Trubus.id– Cabai merupakan komoditas hortikultura yang mudah rusak. Masyarakat membutuhkan teknologi untuk mengawetkan dan mengolahnya menjadi produk bernilai jual.
Kelompok Taruna Tani Berkah Jaya di Piyungan, Bantul, mengolah cabai menjadi keripik, bubuk, minyak, dan cabai kering. Bahan bakunya berasal dari tanaman yang dibudidayakan oleh anggota dan warga sekitar.
Tri Wahyudi, ketua kelompok, bersama 19 anggota lainnya memanfaatkan lahan hibah dusun seluas 350 m². Lahan itu ditanami cabai, tomat, kangkung, dan pisang Cavendish.
Menurut Tri, pengolahan cabai membuat produk lebih tahan lama dan meningkatkan nilai jual. Anggota kelompok membuat keripik cabai di bangsal pascapanen.
Keripik cabai dijual seharga Rp3.000 per kemasan dan cukup diminati pasar. Bangsal pascapanen yang digunakan merupakan bantuan dari Kementerian Pertanian.
Program ini sejalan dengan upaya menekan inflasi akibat fluktuasi harga cabai. Tri menyebut cuaca lima tahun terakhir menjadi kendala utama petani.
Petani cabai sering merugi karena harga jual anjlok secara tiba-tiba. Tanpa bangsal, hasil panen tidak bisa disimpan sambil menunggu harga membaik.
Keberadaan bangsal pascapanen sangat membantu petani di Piyungan. Fasilitas ini menjadi solusi menjaga kestabilan ekonomi petani cabai.
Upaya pengawetan cabai juga dapat dilakukan dengan cara dikeringkan. Proses ini diawali dengan seleksi dan pencucian cabai merah keriting.
Menurut Benidzar M. Andrie, Zenal Abidin, dan Saepul Aziz dari Universitas Galuh, rendam cabai dalam larutan 10 gram natrium bisulfit per liter air selama 15 menit. Setelah itu, tiriskan dan keringkan dengan dehydrator bersuhu 90°C selama 3 jam.
Tim dari Universitas Galuh melakukan pelatihan pengeringan kepada kelompok tani di Desa Sindanglaya, Ciamis. Pengolahan cabai menjadi solusi agar harga tetap stabil.
