Tuesday, November 29, 2022

Jalan Panjang Demi Jabang Bayi

Rekomendasi

Tujuh tahun menanti, Bthari Kamaratih belum juga menimang buah hati. Pertanyaan yang kerap menyudutkan Kamaratih adalah, “Kapan punya momongan?”

 

Keruan saja, ia ingin secepatnya menimang sembari bersenandung untuk meninabobokan si kecil. Itulah sebabnya ketika menstruasi terhenti, Kamaratih-nama samaran-girang bukan kepalang. Dua pekan lamanya ia memastikan menstruasi berhenti, lalu karyawati sebuah perusahaan swasta di Jakarta itu pun memeriksakan diri ke dokter spesialis kandungan. Kebahagiaan sontak memenuhi hatinya saat dokter menyatakan ia hamil. Ia segera mempersiapkan diri sebaik mungkin dengan mengonsumsi pangan kaya nutrisi.

Sebulan berselang, perempuan 37 tahun itu kerap pusing dan mual. Pinggang kiri kerap nyeri seperti teriris benda tajam. “Kadang sakitnya bertahan sampai sejam,” kata Kamaratih. Menurut rekan-rekannya, itu hal biasa. Namun, pada pemeriksaan rutin-bulan kedua kehamilan-penyebab nyeri itu terungkap. Dokter mendiagnosis Kamaratih hamil ektopik alias hamil di luar rahim yang membahayakan nyawa. Itulah sebabnya, dokter menyarankan ia menjalani operasi pengangkatan janin.

Barucina

Kebahagiaan Kamaratih runtuh seketika saat dokter mengeluarkan indung telur. Kehamilan di luar rahim terjadi lantaran sel telur yang sudah dibuahi, tidak melekat di rahim seperti seharusnya, tetapi berkembang di kantong telur. Seiring berjalannya waktu, sel telur itu pun tumbuh menjadi janin dan mulai mendesak pembuluh darah serta organ di sekitarnya. “Semakin besar janin, semakin sering rasa nyeri atau pusing muncul,” kata dokter ahli kandungan dan kebidanan di Rumahsakit dr Soetomo, Surabaya, Jawa Timur, dr Bangun Trapsila Purwaka SpOG(K).

Sebenarnya kehamilan ektopik tergolong langka. “Kemungkinannya tidak sampai 10 dari 1.000 kehamilan,” kata Bangun. Perempuan yang pernah mengalami aborsi lebih dari sekali, mempunyai riwayat tuberkulosis, bermasalah dengan kesuburan, atau pernah menggunakan obat perangsang untuk mengeluarkan sel telur dari indung telur berisiko tinggi mengalami hamil ektopik. Kemungkinan lain, pertama kali hamil pada usia mendekati atau lebih dari 35 tahun. Itulah yang terjadi pada Kamaratih.

Kesibukan mengejar karier menjadikannya terpaksa mengompromikan kehidupan pribadi, termasuk urusan teman hidup. Ia menikah pada usia 30 tahun. Sudah begitu, ia tidak langsung hamil setelah menikah. Sebenarnya Kamaratih aktif berusaha mengatasi masalah itu. Setiap bulan ia berkonsultasi dengan spesialis kandungan dan mengonsumsi semua obat yang diresepkan. Namun, kehamilan bak jauh panggang dari api.

Insting keibuan menjadikan Kamaratih tetap tegar. Meski hanya memiliki 1 indung telur di pinggang kanan, ia tetap aktif mencari jalan untuk mewujudkan kehamilan. Bak gayung bersambut, seorang rekan sekerja menyarankan Kamaratih  berkonsultasi dengan Valentina Indrajati, herbalis di Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Sang rekan hamil meski pernah mengidap kanker payudara, setelah berobat ke Valentina.

Pada kunjungan pertama, Valentina memeriksa Kamaratih dan menemukan endometriosis dalam rahimnya. Adapun sang suami terdiagnosis memiliki sperma yang lemah. Herbalis kelahiran 47 tahun silam itu meresepkan paduan herbal, antara lain daun barucina Artemisia vulgaris, rimpang temuputih Curcuma zedoaria, dan rumput mutiara Hedyotis corimbosa. Endometriosis alias kista terjadi saat jaringan yang semestinya berada dalam rahim tiba-tiba tumbuh di tempat lain. Jaringan itu tetap hidup dan aktif berproduksi sehingga menimbulkan nyeri dan memperbanyak jumlah darah yang keluar saat menstruasi.

Hamil

Menurut dr Kerry Ramlan Kartosen SpOG, spesialis kandungan dan kebidanan di RS Ibu dan Anak Bunda, Surabaya, Jawa Timur, endometriosis masih menjadi polemik dalam dunia kedokteran. “Faktor pemicu utama belum diketahui sehingga pencegahan pun sulit,” kata Kerry. Riset Carlo Bulletti dan rekan-rekan dari University of Bologna, Italia, menunjukkan sebanyak 6-10% perempuan usia produktif mengalami kista. Sayang, belum ada data pasti angka penderita endometriosis di tanahair.

Kamaratih merebus ramuan herbal berbentuk serbuk dalam 3 gelas air bersih hingga mendidih dan tersisa 1 gelas. Valentina mengemas campuran herbal itu dalam sebuah kantong plastik transparan berbobot 80 gram untuk sekali rebus.  Ketika ramuan hangat, Kamaratih menyaring hasil rebusan itu dan membagi dua masing-masing setengah gelas untuk dirinya dan suami. Frekuensi konsumsi dua kali sehari, pagi sebelum sarapan dan malam sesudah makan.

Menurut Valentina daun barucina berkhasiat menguatkan saluran reproduksi-termasuk dinding rahim-sehingga mencegah keguguran, sedangkan rimpang temuputih menghentikan pertumbuhan endometriosis dan membersihkan rahim. Adapun rumput mutiara mengatasi jaringan liar yang tumbuh di daerah rahim-termasuk endometriosis dan tumor. “Itu karena usia pasien tidak lagi muda sehingga perlu penguatan dari luar,” kata herbalis yang kerap mengajar yoga di mancanegara itu. Apalagi Kamaratih tinggal memiliki 1 indung telur.

Memasuki pekan ketiga, suami Kamaratih mulai bosan mengonsumsi herbal. Namun, Kamaratih menyemangati sehingga tanpa terasa genap sebulan sudah mereka mengkonsumsi paduan herbal itu. Menurut dr Kerry Ramlan Kartosen SpOG, Kamaratih berpeluang hamil asal fisik dan stamina benar-benar mendukung. Artinya, kondisi seluruh organ optimal tanpa masalah disertai asupan gizi cukup dan berimbang.

Pertengahan Maret 2012, Kamaratih  berhenti menstruasi. Pada pekan berikutnya, dokter ahli kandungan memberi kabar gembira, Kamaratih positif hamil. Hingga wawancara dengan Trubus pada akhir Mei 2012, usia kehamilan Kamaratih 2 bulan. Namun, ia masih menyimpan rapat-rapat kabar itu dari keluarga. “Nanti kalau sudah lewat trimester pertama baru saya bilang,” tuturnya. Sampai saat ini pun ia tetap mengonsumsi ramuan dari Valentina untuk memperkuat rahim dan janin sampai waktu persalinan.

Toksoplasma

Nasib Pujiastuti mirip Kamaratih yang menanti kedatangan buah hati setelah tiga tahun menikah. Ia pernah hamil, tiga bulan pascapernikahan. Namun, akhirnya keguguran akibat toksoplasma. Pasangan Ari Widhi dan Pujiastuti di Wonogiri, Jawa Tengah, pun keluar masuk ruang praktik dokter. Begitu mendengar ada dokter spesialis toksoplasma di Kota Yogyakarta, pasangan itu pun segera  meluncur ke Kota Gudeg.

Menjelang pengujung 2010-setelah menjalani terapi melelahkan selama hampir setengah tahun-Pujiastuti kembali hamil. Sayang, hobiis anjing itu kembali keguguran saat umur kandungan 2 bulan. Rasa lelah dan penasaran pun berkecamuk dalam hati Ari dan Pujiastuti. Atas saran kolega, mereka akhirnya mengunjungi Lina Mardiana, herbalis di Yogyakarta. Lina juga meresepkan barucina untuk Pujiastuti. Herbal lain dalam resep Lina adalah daun binahong Anredera cordifolia dan akar alang-alang Imperata cylindrica.

“Sifat antiseptik binahong menghalau parasit toksoplasma yang akan menyerang janin, adapun alang-alang membersihkan rahim sehingga siap ditempati janin,” ujar Lina. Lina memberikan paduan herbal peningkat stamina untuk Ari Widhi, terdiri dari pasak bumi Eurycoma longifolia, ginseng Panax sp, dan lada Piper nigrum. Tujuannya meningkatkan jumlah dan kelincahan sel sperma sehingga meningkatkan peluang ovulasi serta memperbaiki peredaran darah.

Selain memberikan ramuan, Lina menganjurkan keduanya mengonsumsi daging dan hati kelinci. Menurut ahli gizi dari Fakultas Ekologi Manusia Institut Pertanian Bogor, Prof Dr Clara Kusharto MSc, kandungan protein daging kelinci membantu fungsi metabolisme tubuh, termasuk menormalkan kondisi hormonal. “Menjaga keseimbangan tubuh dan pikiran agar fungsi tubuh optimal,” kata Clara.

Pasangan itu rutin mengonsumsi ramuan herbal dua kali sehari. Pada awal Maret 2012 lalu, dokter menyatakan Pujiastuti kembali hamil. Meski demikian, Pujiastuti tetap mengkonsumsi herbal pemberian Lina untuk menjaga kesehatannya dan calon bayinya. Jika tak ada aral, Kamaratih dan Pujiastuti akan menimang jabang bayi yang mereka nantikan itu pada November 2012. (Argohartono Arie Raharjo/Peliput: Nabila Chairunnisa)

 

Keterangan Foto :

  1. Barucina perkuat saluran reproduksi
  2. “Kehamilan pertama di usia lebih dari 30 tahun perlu herbal penguat,” ujar Valentina Indrajati, herbalis di Bogor
  3. Endometriosis alias kista terjadi saat  jaringan yang semestinya berada dalam rahim tiba-tiba tumbuh di tempat lain.Kista paling sering muncul di indung telur. Faktor pemicunya belum diketahui pasti sehingga pencegahannya sulit
  4. Rumput mutiara hentikan pertumbuhan kista
  5. Prof Clara Kusharto: Protein memperbaiki metabolisme tubuh
  6. Akar alang-alang membersihkan rahim
  7. Temuputih menyingkirkan sel liar dan abnormal

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Robusta Rasa Kelapa

Trubus.id — “Kopi arabikanya enak.” Itulah yang kerap terucap dari para penikmat kopi ketika mencicipi kopi asal Desa Tamansari,...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img