Tuesday, November 29, 2022

Jangan Asal Semprot

Rekomendasi

Ia mencabut serumpun padi berumur 75 hari itu. Bulir kosong dan kering. Ulat-ulat kecil penggerek batang berdiameter 1 mm dengan panjang 0,5 cm bersembunyi dalam batangnya. Serangan penggerek batang pada saat padi sudah berbulir itu biasa disebut beluk. Pengisian bulir gagal akibat terhambatnya aliran nutrisi dari batang ke malai. Nasikin menduga si pemilik sawah telat mengendalikannya.

Setengah kilometer kemudian terdapat hamparan padi bernas. Pemiliknya Ujang Nuralim, petani dengan 20 ha lahan. Tanaman berbatang kekar, daunnya hijau tanpa ganggguan hama penyakit. Itu hasil kedisiplinan Ujang melakukan penyemprotan pestisida. Begitu serangan penggerek muncul pada hari ke-15 setelah tanam, Ujang menyemprotkan dengan insektisida berbahan aktif tiametoksam dan klorantraniliprol.

Ia mengulangi penyemprotan pada hari ke-30. Hari ke-45 dan 57, Ujang kembali mengaplikasikannya dengan tambahan fungisida. Itu masa-masa padi rentan serangan penggerek batang, bercak daun, dan busuk batang. Jika penyakit tetap muncul, Ujang kembali menyemprotkan fungisida pada hari ke-65 dan 75. Dengan pertahanan ekstra, serangan beluk tak sempat meluas.

Untuk mengurangi risiko kegagalan pengendalian hama dan penyakit, jangan asal semprot. ‘Identifikasi gejala serangan terlebih dahulu, pilih pestisida sesuai sasaran, gunakan dosis dan waktu aplikasi sesuai petunjuk,’ kata Jarot Warseno, manajer produk PT Bayer Indonesia.

Hindari mencampur beragam insektisida tanpa petunjuk yang jelas. Dikhawatirkan bahan aktif akan bereaksi dan berdampak saling menguatkan atau menetralkan. Akibatnya reaksi akan berlebihan dan berisiko mengganggu pertumbuhan tanaman. Bisa juga, jika kandungannya saling menetralkan, pestisida malah tak efektif membasmi hama dan penyakit. (Nesia Artdiyasa)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Mencetak Petani Milenial, untuk Mengimbangi Perkembangan Pertanian Modern

Trubus.id — Perkembangan pertanian modern di Indonesia harus diimbangi dengan sumber daya manusia (SDM) yang mumpuni. Dalam hal ini...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img