Trubus.id-Institut Pertanian Bogor (IPB) mengembangkan program pengembangan padi terintegrasi dengan menggabungkan riset genetik, teknologi pertanian presisi, dan pemberdayaan petani dalam satu ekosistem berkelanjutan. Pendekatan itu terbukti mampu meningkatkan produktivitas padi hingga 32%.
Selain produktivitas meningkat, biaya produksi turun hingga 25%, rendemen gabah naik dari 63% menjadi 70%, dan harga jual gabah meningkat sekitar Rp200 per kg.
Dari sisi riset genetik, IPB telah melepas sejumlah varietas unggul seperti IPB 3S, IPB 11S, dan IPB 9G. Varietas IPB 3S memiliki potensi hasil mencapai 11,2 ton per hektare. Keunggulan lain varietas itu yakni tahan penyakit tungro, blas, dan hawar daun, hemat air dan pupuk, serta menghasilkan nasi pulen.
Tanaman IPB 3S juga memiliki karakter kokoh, malai lebat, umur genjah sekitar 112 hari, dan cocok dibudidayakan di lahan irigasi.
Sementara itu varietas IPB 11S toleran terhadap salinitas tinggi dengan umur panen sekitar 111 hari. Potensi hasilnya mencapai 11,5 ton per hektare dengan rata-rata produksi sekitar 7,7 ton per hektare. Varietas itu juga tahan wereng dan penyakit blas.
Adapun IPB 9G mampu beradaptasi baik di lahan sawah maupun lahan kering (gogo). Produktivitasnya mencapai 9—12 ton per hektare dengan umur panen sekitar 103 hari. Varietas itu juga dikenal hemat pupuk serta tahan terhadap wereng dan blas.
IPB turut memperkuat budidaya padi melalui pengembangan pupuk hayati multiguna Provibio Botani. Menurut inovator Provibio Botani, Prof. Dr. Ir. Dwi Andreas Santosa, M.S., pupuk itu mengandung sembilan mikrob fungsional yang bermanfaat meningkatkan kesuburan dan kesehatan tanah.
Penggunaan Provibio Botani mampu meningkatkan hasil panen padi sekitar 1—3 ton gabah kering panen (GKP) per hektare. Selain itu pupuk hayati tersebut dapat menekan penggunaan pupuk kimia hingga 25—30%, mempercepat proses pengomposan menjadi sekitar dua pekan, serta meningkatkan ketahanan tanaman terhadap serangan hama dan penyakit.
Program pengembangan padi IPB juga didukung pemanfaatan teknologi pertanian presisi seperti Automatic Weather Station (AWS) dan dron pertanian. Teknologi itu membantu petani menentukan jadwal tanam, pemupukan, pengendalian hama, hingga panen secara lebih akurat dan efisien.
Pendampingan petani dilakukan melalui pelatihan serta platform digital Digitani yang menghubungkan petani langsung dengan para pakar IPB. Hingga kini aplikasi itu telah menjangkau 33 provinsi dan menghubungkan sekitar 15.000 petani secara digital.
Integrasi inovasi tersebut menunjukkan bahwa kolaborasi antara riset, teknologi, dan pemberdayaan petani mampu meningkatkan efisiensi produksi sekaligus memperkuat ketahanan pangan nasional.
