Para petambak udang di Kecamatan Langsa Barat, Kota Langsa, Provinsi Aceh, kerap mengeluhkan kegagalan budi daya udang. Mendengar hal itu, Program Studi Budidaya Perairan, Fakultas Pertanian, Universitas Samudra Langsa Aceh, mengirimkan Fauziah Azmi, S.Si., M.App.Sc.(Hons) dan beberapa mahasiswa untuk mengidentifikasi penyebab kegagalan tersebut.
Hasil penelitian menunjukkan sebagian besar kegagalan para petambak disebabkan oleh serangan penyakit. Para petambak tidak mengetahui nama penyakit itu. Mereka hanya menyebutkan beberapa gejala yang muncul sejak benur, misalnya benur naik ke permukaan air sebelum akhirnya mati.
Menurut Fauziah, gejala seperti itu umumnya bisa disebabkan oleh buruknya kualitas air akibat rendahnya kadar oksigen terlarut. Para petambak juga menyebutkan adanya kematian udang dengan gejala bercak putih. Fauziah menduga gejala itu merupakan serangan penyakit white spot syndrome virus (WSSV).
Kualitas air yang buruk menyebabkan udang stres dan sistem imun menurun sehingga mudah terserang penyakit. Gejala umum penyakit itu berupa bintik putih pada karapaks udang. Pada induk udang, warna putih berubah menjadi merah, serta terjadi kerusakan karapaks dan insang eksternal akibat parasit. Jika dibiarkan, udang dapat mati beberapa hari setelah terinfeksi. Tingkat kematian akibat penyakit itu mencapai 80%—100%.
Penyakit WSSV sering dipicu oleh stres lingkungan seperti suhu dan salinitas yang tidak stabil serta kualitas air buruk. Menurut Fauziah, kondisi itu pantas menyebabkan penyakit kerap muncul di lokasi tersebut. Hasil penelusuran tim menunjukkan sebanyak 93% petambak tidak melakukan pengukuran kualitas air tambak.
Seandainya para petambak telah mengenal inovasi Departemen Budidaya Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK), Institut Pertanian Bogor (IPB), kemungkinan kegagalan panen dapat dicegah. FPIK IPB berhasil mengembangkan produk probiotik bioremediator bernama Super Denox yang dirancang khusus untuk meningkatkan kualitas air tambak udang.
Menurut inovator produk sekaligus dosen Departemen Budidaya Perairan, FPIK IPB, Dr. Yuni Puji Hastuti, S.Pi., M.Si., Super Denox memanfaatkan mikroorganisme lokal Indonesia yang berfungsi dalam proses nitrifikasi dan denitrifikasi. Produk itu mampu mengendalikan senyawa nitrogen berbahaya seperti amonia dan nitrit serta menyeimbangkan nitrat. “Saat ini kami kembangkan juga probiotik berbasis bakteri heterotrof dan antibakteri patogen (vibrio),” kata Yuni.
Pengembangan Super Denox dilatarbelakangi masalah klasik akuakultur berupa akumulasi limbah nitrogen seperti amonia dan nitrit yang memicu stres hingga kematian udang. Dahulu seluruh produk probiotik bioremediator merupakan barang impor sehingga biaya produksi tinggi dan efektivitasnya belum tentu sesuai kondisi lokal Indonesia.
“Hal itulah yang mendorong kami menghadirkan solusi berbasis potensi lokal yang lebih terjangkau dan adaptif seperti probiotik ini,” tutur Yuni.
