Monday, August 15, 2022

Irama Hidup Karena si Busung Dada

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

Usai bermain tenis lapangan hingga pukul 08.00, ia rela membersihkan kandang, menjemur, dan memberi pakan kepada serama serama koleksinya. Satu setengah jam kemudian, barulah ia berangkat ke kantor.

Tony Sutrisno memang tak tanggung-tanggung memelihara serama. Alumnus Luthon University, Inggris, itu terus membeli serama bermutu bagus hingga berjumlah 22 ekor. Harganya? Paling murah saja Rp10-juta seekor. Beberapa serama mencapai Rp35-juta. Itu bukti keseriusan Tony memelihara serama berkualitas kontes. Contohnya, Snowy, Bimasena, dan Sultan yang merebut jawara di kontes serama Bandung akhir Mei 2005.

Ayam liliput itu mencuri hati warga Bintaro, Kabupaten Tangerang. Cinta Tony akhirnya tertambat juga pada serama. Semua berawal dari tak kesengajaan ketika ia melihat kontes serama Indonesia Satu di Pasar Seni Jaya Ancol, Jakarta Utara. “Kalau melihat sosoknya di majalah sudah, tapi secara nyata belum. Ternyata cantik juga,” kata ayah 1 anak itu. Kesabaran untuk memiliki satwa klangenan itu seolah sirna. Seekor serama berumur 3 bulan dibeli saat itu. Sekujur tubuh bahkan kepala dan kaki diselimuti bulu hitam, mirip cemani.

Sejak itulah Tony terus membeli serama bermutu bagus hingga berjumlah 22 ekor. Sang liliput juga mempe ro l e h limpahan kasih sayang dari anak semata wayang Tony, Gabriel Bimasena Sutrisno. Bocah 6 tahun itu kerap mengajak serama menonton televisi. Sembari menyaksikan tayangan di layar kaca, Bimasena mengelusngelus bulu lembut Abang Deni, salah satu serama favoritnya. Padahal, murid kelas 1 Sekolah Dasar itu alergi debu. Toh itu tak menjadi penghalang untuk melampiaskan hobinya membelai sang liliput. Untuk i t u l a h Tony perlu memandikan serama minimal sekali dalam sepekan. Dengan demikian bulu tetap sehat, bersih, dan mengkilap.

Kontes

Kesibukan seperti memandikan, memberi pakan, dan menjemur serama senantiasa mewarnai hari-hari Tony. “Saya memastikan jumlah pakan yang diberikan cukup,” kata pria 41 tahun itu. Pakannya berupa voer yang dicampur sedikit gabah dan milet. Potongan pepaya dan tauge diberikan seminggu 5 kali dengan dosis setengah sendok makan. Bahan itu untuk mencukupi kebutuhan serat sekaligus pencernaan.

Dengan pakan bergizi, diharapkan satwa klangenannya tampil optimal. Ketika diikutkan lomba bgus-bagusan gelar terbaik pun diraih. Di situlah kepuasan Tony setiap kali memelihara hewan. “Saya senang satwa untuk kompetisi,” katanya. Tidak hanya serama yang jagoan kontes. Satwa apa pun yang ia gandrungi acap menyabet gelar terbaik.

Buktinya, pada 1994 ia menyukai chow chow yang berprestasi di ajang bagus bagusan. Namun, anjing bermuka singa itu dijual karena perawatnya takut. Anjing pergi digantikan burung ocehan. Sebanyak 75 burung berbagai jenis menghuni ruangan di samping kantornya. Mereka acap meraih juara di berbagai lomba. Beragam satwa koleksinya itu bakal ditempatkan di rumahnya yang baru dibangun. Kicauan burung dan kokok ayam pada pagi hari membangkitkan rindu pada suasana kampung.

60 serama

Tony Sutrisno bukan satu-satunya yang menggandrungi serama. Di Taman Modern, Kabupaten Tangerang, ada Edy Sebayang. Setiap pagi kokok bersahutan 60 serama membahana di halaman belakang rumahnya. Unggas liliput itu bagai menyambut datangnya pagi. Ke deretan kandang itulah Edy Sebayang beranjak setiap kali usai bangun pagi. Direktur sebuah produsen partikel papan itu lekat memandangi serama-serama koleksinya. Sesekali ia menjemur, memberikan pakan, dan mengelus dada busung ayam termungil di dunia. Banyaknya koleksi menyebabkan pria paruh baya itu tak mampu menyambangi satu per satu seramanya saban pagi.

Meski demikian koleksi favoritnya, Datuk, tak pernah terlewatkan. Ayam jantan berumur 18 bulan itu tampil elegan. Ketika senja tiba ayah 3 anak itu mendatangi ayam yang belum ditengok saat pagi. Begitulah keseharian Edy Sebayang. “Kalau ada serama terasa tenang. Mendengar kokoknya bisa meredam marah. Kecantikan dan polahnya jadi pengobat stres,” ujarnya.

Untuk dapat menikmati keunikan unggas mini itu ia memang harus mengeluarkan rupiah tak sedikit. Harap mafh um harga serama cukup mahal, jutaan rupiah per ekor. Sebagai direktur, harga memang bukan masalah baginya. Hambatannya adalah sulit mencari ayam bermutu dengan menyambangi importir-importir serama di Jakarta. Jika ada sosok yang berkualitas ia langsung memborongnya. Awalnya 5 ekor langsung dibawa pulang. “Serama boleh untuk dipelihara. Lucu dan unik,” ujar pria berkaca mata itu

Sejak itu kecintaannya terhadap serama seperti tak terbendung. Edy terus menambah koleksinya hingga berjumlah 60 ekor dengan membeli melalui importirimportir di Jakarta. Itu saja belum cukup. Di halaman kantornya yang dicapai 15 menit dari rumah, ia menempatkan 3 pasang serama. Kemolekan serama dapat dinikmati kapan pun ia mau. “Ada keasyikan tersendiri bila memegang ayam atau memberi pakan. Apalagi, kalau sudah bertelur dan menetas, rasanya nikmat sekali melihatnya,” katanya.

Setelah koleksinya memadai, ia berencana untuk beternak serama. Di halaman belakang rumahnya ia telah membangun 31 kandang. “Saya ingin mendapatkan k e t u r u n a n serama yang bagus,” katanya. Ayam sejatinya bukan hal baru baginya. “Saya menyukai sejak kecil,” kata Edy. Sebelum mengenal serama, ia menggemari bekisar dan pelung karena kokoknya yang merdu. Kemudian cintanya tertambat pada ayam katai jepang. Maka ayam mungil itu menghiasi halaman rumahnya. Hingga kini puluhan burung berkicau seperti anis merah, muraibatu, dan cucakjenggot menghiasi sudut-sudut ruangan.

Dikonteskan

Kehadiran ayam memberikan nuansa tersendiri di rumah Raden Mas Nuryanto, hobiis di Yogyakarta. A p a l a g i , sejak kecil ia dibesarkan di l i ngkung an p e n g g e m a r ayam. Tak heran, bila semua jenis ayam pernah dipeliharanya.

Bagi Nuryanto, sosok serama unik dan menggemaskan. Penampilannya kecil, tetapi pemberani yang membuatnya kagum. Tubuh kecil, kepala, dan kaki yang proporsional menjadi daya tarik tersendiri. Apalagi, variasi warna bulu beragam. “Warna favorit saya, blorok atau rinting mirip polkadot,” ujar alumnus Akademi Militer Nasional pada 1964.

Atas jasanya, serama dikenal hobiis Kota Gudeg itu. Kebetulan di kediamannya ndalem Suryowijayan, Yogyakarta, digelar kontes kenari. Saat itu banyak hobiis kenari yang tertarik membeli serama koleksi kelahiran Yogyakarta, 9 Januari 1944.Semula Nuryanto enggan menjual serama karena sekadar hobi. Namun, ia akhirnya melepas beberapa ekor agar serama marak di Yogyakarta. “Sejak itu ayam mulai diminati hobiis Yogyakarta,” kata ayah 4 anak itu.

Saat ini sebanyak 50 ekor serama berbagai ukuran menghiasi rumahnya yang asri. Ayam-ayam itu diperoleh dari Ajong, penangkar di Pulomas, Jakarta Timur. Harganya bervariasi, tergantung corak dan ukuran tubuh rata-rata Rp2-juta—Rp5-juta. Ada juga serama yang mahal seharga Rp10-juta bermotif polkadot, sehingga dinamakan dalmatian.

Tak hanya sekadar hiasan di rumah, serama milik Nuryanto juga acap kali meraih juara di kontes. Contoh Romo Wijoyo menyabet juara ke-2 kelas dewasa sekaligus favorit penonton di kontes Plaza Kedaung Table Top, Maret 2005. Serama lain silih berganti mengukir prestasi di kontes kedua yang diselenggarakan di Sekolah Tinggi Penyuluhan Pertanian, Yogyakarta. Bagi Tony, Edy Sebayang, Nuryanto, dan hobiis lain serama memberi irama dalam kehidupan mereka. (Nyuwan Susila Budiana/Peliput: Dewi Nurlovi)

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img