Monday, April 13, 2026

Jamur Ling Zhi Sumber Penghasilan

Rekomendasi
- Advertisement -

Trubus.id–Jamaludin Nur Ridho sukses membudidayakan jamur ling zhi dan rutin menuai 100 kg simplisia jamur setiap bulan. Harga jual ling zhi kering bervariasi, mulai dari Rp250.000 hingga Rp600.000 per kg, tergantung pada segmen pasar. 

“Harga jual saya bedakan berdasarkan konsumen,” ujar Jamal.

Untuk konsumen business to business (B2B), harga simplisia jamur ling zhi sebesar Rp250.000 per kg, sedangkan untuk business to consumer (B2C) lebih tinggi, yakni Rp300.000 hingga Rp600.000 per kg. 

Dengan strategi ini, petani jamur asal Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), itu mampu meraup omzet yang menjanjikan setiap bulan. Ia memasok jamur ling zhi ke pabrik jamu, rumah makan, dan pasar tradisional di sekitar DIY dan Jawa Tengah.

Untuk memenuhi kebutuhan pasar, Jamal bekerja sama dengan beberapa petani mitra di Kabupaten Sleman. Ia membudidayakan jamur ling zhi di kumbung seluas 500 m² dengan rak baja ringan. Dalam kumbung tersebut terdapat sekitar 15.000—20.000 baglog, yang masing-masing memerlukan waktu 3—4 bulan untuk dipanen.

Jamal menerapkan sistem tanam bergilir dengan memasukkan 5.000 baglog berisi benih ling zhi setiap satu hingga dua bulan agar panen dapat dilakukan setiap bulan. 

“Budidaya jamur ling zhi tergolong praktis karena hanya sekali panen,” ungkap pemilik Cendawan Jamur Farm itu.

Setiap 1.000 baglog dapat menghasilkan 50—60 kg jamur ling zhi segar. Setelah melalui proses pengeringan selama sepekan menggunakan sinar matahari, bobotnya menyusut hingga 50%, menghasilkan 25—30 kg simplisia kering.

Tingginya permintaan jamur ling zhi disebabkan oleh manfaatnya sebagai obat herbal, antara lain untuk menurunkan hipertensi, kolesterol, dan kadar asam urat.

Namun, perjalanan Jamal tidak selalu mulus. Ia sempat menghadapi kendala kontaminasi benih, yang cukup tinggi dalam budidaya jamur ling zhi.

Untuk mengatasi masalah ini, ia menjalin kerja sama dengan beberapa penyedia benih di Klaten, Temanggung (Jawa Tengah), dan DIY. Dengan memiliki beberapa pemasok, ia dapat menghindari risiko gagal panen akibat kontaminasi benih di satu daerah.


Artikel Terbaru

Sustainabilitas Perkebunan Sawit: Benarkah Bisa Ramah Lingkungan?

Sawit terus menjadi sorotan global karena isu lingkungan mulai dari konversi hutan hingga emisi gas rumah kaca. Corley dan...

More Articles Like This