah tersebut umumnya belum diolah secara optimal dan berpotensi menimbulkan persoalan sanitasi serta lingkungan. Padahal, cangkang telur memiliki kandungan kalsium karbonat (CaCO3) yang sangat tinggi, yakni sekitar 94–97 persen, sehingga berpotensi besar dimanfaatkan sebagai bahan baku biomaterial.
Melalui pendekatan sains material, tim EggCrate memformulasikan biokomposit dengan mengombinasikan serbuk cangkang telur berukuran mikro dengan bioresin alami berbasis tepung tapioka dan gliserol. Hasil riset awal menunjukkan material ini memiliki karakteristik kuat, estetis, serta sepenuhnya biodegradable.
“Dengan keterbatasan alat dan bahan, kami mencoba memanfaatkan limbah cangkang telur menjadi prototipe biokomposit. Hasilnya cukup baik, kami berhasil membuat sendok makan dan beberapa produk hias DIY yang memiliki kekuatan mekanik cukup tinggi,” ujar Muhammad Raffi Aditya Pradipta, salah satu pengembang EggCrate.
Tidak hanya ditujukan sebagai alternatif pengganti plastik, produk EggCrate juga dirancang mendukung prinsip ekonomi sirkular. Material yang digunakan bersifat remoldable, sehingga produk yang sudah tidak terpakai dapat dicetak ulang menjadi bentuk baru tanpa menghasilkan limbah tambahan.
Inovasi ini turut mengintegrasikan aspek edukasi dan teknologi digital. Setiap produk dilengkapi QR Code impact tracking yang memungkinkan pengguna mengetahui dampak lingkungan dari produk tersebut, termasuk estimasi pengurangan jejak karbon serta asal-usul material. Pendekatan ini diharapkan dapat meningkatkan kesadaran masyarakat, khususnya generasi muda, terhadap gaya hidup berkelanjutan.
Dalam pengembangannya, tim masih menghadapi sejumlah tantangan teknis, terutama pada proses produksi. Salah satunya adalah keterbatasan alat penggiling yang idealnya mampu menghasilkan serbuk cangkang telur berukuran sangat halus (sekitar 80 mesh) agar campuran material lebih homogen dan kokoh.
Selain itu, karena diarahkan sebagai produk alat makan, material biokomposit masih berisiko melunak ketika bersentuhan dengan makanan panas atau berkuah.
Pengembangan lanjutan seperti penambahan lapisan pelindung atau resin khusus menjadi fokus riset berikutnya agar produk tetap stabil pada berbagai kondisi suhu.
Melalui inovasi EggCrate, mahasiswa ITB berharap dapat membuka perspektif baru bahwa limbah pangan memiliki potensi besar untuk diolah menjadi produk bernilai ekonomi tinggi. Inovasi ini diharapkan mampu berkontribusi dalam pengembangan ekonomi hijau kreatif serta menjadi bagian dari solusi berkelanjutan bagi permasalahan lingkungan di Indonesia
