Monday, August 8, 2022

Irit Pakan Bobot Menjulang

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

Dengan memangkas duapertiga biaya pakan, penambahan bobot sapi minimal 1,1 kg per hari.

Setiap hari 10 pekerja berkeliling di lahan seluas 120 ha di Cikeas, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, itu. Mereka mencabut rumput dan rumput gajah, menggali batang singkong beserta daun dan umbinya, batang jagung, daun, dan tongkolnya, rumpun kacang tanah beserta polongnya, serta memanen batang pisang, daun, dan buahnya. Selanjutnya mereka mencacah biomassa itu hingga berukuran 10-15 cm. Dalam bentuk itu hijauan diberikan sebagai pakan pada 200 sapi potong yang dipelihara dengan sistem kandang kelompok tipe ganda.

 

Setiap ekor mendapat 20 kg pakan hijauan. Artinya setiap hari pekerja mesti menyediakan 4 ton hijauan. “Dengan menyediakan pakan sendiri ongkosnya hanya Rp70-Rp100 per kg. Jika membeli dari orang lain biayanya minimal Rp400 per kg,” tutur Ir Beni Irawan dari Lembaga Pengembangan Usaha Peternakan (LPUP) Universitas Trisakti, pengelola lahan itu.

Keruan saja pakan hijauan belum mencukupi kebutuhan nutrisi sapi. “Idealnya untuk mencapai penambahan bobot di atas 1 kg per hari kita harus memberikan pakan 10% bobot ternak dengan perbandingan hijauan dan konsentrat 1:3,” kata Prof Ali Agus DAA DEA, guru besar Fakultas Peternakan Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Namun, cara itu jelas terlalu mahal sehingga yang terjadi di lapangan justru sebaliknya.

Konsentrat terbuat dari campuran berbagai bahan, seperti onggok, ampas tahu, atau dedak yang tinggi kandungan protein, lemak, dan mineral. Kandungan-kandungan itu dibutuhkan untuk meningkatkan bobot sapi melalui pertambahan daging, bukan lemak. Harga pakan konsentrat mahal, Rp1.800-Rp2.300 per kg. Dengan memberi 20 kg pakan hijauan, Beni dan pekerja di LPUP cukup memberi 2-3 kg pakan konsentrat per ekor sapi atau perbandingan 10:1 atau 7:1. Artinya pemberian pakan hijauan tinggi memangkas 90% biaya pakan konsentrat.

Pakan kombinasi

Biaya kian ditekan jika peternak mampu mencari bahan pengganti konsentrat yang lebih murah. Pekerja di LPUP membuat konsentrat terbuat dari campuran onggok (ampas tapioka), dedak, dan kulit kacang. Ongkok dapat digantikan dengan bungkil kelapa, bungkil sawit, tepung tulang, tepung darah, ikan rucah, dan bahan lain sumber protein tinggi. Hitung-hitungan Beni, biaya pembuatan konsentrat di farm-nya Rp1.600 per kg.

Untuk melengkapi nutrisi sapi, Beni juga memberi ramuan herbal berbahan antara lain temuhitam Curcuma aeruginosa, temulawak Curcuma xanthorrhiza, dan daging buah pinang Areca catechu. Herbal-herbal pengganti obat-obatan sintetis itu menambah nafsu makan, mengatasi cacingan, sekaligus meningkatkan daya tahan tubuh. Dengan demikian sapi tumbuh sehat.

Cara pemberian dengan menumbuk halus semua bahan. Lalu tambahkan gula merah dan garam secukupnya kemudian larutkan dalam air. Ramuan itu bisa dicomborkan langsung dengan botol atau diberikan dalam air minum setiap 3 bulan.

Dengan kombinasi pakan hijauan, konsentrat, dan herbal itu bobot sapi naik rata-rata 1,1-1,6 kg per hari. Hasil itu tergolong tinggi. “Biasanya penambahan bobot sapi dengan dominasi pakan hijauan kurang dari 1 kg/hari,” kata Ali Agus. Apalagi itu didapat dengan ongkos lebih murah. Dengan perlakuan ideal, perbandingan hijauan dan konsentrat 1:3 Agus Arifudin, peternak di Magelang, Jawa Tengah, mengeluarkan biaya Rp22.000 per hari. Itu untuk mencapai pertambahan bobot harian (ADG, average daily gain, red) di atas 1 kg/hari.

Hitung-hitungan P Abrianto W Wibisono, rekan Beni, pengeluaran untuk pakan hijauan, konsentrat, dan herbal ala Cikeas paling hanya Rp7.000 per hari alias hanya sepertiga biaya “normal”. Padahal pertambahan bobot harian relatif sama. Di kalangan peternak, program penghematan pakan sangat penting. Sebab biaya pakan menyedot 70-80% total biaya produksi. “Artinya ketika peternak bisa menghemat biaya pakan, laba didapat lebih besar,” tutur Ali Agus.

Bobot rata-rata sapi di LPUP naik menjadi 350-450 kg setelah 3-4 bulan perawatan dari bakalan berbobot 250 kg. Di rumah pemotongan hewan (RPH), karkas sapi hidup dibanderol Rp52.000-Rp53.000 per kg. Itu berarti dari setiap ekor sapi LPUP mendulang pendapatan Rp10,4-juta. Setelah dikurangi biaya pakan Rp800.000 selama 4 bulan dirawat dan harga bakalan sekitar Rp5-juta, mereka masih mengantongi laba hampir Rp5-juta per ekor.

Signifikan

Sukses menekan biaya budidaya bukan berarti aman 100% dari kerugian. Masih ada 1 titik rawan: transportasi. Perpindahan tempat, kadang sampai ratusan kilometer dari kandang ke pejagalan, mengakibatkan kehilangan bobot pada sapi. “Susutnya bisa sampai 2% total bobot,” kata Abrianto. Artinya, sapi seberat 400 kg akan kehilangan 4 kg-sebuah kehilangan yang cukup berarti.

Mengantisipasi hal itu, LPUP mempunyai RPH mini yang cuma berkapasitas 1 sapi, berjarak tidak sampai 50 m dari kandang. RPH itu dilengkapi timbangan digital di sebelah tempat pemotongan. Setelah ditimbang, sapi digiring ke sel pemotongan, lalu disembelih. Tidak ada susut bobot yang terjadi. Pada hari biasa, saat jumlah sapi yang dibesarkan kurang dari 200 ekor, RPH mini itu biasa melayani penyembelihan sapi dari masyarakat.

Menurut Gunawan-anggota pengurus LPUP, profit usaha ternak sapi di LPUP memang jauh di bawah standar industri feedlot. Namun, cara mereka berhemat pakan tapi tetap tinggi produksi bisa ditiru peternak skala kecil, terutama pada lini pembesaran. (Argohartono Arie Raharjo)


Keterangan Foto :

  1. Sapi perlu pakan harian 10% bobot tubuh
  2. RPH mini di LPUP juga dimanfaatkan masyarakat
  3. Temuhitam, rimpang multiefek
  4. Bungkil sawit bisa menggantikan onggok untuk bahan konsentrat
- Advertisement -spot_img

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img