Monday, November 28, 2022

Jaka Dhama Limbang Dermaga Persinggahan si Petualang Bisnis

Rekomendasi

Ia mengernyitkan dahi begitu menemukan kata “virgin” ketika menyambangi dunia maya di situs internet. Berjam-jam ayah 3 anak itu betah menjelajah untuk mengumpulkan informasi tentang VCO. Produk multikhasiat itu ternyata banyak dibutuhkan beragam industri. Fakta itulah yang membangkitkan naluri bisnis mantan dosen Universitas Tarumanagara.

Saat itu di Indonesia jelas belum ada industri VCO. Dari dunia maya ia tahu, Filipina telah bertahun-tahun mengekspor minyak kelapa murni ke Amerika Serikat. Untuk meyakinkan dirinya ia segera terbang ke Manila, lalu Hawaii. Keduanya sentra VCO dunia. Hasratnya untuk menekuni bisnis baru itu kian menggebu-gebu. Toh, ia tak dapat segera mewujudkan impiannya. Sebab, produsen mesin pengolah VCO di Jerman menolak untuk menyerahkan mesin kepada Jaka.

Buruknya citra Indonesia menghambat pembelian mesin, meski secara fi nansial Jaka sanggup membayar harga yang ditawarkan. Pria 42 tahun itu tak patah semangat. Ia menghubungi rekannya di Tokyo, Jepang. Atas nama dia, akhirnya produsen memberikan mesin miniatur berukuran 2 m x 1 m. Mesin pengolah yang sesungguhnya baru akan diserahkan setelah Jaka mampu mengoperasikan dengan baik.

30 hari

Miniatur mesin itu akhirnya diletakkan di sudut rumah Jaka di bilangan Grogol, Jakarta Barat. Di ruang itulah Jaka Dhama Limbang sibuk bereksperimen. Aktivitasnya diawali saat pagi. Ayah 3 anak itu menyambangi Pasar Grogol yang becek untuk mendapatkan kelapa segar. Itu dilakukan hampir satu bulan. Hampir setiap hari ia membeli 20 kelapa.

Kelapa itu dikupas dan dimasukkan ke miniatur mesin pengolah minyak kelapa murni alias virgin coconut oil (VCO). Namun, minyak hasil produksi mesin berukuran 2 m x 1 m itu labil. Setelah sebulan bereksperimen dengan mesin liliput itu, titik terang muncul.

Jadi, selama uji coba Jaka memasukkan angka 20 buah ke mesin canggihnya. Mesin yang dilengkapi komputer itu segera mengolah data. Keruan saja hasil minyaknya tak konstan lantaran ukuran kelapa berbeda-beda sehingga bobot total tak sampai 20 kg. Piranti canggih itu hanya mengolah data berdasarkan satuan kilogram, bukan jumlah butiran kelapa. Setelah hasil uji coba konstan, ia menghubungi sahabatnya di Tokyo untuk segera membeli mesin pengolah kelapa.

Awal 2002 tiga mesin supercanggih itu tiba di Indonesia. Harga sebuah mesin lebih dari Rp2-miliar. Cara kerjanya sama persis dengan mesin minitatur yang lebih dulu datang. Pertama, daging kelapa dimasukkan ke dalam mesin. Hanya dengan menekan tombol, mesin bakal mencuci bersih endosperm. Lalu daging kelapa dikirim ke ruang sterilisasi bersuhu 110oC. Di situ daging diberi uap panas dalam waktu singkat agar mikroba patogen yang mungkin nebeng, mati. Itu satu-satunya tahap pemanasan yang terjadi. Setelah jadi minyak, kontak dengan panas terlarang.

Di dalam mesin, daging kelapa diparut. Segera mesin menginformasikan mutu minyak yang bakal dihasilkan. Kadar kimia minyak seperti asam laurat, asam oleat, dan asam kaproat dapat dibaca di layar monitor sebelum minyak itu jadi (baca Mesin Genius, Trubus Agustus 2005 halaman 16). Mesin lantas memberikan 2 opsi: apakah produksi minyak dilanjutkan atau dihentikan?

Minyak goreng

Kapasitas produksi mesin bikinan Jerman itu 10.000 kelapa per jam. Artinya, dengan 3 mesin Jaka dapat memetik 23.070 liter VCO per jam jika rata-rata 1 liter diperoleh dari 13 kelapa. Cepat, efi sien, dan higienis lantaran meminimalkan campur tangan manusia. Pehobi bulutangkis itu tak perlu berkerut dahi untuk memasarkan VCO. Maklum, salah satu syarat pembelian mesin adalah seluruh produksi 3 tahun pertama harus dikirim ke Jerman.

Maka sejak 2002 Jaka mengekspor VCO ke Jerman via Singapura. Saat itulah ia mengibarkan bendera PT Miracle Virgin Oil. Komoditas itu tak dikemas dalam botol, tetapi berupa minyak curah dalam drum. Di dokumen ekspor, Jaka menuliskan minyak goreng, bukan VCO. Padahal volume ekspor rata-rata 1 kontainer setara 11.077 liter per bulan. Kontrak dengan Jerman diperpanjang pada tahun ke-3. “Sepanjang harganya cocok mengapa tidak,” katanya. Sayang ia enggan membuka harga jual VCO ke sana.

Dunia agrbisnis digeluti atas saran sang ayah. “Apa pun yang kamu kerjakan, nantinya kembali ke agribisnis,” ujar Jaka mengulangi ucapan ayahnya. Agribisnis pertama yang ia geluti adalah membuka perkebunan kelapa sawit seluas 57.000 ha di Bangka Belitung. Perusahaan raksasa itu memproduksi 60.000 ton minyak per jam. Pada 1994 ia meninggalkan perusahaan yang didanai Rp17-miliar itu. Dari kelapa sawit, ia menekuni bisnis aspal. Ide itu melintas begitu saja ketika ia mengendarai mobil.

Saat itu modal Jaka memang cekak. Untung sahabatnya di Jepang memberikan mesin potong dan mesin tekuk aspal. Meski bisnis itu tak ditinggalkan, tiga tahun berselang Jaka tergiur laba dendrobium potong. Melalui PT Pacifi c Wira Berjaya ia mengebunkan ratusan ribu dendrobium rinnapa dan sonia di tepi pintu air Waduk Jatiluhur, Purwakarta. Ketika bisnis dendrobium meredup, Jaka menjajakannya di pasar tradisional Rawabelong, Jakarta Barat. Itu dilakukan untuk menyelamatkan puluhan karyawannya.

Tak jera

Usaha anggrek potong yang ditekuni selama 3 tahun itu tak mampu dipertahankan. “Usahanya habis di Rawabelong. Ada pedagang yang mengambil barang, tapi akhirnya mengemplang, tak mau bayar,” ujar Yos Sutiyoso, pekebun anggrek yang mengenal dekat Jaka Dhama Limbang. Lantaran terus merugi, kebun itu akhirnya dijual senilai US$5.500, jauh lebih kecil ketimbang investasi yang telah dibenamkan US$14.000. Petualangan Jaka di jagat agribisnis belum berakhir. Produksi tepung ikan ditekuni kemudian.

Gagasan itu muncul ketika ia diundang sebuah produsen tepung ikan di Th ailand. Kebetulan juga Indonesia mengimpor ratusan ton tepung ikan dari Th ailand dan Vietnam. Hanya melihat sekilas, ia dapat merancang mesin pengolah tepung ikan. Sayang, karyawannya yang memburu bahan baku di lautan berlaku curang. Perusahaan itu ditutup dengan menyisakan kerugian Rp400-juta.

Meski babak belur, Jaka tak pernah jera menggeluti dunia agribisnis. Persis seperti dikatakan Yos Sutiyoso, “Semangat juangnya sangat besar.” Ia terus bergerak mencari peluang, dan akhirnya jatuh pilihan pada virgin coconut oil. Miliran rupiah dibenamkan. Menurut perhitungan Jaka, setahun mendatang titik impas bakal dicapai.

Untuk mempercepat terwujudnya impian itu kini ia memproduksi VCO kapsul. Dalam waktu dekat ia juga berencana mewaralabakan teknologi produksi minyak kelapa murni. Ia tengah merancang mesin seperti halnya produksi Jerman. Selain inti reaktor, struktur mesin pengolah VCO telah dikuasai dan dapat diproduksi sendiri. Apakah petualangan Jaka terus berlanjut? Pasar VCO amat menentukan keputusan sang petualang. Yang pasti virgin coconut oil sekarang menjadi dermaga tempat persinggahan bisnisnya (Sardi Duryatmo)

- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Cara Membangun Rumah Walet agar Walet Mau Bersarang

Trubus.id — Rumah walet tidak bisa dibuat asal-asalan. Perlu riset khusus agar rumah itu nyaman ditempati walet. Mulai dari...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img