TRUBUS.ID, MALANG — Tim Revolusi Kopi dari IPB University dan Universitas Negeri Malang (UM) mengembangkan pemanfaatan kulit kopi dan kotoran ternak sebagai bahan baku biogas melalui teknologi biodigester. Implementasi teknologi tersebut dilakukan melalui instalasi dan pelatihan penggunaan biodigester di Desa Sumberdem, Kabupaten Malang, pada 20 September 2026.
Teknologi biodigester tidak hanya menghasilkan biogas sebagai sumber energi, tetapi juga bio-slurry yang dapat dimanfaatkan kembali untuk pertanian. Pemanfaatan tersebut menjadi salah satu langkah Revolusi Kopi dalam membangun ekosistem kopi yang lebih berkelanjutan.
Biodigester tipe kantong atau bag digester yang digunakan relatif sederhana, portabel, serta mudah dipasang dan dipelihara. Melalui proses anaerobik, bahan organik dikonversi menjadi biogas sebagai sumber energi. Proses tersebut sekaligus menghasilkan bio-slurry yang berpotensi dikembalikan ke lahan sebagai pupuk organik.
Ketua Tim Revolusi Kopi, Dr. Yessie Widya Sari dari Center for Transdisciplinary and Sustainability Sciences (CTSS) IPB University, mengatakan program tersebut bukan sekadar transfer teknologi.
“Melalui Revolusi Kopi, kami berharap dapat membangun ekosistem kopi yang lebih berkelanjutan, tetapi solusinya benar-benar lahir, diuji, dan dikembangkan bersama masyarakat,” ujarnya.
Pendekatan tersebut menempatkan Desa Sumberdem sebagai living lab. Di lokasi itu, perguruan tinggi, masyarakat, pemerintah, dan mitra lainnya melakukan pembelajaran serta pengembangan solusi secara bersama.
Instalasi dan pelatihan biodigester mendapat dukungan su-re.co (Sustainability & Resilience), organisasi berbasis di Bali yang bergerak pada riset dan implementasi solusi keberlanjutan serta ketahanan iklim.
Kegiatan tersebut merupakan bagian dari Program Ekosistem Hidup Berbasis Sains dan Teknologi (Bestari Saintek), inisiatif Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) bersama Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP).
Program Bestari Saintek menggunakan pendekatan living lab untuk menjembatani hasil riset perguruan tinggi dengan kebutuhan nyata masyarakat melalui ko-kreasi, pengujian, dan adopsi inovasi. Pada periode 2025–2026, sebanyak 122 tim periset terpilih sebagai penerima Program Bestari Saintek.
Direktur Diseminasi dan Pemanfaatan Sains dan Teknologi, Direktorat Jenderal Sains dan Teknologi, Kemdiktisaintek, Prof. Yudi Darma, mengapresiasi kolaborasi multipihak dalam Revolusi Kopi. Ia mendorong masyarakat dan kelompok tani aktif menyampaikan persoalan yang dihadapi di lapangan.
“Bapak-Ibu jangan sungkan menyampaikan kalau ada masalah di lapangan. Sampaikan kepada tim IPB dan UM. Justru dari persoalan-persoalan itulah kita dapat mencari solusi bersama melalui sains dan teknologi,” pesannya kepada para peserta saat menghadiri kegiatan pelatihan.
Kepala Desa Sumberdem, Purwati, SE, berharap program tersebut dapat berkelanjutan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
“Kami berharap kegiatan Revolusi Kopi tidak berhenti pada satu kegiatan saja, tetapi terus berlanjut dan memberikan manfaat bagi masyarakat Sumberdem, termasuk dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” ujarnya.
Ke depan, pembelajaran dari biodigester akan dikembangkan bersama masyarakat dan diintegrasikan dengan ketertelusuran digital kopi, penguatan kelembagaan dan kapasitas SDM, pemanfaatan residu kopi, serta pengembangan ekonomi sirkular desa.
Sumber: https://www.ipb.ac.id/news/index/2026/09/revolusi-kopi-ipb-university-dan-um-ubah-limbah-kopi-dan-ternak-menjadi-energi-bersih-di-sumberdem/
