Wednesday, August 17, 2022

Jack Jadi Bakpao

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

Waluh bukan sekadar bahan lentera jack saat halloween, tapi potensial sebagai bahan beragam penganan lezat.

 

Malam 31 Oktober itu kian menua. Sebuah lilin dalam kurungan buah labu parang alias lentera jack menjadi sumber cahaya bagi banyak pengunjung kafe di Bandung, Jawa Barat, yang mengenakan pakaian serbahitam. Mereka merayakan hari Halloween dalam cahaya temaram. Keruan saja faedah buah Cucurbita moschata bukan sekadar menghalau gelap sebagai lentera jack, tetapi juga membangkitkan selera.

Di tangan Didik Supriadi, buah anggota keluarga Cucurbitaceae itu menjadi bakpao kukus, bakpao goreng, lumpia, brownies, bakpia, bolu, hingga kerupuk. Semua penganan itu berbahan dasar labu parang alias waluh. Bakpao kukus, misalnya, rasanya lezat, apalagi ketika gigitan di bagian tengah tepat mengenai keju, sesaat lumer di lidah sehingga  terasa perpaduan manis, lembut, dan gurih.

Makanan sehat

Didik Supriadi, produsen penganan di Malang, Provinsi Jawa Timur, rutin mengolah waluh sejak November 2004. Kini ia menghabiskan hingga 50 kg daging buah waluh setiap hari. Ia mencampur daging buah waluh dan terigu dengan perbandingan 2 : 1. Ayah dua anak itu menjajakan beragam penganan olahan waluh di kedainya di Karangploso, Kotamadya Malang. Dari perniagaan itu, ia meraup omzet Rp27-juta sebulan.

Hasrat mengolah buah kerabat mentimun itu karena prihatin waluh terisa-siakan. Malang salah satu penghasil waluh. Namun, biasanya pekebun hanya menjual buah segar di pasar tradisional atau di tepian jalan. “Karena jarang diperhatikan, waluh kurang bernilai ekonomis,” kata Wati yang membantu Didik mengolah waluh. Saat itu harga waluh di pasaran tak lebih dari Rp1.000 per kg. Bila sebuah waluh berbobot 5 kg, maka harganya hanya Rp5.000.

Namun, setelah Didik mengolah labu kuning itu, harga komoditas itu merangkak naik. “Setelah berhasil membuat bakpao waluh, harga waluh sampai 2.000 per kilo, bahkan ketika tidak musim, harga sampai Rp5.000,” tutur Wati. Selain bakpao, banyak jenis olahan lain waluh. Nurdjanah, umpamanya, bersama Kelompok Wanita Tani Mardi Rahayu di Getasan, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah, memanfaatkan waluh sebagai bahan beragam penganan seperti geplak, wingko, stik, emping, pia, dan gelek.

Lazimnya bahan baku utama geplak adalah kelapa, wingko menggunakan tepung beras, dan emping memanfaatkan daging buah melinjo. Adapun stik, pia, dan gelek lazimnya semua berbahan tepung terigu. Namun, perempuan 62 tahun itu menggantikan bahan-bahan tersebut dengan buah waluh. Ia mengolah 20 kg waluh per hari menjadi beragam olahan sejak 1990-an. Nurdjanah menjajakan beragam olahan buah waluh itu di rumahnya sendiri.

Nanik Daryanti di Desa Getasan, Kecamatan Getasan, Kabupaten Semarang, juga mengolah waluh menjadi beragam penganan seperti stik. Setelah menambahkan beragam bumbu, Nanik mengepres daging buah waluh dengan alat pembuat mi dan menggoreng hingga matang. Alumnus Universitas Surakarta itu membutuhkan 25 kg waluh setiap hari. Dari perniagaan penganan berbahan waluh itu, Nanik meraih omzet Rp7,5-juta per bulan.

Fortifikasi

Peneliti pascapanen di Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Kalimantan Tengah, Elmi Kamsiati, menuturkan waluh merupakan bahan pangan yang menyehatkan. Namun, selama ini labu parang belum termanfaatkan secara optimal. “Penyebabnya adalah keterbatasan pengetahuan masyarakat akan manfaat labu kuning,” tuturnya. Padahal, daging buahnya mengandung antioksidan dan betakaroten yang tinggi.

Warna kuning pada buah indikator waluh mengandung betakaroten yang tinggi. Di dalam tubuh manusia, karoten diubah menjadi vitamin A yang berguna untuk tubuh terutama pada masa pertumbuhan. Selain itu waluh juga mengandung karbohidrat dan beragam vitamin. Dengan kelebihan itu, menurut guru besar Teknologi Pangan Universitas Gadjah Mada, Prof Murdijati Gardjito buah waluh cocok sebagai  bahan biofortifikasi produk pangan olahan. Fortifikasi merupakan cara untuk meningkatkan kandungan suatu komponen gizi produk pangan.

Caranya dengan menambahkan bahan pangan tertentu seperti labu kuning pada makanan lain seperti bakpao. “Labu kuning sangat cocok ditambahkan ke berbagai makanan untuk mengurangi penggunaan terigu,” tuturnya. Selama ini, Indonesia masih mengimpor tepung terigu hingga 6-juta ton per tahun. Elmi mengatakan fortifikasi dapat dilakukan dengan menambahkan labu kuning segar pada pembuatan es krim, roti, dan produk pangan lain kegemaran anak-anak.

“Fortifikasi dapat berperan untuk mengatasi masalah kekurangan gizi mikronutrien di Indonesia,” kata Elmi. Menurut Murdijati kandungan karbohidrat dan kalsium labu kuning sangat tinggi, masing-masing 6,6 g dan 45 mg per 100 gram buah “Buah yang  dikukus dan dimakan langsung 70 gram per hari, sudah mencukupi gizi untuk anak-anak,” kata Murdijati. (Bondan Setyawan)

Gizi Waluh


 

Keterangan Foto :

  1. Bakpao kukus dan goreng asal labu parang
  2. Prof Murdijati Gardjito, konsumsi 70 gram labu parang per hari sudah mencukupi kebutuhan gizi anak-anak
  3. Bakpao dan lumpia waluh cocok dijadikan teman ngopi
- Advertisement -spot_img

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img