Wednesday, August 10, 2022

Jalak Suren dan Cucakrawa Dicari! Piyik Umur Sebulan

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

Sampai saat ini Soegianto tak mampu memenuhi permintaan pembeli yang kerap datang dari Solo dan Yogya. Bahkan untuk melayani kebutuhan di sekitar Klaten dan Solo, suami Warsini itu kesulitan. “Baru pecah telur sehari saja sudah banyak yang inden,“ ujarnya. Meski demikian, ia enggan melepas indil-indil (piyik umur sehari, red) itu lantaran harga lebih rendah, cuma Rp1,5- juta/pasang dibandingkan jika menjual umur sebulan yang mencapai Rp2,5-juta/pasang.

Kapasitas produksi piyik ayah 2 putri itu memang terbatas, 4—6 piyik per bulan. Jumlah itu didapat dari dak rumah seluas 36 m2 yang diisi 20 kandang bersekat kawat ram berukuran 70 cm x 100 cm x 180 cm. Di sanalah 7 pasang induk produktif dari total 20 pasang indukan menelurkan rata-rata 3 butir telur setiap bulan. Setelah dierami induk selama 12 hari, menginjak hari ke-13 sampai ke-16, telur-telur itu dipindahkan ke mesin tetas.

“Dari semua telur yang menetas paling 1—2 ekor per pasang. Itu pun hanya 80% mencapai umur sebulan,” ujar kelahiran Klaten 1969 itu. Saat piyik berumur 4 pekan, Soegianto yang mulai menangkarkan sejak Oktober 2004 itu tak perlu bersusah payah menjual.Cukup mengirim pesan pendek melalui telepon genggam, calon pembeli segera datang. “Menjual piyik umur sebulan perputaran uangnya cepat. Pembeli tidak perlu takut burung yang dibeli akan mati,” tutur Soegianto beralasan.

Meski demikian sesekali Soegianto melego induk Sturnus contra yang sudah 2—3 kali bertelur pada peternak lain. “Uangnya dipakai untuk membeli calon induk lagi,” ujarnya. Ketika ditemui Trubus akhir Maret 2004, pemilik ring Palken itu baru usai mengecek transfer senilai Rp16-juta untuk sepasang induk berumur 14 bulan yang dibeli peternak dari Yogyakarta.

Segmentasi

Utomo Iswahyudi di Desa Sumberrejo, Klaten Selatan, sejak Desember 2004 juga sudah menikmati laba dari jalak suren. Suami Titik Kusmiyati itu memilih segmen pembesaran piyik umur sebulan hingga umur 4 bulan. Burung yang 2 bulan lagi menginjak matang kelamin itu dijual lagi seharga Rp3,25-juta/pasang. “Di segmen ini resiko kematian burung hampir tidak ada,” papar Utomo yang kini merawat 8 pasang berumur 2—3 bulan itu.

Maraknya bisnis jalak suren terutama di seputar Klaten, Solo, dan Yogyakarta terjadi sejak setahun terakhir. “Di alam jalak suren sudah habis. Yang minat banyak,” ujar Anda Priyono, penangkar sekaligus penampung jalak suren di Solo. Terpusatnya perkembangan jalak suren di 3 kota itu terutama di Klaten karena secara temurun jalak suren sudah diternakkan di sana. Ia disukai karena warnanya bagus dan sering dipakai untuk master.

Karena kini jalak suren diminati, tumbuh segmentasi di kalangan peternak. Jika sebelum 2003 peternak terfokus menjual burung siap produksi dan sudah berproduksi umur 7—8 bulan dan umur 12- -14 bulan, kini segmen itu melebar. “Sekarang ada peternak yang khusus membesarkan pecah telur sampai 1 bulan, 1—4 bulan, 4 bulan sampai siap produksi,” kata pemilik Podo Subur Bird Farm itu.

Harga? Tergantung bagian yang ditekuni. Jika membesarkan piyik hingga 1 bulan peternak dapat menjual Rp2,5-juta/pasang; umur 4 bulan Rp3,25- juta/pasang; dan siap produksi Rp6-juta—Rp8-juta/ pasang. Sejak 3 bulan terakhir ini malah berkembang jual-beli telur. Harga yang dipatok tak tanggung-tanggung Rp1-juta per 3 telur. “Pembelinya sedikit karena beresiko tinggi seperti belum tentu telur menetas. Namun, tetap saja ada yang berani membeli untuk mencoba,” papar Anda.

Biaya perawatan untuk semua segmen relatif kecil. Untuk perawatan hingga umur seminggu misalnya hanya butuh dana Rp25.000/bulan per 4—6 piyik. Umur sebulan dan seterusnya menjadi Rp50.000—Rp60.000/bulan. “Biaya sangat tergantung harga jangkrik,” ucap Utomo. Maklum harga jangkrik sebagai kudapan bervariasi antara Rp15.000—Rp60.000/kg.

Cucakrawa pun marak

Dari lacakan Trubus terlihat segmen pembesaran pecah telur hingga 1 bulan yang banyak dipilih karena perputaran uang lebih cepat. “Permintaan piyik untuk penangkaran sangat banyak,” papar Antok penangkar besar di Klaten. Padahal, bermain di segmen ini cukup beresiko dan butuh ekstra ketelatenan. Saat berumur 1—7 hari misalnya piyik rawan mati akibat perubahan suhu dan tersedak saat diberi pakan. Soegianto contohnya 2 bulan lalu harus merelakan 14 piyik berumur 3–5 hari mati sia-sia. “Tujuh ekor mati karena lampu mati semalaman. Yang lain akibat salah menyuap hingga tersedak,” paparnya

Fenomena maraknya penangkaran burung tidak melulu jalak suren. Cucakrawa pun menjadi pilihan. Setianto Pangestu misalnya memilih cucakrawa. Ia mengambil piyik umur 2 minggu dari Kalimantan Timur seharga Rp500.000/ ekor Burung yang dipelihara hingga umur 2 bulan Rp3,5-juta/pasang. “Permintaan banyak yang belum terpenuhi,” papar penjual di Pasar Kapas Krampung, Surabaya.

Hal senada dialami Gatot Maytarto, Heri Supomo, dan Suraji penangkar di Surabaya. Gatot, peternak yang mulai sejak 1991 itu memelihara 4 pasang cucakrawa dan 4 pasang murai batu. “Banyak sekali yang minta tapi saya tidak sanggup,” ujarnya.

Untuk sepasang cucakrawa ia melepas Rp3,5-juta. Khusus burung bersuara ropel mencapai Rp4,5-juta/ pasang. “Sekarang bulu belum lengkap saja (umur 1,5 bulan, red) sudah diambil. Sebelumnya hanya cucakrawa minimal berumur 3 bulan yang diminta,” kata Suraji.

Julius Affi anto pun menuai laba besar. Setiap bulan alumnus Ekonomi Universitas Tanjungpura di Klaten itu menjual 30—40 piyikan berumur 1—1,5 bulan seharga Rp2,4-juta/pasang. Harga itu sudah meningkat Rp800.000/pasang dari tahun lalu. “Piyikan saya ambil Sintang, Sanggau, dan Serawak,” paparnya. Meski demikian Julius pernah tersandung. Medio Maret—April 2002, sejumlah 24 ekor dari 92 ekor bakalan umur 6—12 bulan seharga Rp650.000/ekor yang dipersiapkan sebagai calon induk meregang nyawa lantaran muntah darah. “Sekarang yang sudah kelihatan mau menghasilkan sekitar 10 pasang,” ujarnya penuh berharap.

Sulitnya mencari calon bakalan akhirnya mendorong Slamet Widyatmo menjalin mitra. Sebanyak 50 pasang cucakrawa disebar ke sekitar 20 peternak. Sayang dari semua induk yang disebar sejak medio 2003 itu, hingga kini baru diperoleh 6 pasang piyik. “Untuk dapat sepasang per bulan bukan main susahnya,” kata pemilik Solo Bird Farm. Itu lantaran cucakrawa sangat sensitif. Sedikit saja terganggu oleh lalu lalang orang misalnya ia akan mogok berproduksi.

Menurut Yongki di Bandung harga cucakrawa sulit jatuh meski peternaknya akan banyak. “Jenis ini termasuk yang sulit ditangkarkan. Apalagi orang lebih suka hasil tangkaran peternak karena kualitasnya lebih bagus dari alam,” paparnya. Namun jika semua kendala teratasi, pasar sangat membentang. Rupiah yang diperoleh peternak seperti Soegianto pun akan menjadi hal yang lumrah. (Dian Adijaya S/Peliput: Nyuwan S Budiana & Hanni Sofi a)

Klinik Burung Sakit

Sejak Ahad terakhir di April 2004, wajah Soegianto tampak murung. Musababnya salah satu induk jalak suren terlihat kurus. Tak tega, Ia segera meluncur ke tempat tinggal dr Edi Boedi di Yogyakarta yang berjarak tempuh 20 menit dengan motor. “Pak, burung ini tidak gemuk seperti lainnya,” ujar peternak jalak suren di Klaten itu. Setelah didiagnosis, disimpulkan sang burung bermasalah di organ pencernaan. “Ada amuba yang bersarang di usus,” ujar dr Edi. Masing-masing sebotol vitamin dan antibiotik obat penyembuh ditebus Soegianto Rp20.000.

Klinik burung milik dr Edi Boedi memang dikenal luas di kalangan peternak di seputar Klaten, Solo, Purworejo, dan Yogyakarta. “Banyak kolektor yang burungnya sakit datang ke sini,” ujar dokter spesialis burung dari Ludwig Maximillians Universiteit di Muenchen, Jerman itu. Saat Trubus berkunjung tak kurang dari 4 orang yang membawa kenari, jalak, dan cucakrawa mengantri giliran untuk diperiksa.

Menurut suami Yani Dwiretnoningsih, penyakit yang menyerang tergantung jenis burung. Jalak suren dan cucakrawa misalnya sering mengalami gangguan pencernaan karena cendawan. “Sering berkicaunya serak. Kadangkala dijumpai kasus asma yang membuat burung susah bernapas,” ujar alumnus kedokteran hewan Universitas Gadjahmada itu.

Pengobatan yang dilakukan biasanya dengan memberi antibiotik dan vitamin. Namun pada kasus tertentu burung perlu dirontgen hingga diangkat ke meja operasi. Kenari misalnya jenis yang paling sering mengalami operasi tumor. Ongkos pun tak mahal. Jika sekadar vitamin dan antibiotik, peternak merogoh kocek Rp15.000—Rp20.000. Bila burung perlu diusung ke meja operasi perlu biaya Rp50.000—Rp100.000. (Dian Adijaya S).

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img