Sunday, August 14, 2022

Jamur Subur di Atas Limbah

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img
Jamur merang tumbuh di permukaan limbah kulit kolang-kaling.(foto : Koleksi Balai Penyuluhan Pertanian Kecamatan Jampangkulon)

TRUBUS — Memanfaatkan limbah kulit kolang-kaling sebagai media tumbuh jamur merang.

Jamur merang bertubuh buah putih itu tumbuh subur di pekarangan rumah Yati Syaiful seluas 10 m2. Warga Desa Cikarang, Kecamatan Jampang Kulon, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, itu memanfaatkan kulit kolang-kaling sebagai media tumbuh jamur. Harap mafhum, Cikarang sentra kolang-kaling Arenga pinnata. Itulah sebabnya ia menyebutnya suung caruluk. Dalam bahasa Sunda, kata suung berarti jamur dan caruluk bermakna kolang-kaling.

Lazimnya petani membudidayakan jamur merang Volvariella volvacea bermedia jerami di dalam kumbung tertutup. Yati membudidayakan jamur anggota keluarga Pluteaceae itu di ruangan terbuka. Menurut penyuluh pertanian setempat, Fajar Agustiani, S.Pt., setelah memanen buah kolang-kaling warga mengolahnya dengan merebus. Tujuannya agar memudahkan mengambil kolang-kaling dari kulit luar yang keras.

Panen rata-rata 1—3 kg jamur berselang 2 hari.

Nutrisi jamur

Agustiani menuturkan, warga kemudian mengumpulkan kulit luar kolang-kaling itu di satu hamparan di pekarangan. “Biasanya dekat dengan lokasi perebusan,” kata Sarjana Peternakan alumnus Institut Pertanian Bogor itu. Warga membuang limbah kolang-kaling di atas lahan 1 m x 2 m hingga 2 m x 3 m. Ketebalan limbah mencapai 5—10 cm.

Kemudian Yati membuang air sisa rebusan kolang-kaling yang dingin pada tumpukan kulit buah. Yati menuturkan, lazimnya jamur tumbuh pada 2—4 pekan setelah penyiraman air sisa rebusan. Yati dan warga lain tidak menebarkan bibit jamur merang di atas limbah kolang-kaling itu yang berfungsi sebagai media tumbuh. Menurut ahli jamur dari Pusat Penelitian Biologi LIPI, Dr. Iwan Saskiawan, meski Yati tidak menebar bibit, jamur dapat tumbuh karena spora sudah berada di lingkungan dan berkembang begitu ada media yang cocok.

Di Desa Cikarang berketinggian 450 m di atas permukaan laut tercatat 20 orang yang melakukan budidaya jamur merang seperti Yati. Mereka juga tidak menebarkan bibit jamur di atas media. Namun, jamur yang tumbuh di atas media seragam, yakni jamur merang. Iwan mengatakan, keseragaman jamur yang tumbuh karena kecocokan dengan media.
Menurut Iwan jamur merang yang tumbuh di limbah aren atau kulit kolang-kaling adalah jenis yang saprofit. Artinya hidup pada bahan organik atau sisa mahluk hidup.

Limbah menjadi media yang sangat cocok untuk pertumbuhan jamur makro. Spora jamur saprofit itu ada di sekitar tempat budidaya dan berkembang begitu ada media yang cocok. Menurut doktor Biologi alumnus University of Kyoto, Jepang itu, penyiraman sisa air rebusan yang kerap dilakukan warga sebenarnya mengandung nutrisi yang diperlukan jamur sehingga merangsang pertumbuhan.

Kampung Cibenda, Desa Cikarang, Kecamatan Jampang Kulon, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat salah satu senta kolang-kaling. (foto : dok. Trubus)

Kepala Balai Penyuluhan Pertanian Kecamatan Jampang Kulon, Ucu Rohillah, S.Pt., M.P., mengatakan, ada petani yang menutup media dengan terpal dan ada juga yang membiarkan media terbuka. Menurut Ucu petani yang menggunakan penutup terpal butuh waktu minimal 4 pekan untuk menumbuhkan tubuh jamur. Masa panen jamur lebih lama hingga 1 bulan dengan produksi total 10—20 kg per m2.

Adapun petani tanpa terpal lebih cepat hanya memerlukan waktu 2 pekan. Produksi jamur hanya 7—15 kg per m2. Menurut Ucu masa panen jamur rata-rata 2 bulan setelah tumbuh perdana. Masa puncak panen 1 bulan setelah tubuh jamur perdana tumbuh. “Setelah puncak panen, berangsur-angsur hasil panen menurun,” kata master alumnus Jurusan Produksi Ternak Universitas Padjadjaran itu.

Jamur merang telat panen stupa berwarna coklat.(foto : dok. Trubus)

Yati dan pembudidaya lain memanen jamur rata-rata 1—3 kg per sekali panen. Interval panen berselang 2 hari. Lazimnya produksi berhenti saat media berumur 3 bulan dan media sudah berubah menjadi kompos. Yati mengolah kompos sebagai nutrisi tanaman. Menurut Ucu tradisi membduidayakan jamur merang itu berlangsung sejak 2010. Warga mengolah jamur merang itu untuk memenuhi kebutuhan pangan keluarga.

Menurut Agustini rasa jamur tak kalah lezat dibandingkan dengan jamur tiram. Ada juga warga yang menjual sebagian jamur merang. Yati, misalnya, menjual rata-rata 15 kg jamur merang per bulan ke konsumen langsung. Harga jual jamur Rp25.000 per kg terdiri atas 20—30 jamur segar. Ia tidak mengeluarkan biaya serupiah pun untuk membudidayakan jamur merang. (Muhamad Fajar Ramadhan)

Previous articleMembuat Bubuk Cabai
Next articleTahan Gempuran Bulai
- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img