Tuesday, July 23, 2024

Jagung Sakti dari Andalas

Rekomendasi
- Advertisement -

Tak hanya Tua Gila yang sakti di Bumi Andalas. Jagung andalas pun tangguh, ia sanggup menangkis penyakit bulai, momok pekebun jagung di Nusantara.

Bukan tanpa alasan jagung andalas disejajarkan dengan Tua Gila. Saat uji tanding melawan 3 jagung—yang kesohor—asal mancanegara, ia menang telak mengatasi penyakit bulai cendawan Peronosclerospora maydis. Lebih dari 60% jagung andalas dapat dipanen dengan kualitas bagus. Tiga pesaingnya keok, 40—60% jagung yang ditanam porak poranda.

Tak hanya itu keunggulan jagung andalas. Hasil pengujian yang dilakukan oleh H Sukri Suid—sang penemu—sejak 1997 menunjukkan jagung andalas tahan rebah, busuk tongkol, hawar daun, dan karat daun. Daya adaptasinya juga luas, dari wilayah 60—1.200 m dpl. “Ia dapat ditanam di pesisir pantai hingga ke pegunungan,” kata Sukri. Ia kian menarik hati pekebun lantaran saat panen, batang dan daun masih hijau. Itu menjadi nilai tambah karena batang dan daun hijau dapat dimanfaatkan sebagai pakan ternak.

Butir mutiara

Butiran jagung andalas berjenis mutiara dan berwarna jingga. Itu sangat disukai pabrik pakan ternak sehingga pekebun mudah memasarkan. Tongkolnya panjang dan silindris. Batang kokoh dan perakaran kuat. Ia dapat ditanam di daerah berpasir dan berangin kencang. “Tak perlu khawatir rebah,” kata Sukri.

Selain itu jagung andalas respon terhadap pemupukan dan tahan kemarau. Pantas potensi hasil anggota keluarga Gramineae itu mencapai 13 ton per ha. Di tingkat pekebun, rata-rata 9 ton per ha. Padahal, rata-rata produksi jagung sekitar 3—4 ton per ha.

Satu lagi kelebihan jagung andalas. Daya kecambah benih di atas 90%. Oleh karena itu kebutuhan benih hemat, per hektar 20 kg. Pasalnya, 1 lubang tanam cukup 1 benih.

Penanaman lebih dari 1 justru menyebabkan persaingan antarbenih. Lazimnya benih jagung lain butuh 24 kg karena memakai 3 benih untuk dijarangkan.

 

8 tahun

Jagung andalas ditemukan oleh Sukri Suid—pekebun di Solok—yang gemar menyilangkan berbagai jenis tanaman. Sejak 1976 suami Elifwarda itu menanam jagung lokal di pinggiran kebun cabai dan cengkih seluas 1 ha. Hingga 1982 jagung terus ditanam dari benih asal panen sebelumnya yang terbaik. Selama 6 tahun itu Sukri melihat ada perubahan sifat. “Produksi turun 40%, ia juga nggak tahan musim hujan,” katanya.

Pada musim hujan di awal 1982 ia mengunjungi seorang sahabat di Sangir, Kabupaten Solok Selatan, yang bekerja di tambang emas. Ketika itu ia berjalan kaki melintasi sungai dan beberapa nagari lantaran belum ada kendaraan umum. Di sebuah nagari—di dataran rendah—ia melihat kebun jagung tumbuh subur. “Kok, musim hujan hasilnya bagus, tidak terkena bulai,” katanya. Sayang, butiran jagung lokal yang ia temukan kecil-kecil, 350—400 butir per 100 gram.

Meski demikian ia tergerak menanam jagung istimewa itu. Selama 5 generasi Sukri menanam dan menyeleksi jagung tahan bulai. Delapan tahun kemudian jagung temuannya mulai dikawinkan dengan jagung di kebun. Jumlahnya sekitar 100 batang. Bunga jantan dipilih dari jagung tahan bulai, tahan hujan, dan berbulir kecil. Betina berasal dari jagung berproduksi tinggi. Luar biasa, hasil persilangan itu menghasilkan jagung unggul. Tahan rebah, tahan bulai, dan berbutir besar. Jumlahnya 300—350 butir per 100 gram.

Penelitian pekebun itu berlanjut. Pada 1997 jagung temuannya diuji di Solok Selatan, Pasaman, Payakumbuh, (Sumatera Barat); Ngawi (Jawa Timur); Brastagi, Medan, (Sumatera Utara); dan Maros (Sulawesi Selatan). Penanaman di berbagai sentra membuktikan jagung karya Sukri beradaptasi luas, sehingga pada akhir 1999 dilepas Departemen Pertanian sebagai jagung andalas generasi A4.

Ketangguhan jagung andalas tak sampai di situ, pertengahan 2005, Sukri bersiap melepas jagung yang lebih sakti. Jagung andalas generasi A5. Itu kabar baik buat pekebun jagung di Indonesia. “Saya bersyukur, bila jagung seperti itu muncul,” kata Fred Rumawas, ahli jagung di Bogor. (Destika Cahyana)

- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Pakai IoT di Kebun Jeruk, Hasil Panen Optimal

Trubus.id—Penggunaan internet of things (IoT) untuk pertanian turut membantu meningkatkan hasil panen dan kualitas produk. Pekebun jeruk di...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img