Friday, August 12, 2022

Jahe Organik di Tanah Gambut

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img
Jahe emprit organik tumbuh subur di lahan gambut. (Dok. BRG)

Panen jahe di lahan gambut berkat nanas dan kepala udang.

Trubus — Mansur meraup omzet minimal Rp17,5 juta dalam 7 bulan. Petani di Desa Pasakpiang, Kabupaten Kuburaya, Kalimantan Barat, itu menanam jahe. Lahannya bukan tanah vulkanik seperti di Pulau Jawa, melainkan tanah gambut. Penanaman menjadi plot demonstrasi (demplot) Badan Restorasi Gambut (BRG). Ia menanam jahe di luasan 2.500 m2. “Lainnya (7.500 m2, red) untuk menanam sayuran daun dan singkong,” kata dinamisator Kedeputian III BRG Kalimantan Barat, Hermawansyah, mewakili Mansur.

Menurut Wawan—panggilan Hermawansyah—masalah utama bertani di lahan gambut adalah keasaman tinggi alias pH rendah. Dengan teknik konvensional—mengandalkan kapur pertanian alias dolomit—setiap hektare lahan memerlukan minimal dua ton dolomit per musim tanam. Itu belum termasuk kebutuhan 4—10 ton per ha kompos untuk merestorasi daya simpan air dan sifat butiran (aglomerasi) tanah. Masyarakat terbiasa membakar lahan sebelum menanam. Dalam jangka pendek, cara itu efektif mengatasi masalah keasaman.

Mikrob pengurai

Petani menaburkan bokasi ketika menanam. (Dok. BRG)

Pembakaran lahan mengganggu daur nitrogen dan karbon di bawah permukaan gambut. Akibatnya dalam jangka panjang, tanah justru miskin hara. Apalagi pembakaran lahan gambut menyebabkan asap yang setiap tahun membuat negara tetangga gusar. Itu sebabnya, “BRG mengajak masyarakat melakukan pengelolaan lahan tanpa bakar (PLTB, red.),” kata kepala Sub Kelompok Kerja Edukasi Sosialisasi dan Pelatihan (Subpokja ESP) BRG, Deasy Efnidawesty. Mereka memperkenalkan teknik budidaya organik mengandalkan mikrob pengurai.

Wawan menyatakan, mikrob pengurai—bernama F1 Embio—mengembalikan kesuburan tanah dengan memperbaiki keseimbangan ekologi tanah. Lahan gambut terbentuk dari timbunan serasah yang tertumpuk ribuan tahun sehingga sejatinya kaya bahan organik. “Mikrob mempercepat penguraian bahan organik di lahan gambut dan menyederhanakan ‘gula tanah’ sehingga mudah terserap tanaman,” katanya. Penguraian bahan organik dengan bantuan mikrob meingkatkan kemampuan butiran tanah menyerap air.

Jahe emprit laku di Kuburaya dan Pontianak. (Dok. Trubus)

F1 Embio hasil inovasi praktikus pertanian asal Kota Bandung, Jawa Barat, Joko Wiryanto. Alumnus Universitas Pasundan, Bandung itu mengutak-atik berbagai bahan sejak 1988 dan mencoba kali pertama terhadap tanaman padi pada 1993—1994 di beberapa daerah di Jawa Barat. Ia tidak mematenkan atau menjual resep embrio. Bahkan, Joko mengajarkan teknik pembuatan embio yang benar kepada petani dampingan BRG.

Selain untuk tanaman, embio juga efektif meningkatkan produktivitas perikanan darat. Embio menjadi andalan Mansur dan petani menggarap lahan gambut tanpa membakar. Mereka mengandalkan kompos dari kotoran ternak atau seresah tanaman dari sekitar kebun. BRG mendampingi petani dan mengajarkan cara pembibitan, penanaman, serta perawatan melalui sekolah lapang petani gambut.

Membersihkan jahe dari tanah sebelum menjual ke pengepul. (Dok. BRG)

Para petani belum terbiasa membudidayakan jahe menyebabkan hasil panen kedua dan ketiga turun berturut-turut menjadi 237 kg dan 100 kg. Kemarau ekstrem pada 2019 menghajar penanaman kedua, sementara penyakit menghantam penanaman ketiga. Mansur memberikan kompos (bokasi) sejak penanaman. Ia membenamkan bibit dengan jari lalu menutup lubang tanam dengan kompos. Pemberian kompos berikutnya berselang dua bulan di sekitar tunas.

Interval pemberian kompos berikutnya sebulan dengan frekuensi 1—2 kali sampai panen. Mansur dan rekan-rekan rutin mengocorkan larutan embrio setiap pekan. Bokashi itu pun mereka buat sendiri. Terbukti dengan budidaya jahe organik, warga di lahan gambut bisa mandiri dan bertani tanpa asap. Budidaya jahe di lahan gambut juga mebuat dapur mereka “berasap”. (Argohartono Arie Raharjo)

Previous articlePasar Memburu Jahe
Next articleRimpang Besar dan Pedas
- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img