Wednesday, August 10, 2022

Jahari B Iskak Menambang Rupiah dari Limbah

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

Pagi itu 2 mesin berkekuatan 30 PK dan 24 PK menderu sejak pukul 08.00. Seorang pekerja dengan sigap memasukkan potongan sabut ke dalam corong di salah satu ujung mesin pencacah. Dua belas pasang pisau baja di dalam mesin serta-merta merajang dan memisahkan serat dari sabut. Serat lantas keluar dari ujung mesin lainnya.

 

Di situ sudah ada 1 pekerja lain yang mengangkut serat untuk dibawa ke halaman pabrik. Di sana serat sabut kelapa itu dijemur di bawah matahari hingga kering. Lamanya sehari bila matahari terik. Saat hujan bisa 2 hari.

Maklum, importir asal China yang menjadi mitra Jahari menghendaki serat berkadar air maksimal 15%. Serat itu lalu dipadatkan dengan mesin pres sehingga berbentuk balok berukuran 1 m x 1 m x 0,6 m dengan bobot rata-rata 115 kg. Setiap 2 hari 4 ton cocofiber padat itu dikirim ke Tangerang menggunakan truk. Dari sana serat sabut Cocos nucifera diekspor ke China. Di negeri Tirai Bambu serat sabut kelapa diolah menjadi beragam produk seperti jok kursi mobil dan kasur pegas.

Olah limbah

Untung saja Jahari yang semula berdagang kelapa tak patah arang waktu harga buah anggota famili Arecaceae itu terus merosot. Pada 2003 lulusan sekolah menengah atas itu berhitung. Usaha sebagai pengepul kelapa tidak lagi menguntungkan. ‘Selisih harga beli dari pekebun dan harga jual di pasar hanya Rp200/kg. Cuma cukup untuk membayar ongkos angkutan,’ kenang Jahari.

Pria 40 tahun itu lantas memutuskan untuk banting setir. Kampungnya di Desa Sukatani, Kecamatan Wanasalam, Kabupaten Lebak, Banten, itu surga kelapa. Hampir setiap kepala keluarga mengebunkan kerabat pinang itu. Mereka memetik buah kelapa tua, mengupas kulitnya, lalu menjual buah tua kepada para pengumpul. Total produksi di sana puluhan ton kelapa butiran per tahun untuk memenuhi kebutuhan pasar-pasar tradisional di kawasan Lebak, Serang, dan Tangerang.

Di tangan pekebun, sabut kelapa jadi limbah yang ditumpuk hingga menggunung di belakang rumah. Buat Jahari itu peluang usaha: sabut diolah jadi tinggal seratnya saja. Di pasar dunia harga cocofiber lumayan mahal. Per ton US$250 setara Rp2.500/kg. Serat itu dipakai sebagai pengisi jok mobil-mobil mewah.

Berbekal sisa tabungan hasil penjualan kelapa dan mesin pemisah serat hibah dari pemerintah, Jahari menyewa lahan 50 m2 di samping penggilingan padi. Sabut kelapa di rumah-rumah warga diangkut gratis. ‘Pekebun justru berterima kasih karena halaman mereka menjadi bersih,’ ujar pria asli Lebak itu.

Meski belum ada pasar, Jahari mulai memproduksi cocofiber. ‘Serat sabut kelapa kan kuat. Disimpan lama pun awet,’ katanya. Setiap hari ia menghasilkan 300 kg serat. Hari demi hari serat sabut kelapa mulai menggunung. Jahari resah pasar cocofiber masih gelap. Industri pengolahan serat masih asing sehingga belum dilirik konsumen.

Pucuk dicinta ulam tiba. Seorang rekan asal Sukabumi mengabari eksportir asal China di Tangerang butuh pasokan serat kelapa. Produk contoh pun dikirim. Bak gayung bersambut, sang eksportir langsung sepakat menandatangani kontrak dengan harga beli Rp800/kg. Jahari masih bisa mengutip laba Rp200 per kg karena bahan baku gratis.

Rakitan sendiri

Baru 6 bulan berjalan, serentetan kendala mulai menghampiri. Mesin hibah pemerintah daerah rusak berat. Pisau-pisau baja untuk mencabik sabut patah sehingga mesin tak bisa digunakan. Jahari terpaksa menghentikan produksi.

Enggan melepas peluang yang sudah digenggam, pria berkacamata itu memutar otak untuk merakit sendiri mesin baru. ‘Rancangan mesin yang rusak itu saya tiru. Pisaunya saya ganti dengan baja yang lebih tebal,’ tuturnya. Setelah tiga kali perakitan ulang, mesin berkapasitas 300 kg serat per hari itu berjalan tanpa hambatan.

Setahun berjalan, permintaan serat sabut kelapa semakin deras mengalir. Banyak eksportir berdatangan mencari pasokan. Maklum, ketika itu baru Jahari yang memproduksi serat kelapa. Permintaan juga datang dari pengusaha asal Tangerang. Di sana serat diolah menjadi saringan dan tali tambang, lalu diekspor ke berbagai negara. Tingginya permintaan turut mendongkrak harga menjadi Rp1.000, Rp1.200, Rp1.600 hingga Rp2.000/kg sekarang.

Jahari pun menambah kapasitas produksi. Ia membuat 2 mesin baru dengan kapasitas lebih besar yakni 500 kg dan 800 kg/hari. Ayah 4 anak itu juga memperluas area pabrik dengan menyewa lahan 3.200 m2 didekat rumahnya.

Rugi puluhan juta

Batu sandungan kembali menghadang waktu bekerja sama dengan pemodal asing. Waktu itu ia ‘dimodali’ mesin pemisah serat. Syaratnya produksi serat dijual ke pemodal. Baru 8 bulan berjalan Jahari rugi Rp25-juta. Mesin pemisah serat bertenaga listrik berkapasitas 2 ton/hari boros bahan bakar. ‘Dalam sehari bisa menghabiskan 100 liter solar untuk menyalakan genset,’ keluh Jahari.

Keinginan memutus kerja sama ditolak pemodal karena tak ingin kehilangan pasokan serat. Akhirnya mesin diganti dengan mesin bertenaga diesel yang lebih irit bahan bakar. Sekarang produksi serat lancar.

Sukses Jahari menginspirasi warga lain. Kini setidaknya ada 7 produsen cocofiber di daerah itu. Toh, meski banyak pesaing, Jahari terus berkembang. Total produksi mencapai 2,8 ton serat/hari. Produksi lebih banyak jika ia mengaktifkan 2 unit mesin berkapasitas 300 kg dan 500 kg/hari yang dibiarkan menganggur. Bukan karena kekurangan bahan baku atau tak ada order, tapi luasan pabrik terbatas. Makanya ia mencari rekanan untuk mengoperasikan 2 mesin itu.

Produksi cocofiber rutin dipasarkan ke 2 perusahaan. Harga diterima Rp1.600-Rp2.000/kg. Dari harga jual itu Jahari mengutip laba rata-rata Rp400/kg. Artinya, total laba yang diperoleh mencapai Rp1.120.000/hari atau sekitar Rp29-bulan. Ah, di tangan Jahari limbah jadi tambang rupiah. (Imam Wiguna)

- Advertisement -spot_img

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img