Peristiwa buruk seperti dialami pembudidaya kepiting soka di Desa Pasarsebelah, Kabupaten Mukomuko, Provinsi Bengkulu, jangan sampai terulang lagi. Pada 2016, para pembudidaya kepiting soka di sana berhenti berproduksi. Alasannya, sumber air untuk budi daya kepiting lunak itu telah berubah dari air payau menjadi tawar sejak penutupan muara di wilayah itu.
Menurut peneliti Program Studi Akuakultur, Fakultas Pertanian, Perikanan, dan Kelautan, Universitas Bangka Belitung, Muhammad Haikal, perubahan jenis air dari payau menjadi tawar memengaruhi aktivitas pergantian cangkang lama menjadi baru (molting) kepiting bakau menjadi kepiting soka. Itu terbukti dalam penelitian Haikal yang termaktub dalam jurnal Amreta Meena, Volume 2, Nomor 1, 2025.
Tingkat keasaman
Hasil penelitian itu menunjukkan, pemeliharaan kepiting bakau pada salinitas 10 ppt dengan mutilasi kaki selain capit mencapai molting tercepat yaitu 7,08—50,71 hari. Sementara kepiting bakau yang dipelihara pada salinitas yang lebih rendah, yaitu 4 ppt, dengan kondisi yang sama, belum mencapai molting hingga 40 hari.
Meskipun pembudidaya di Desa Pasarsebelah tidak lagi membudidayakan kepiting soka, mereka terpaksa kembali melakukan penangkapan kepiting bakau di alam.
Sebanyak 21 orang di wilayah itu menjual kepiting hasil tangkapan ke Padang, Provinsi Sumatera Barat. Padahal sebelumnya Desa Pasarsebelah merupakan pemasok kepiting soka hasil budi daya hingga Jakarta dan Semarang, Provinsi Jawa Tengah.
Menurut pembudidaya kepiting di Kota Surabaya, Tonny Berthiolios, menjaga kadar garam atau salinitas air memang paling utama dan harus diperhatikan. Berdasarkan pengalaman Tonny, kadar garam yang paling baik yakni 15—25 ppt.
Tingkat keasaman atau pH air juga tak kalah penting. Jika pH terlalu tinggi atau basa, umumnya kepiting menjadi sulit molting atau ganti kulit. Pasalnya, kadar kalsium pada kulit kepiting terlalu tinggi sehingga menyulitkan molting.
Bagi yang memproduksi kepiting soka, hal itu tentu sangat merugikan. Ia pernah melihat beberapa kasus kulit kepiting menjadi putih karena terlalu banyak menggunakan kalsium bikarbonat. Akhirnya kepiting tidak bisa molting.
“Tingkat pH yang bagus harus 6,5—7,5,” kata pemilik PT Crab Aquatic itu.
Untuk menjaga agar pH air jangan terlalu rendah atau asam, bisa menambahkan kalsium karbonat atau dolomit. Kalau menggunakan kalsium karbonat, sebaiknya tambahkan juga magnesium oksida.
Temperatur air juga sebaiknya dijaga pada suhu 27°C—33°C. Idealnya 30°C. Menurut Tonny, air terlalu dingin mengurangi nafsu makan kepiting dan membuat gagal molting. Gunakan pemanas atau heater untuk menaikkan suhu air.
Yang tak kalah penting menjaga agar air kaya oksigen. Jika pembudidaya kepiting menggunakan vertical crab house untuk budi daya, kandungan oksigen terlarut di dalam air tidak menjadi masalah.
Pasalnya, terdapat kucuran air dalam setiap boks sehingga jumlah oksigen terlarut dalam air cukup tinggi. Jika kepiting dibudidayakan di dalam kolam terpal, kebutuhan oksigen itu harus ditambahkan dari luar. Misal dengan memasang aerator, pompa dengan semburan air, atau kincir air. Tujuannya agar kandungan oksigen dalam air menjadi tinggi.
