Friday, December 2, 2022

Jangan Kirim Kedelai, Paman Sam

Rekomendasi

Kebutuhan kedelai mencapai 2,88-juta ton pada 2011Indonesia berpeluang surplus kedelai pada 2014.

Harry Is Mulyana: Kedelai impor kecil dan kandungan gizinya kalah dibanding lokalPada 2014, luas lahan kedelai akan mencapai 2-juta haRajabasa, potensi hasil 4 ton/haImpor kedelai Indonesia makin membubung. Pada 2011 negeri agraris itu mendatangkan 2,12-juta ton atau meningkat 15% dari tahun sebelumnya yang 1,7-juta ton. Devisa negara sebanyak Rp3-triliun pun mengalir deras ke mancanegara. Indonesia mengimpor kedelai karena produksi anjlok. Pada 2011, produksi kedelai di tanahair hanya 851.286 ton. Itu merosot hampir 10% dibanding produksi pada 2010, yakni 907.031 ton.

Padahal, kebutuhan kedelai justru meningkat dari 2,60-juta ton menjadi 2,88-juta ton. Sejatinya impor kedelai bukan baru kemarin. Menurut peneliti dari Balai Penelitian Kacang-kacangan dan Umbi-umbian, Prof Dr Titis Adisarwanto MS, impor kedelai berlangsung sejak 1929. Saat itu pemerintah kolonial Belanda mendatangkan 68.000 ton kedelai dari Manchuria, Tiongkok. Volume impor terus meningkat menjadi 277 ton pada 1971, lalu 171.746 ton (1976), dan terus bertambah menjadi 400.000 ton (1984).

Tak bergairah

Soal kualitas kedelai lokal tidak kalah dengan impor. Menurut Koordinator Program Pemberdayaan Petani dalam Pengembangan Kedelai Hitam (P3KH) Universitas Gadjah Mada dan PT Unilever, Mary Astuti, kandungan protein kedelai lokal lebih tinggi. Varietas grobogan, yang dirilis pada 2008, misalnya, mengandung 7,71% protein. Setiap 100 biji grobogan berbobot 20 g.

Sementara kedelai impor asal Amerika Serikat, hanya mengandung 38,47% protein dan bobot 17,32 g per 100 biji. “Kedelai impor itu sudah lebih kecil, kandungan gizinya pun kalah pula dengan kedelai lokal,” kata Harry Is Mulyana, pemulia kedelai di Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN). Mengapa gagal berswasembada? Hilman Ismail Metareum dari Himpunan Perajin Tahu Indonesia (Hipertindo) mengatakan harga jual rendah menjadi salah satu pemicu.

Dengan harga jual kedelai hanya Rp5.000 di tingkat petani seperti sekarang, para penanam kedelai nyaris tidak menangguk laba. Menurut Direktur Aneka Kacang-kacangan dan Umbi-umbian Kementerian Pertanian, Dr Ir Maman Suparman, dengan produktivitas rata-rata 1,3 ton per ha, biaya produksi kedelai mencapai Rp4.700 per kg. Artinya laba pekebun cuma Rp390.000 per ha.

Keruan saja petani enggan menanam kedelai dan memilih komoditas lain yang lebih menguntungkan seperti padi, jagung, kacang hijau, atau kacang tanah. Sebagai gambaran, petani padi pun mampu meraih laba Rp15-juta per ha dengan produktivitas 5 ton. Laba berkebun kedelai kian kecil karena produktivitas juga rendah.

Itu jauh lebih rendah ketimbang potensinya. Meski petani menanam benih berpotensi produksi tinggi, tanpa perawatan memadai maka potensi itu tak berarti apa-apa. Menurut Dr M Muchlish Adie MS, kepala Balai Peneitian Kacang-kacangan dan Umbi-umbian, kedelai memerlukan pasokan hara makro berupa unsur fosfor dan potasium. Unsur fosfor terpenuhi lewat pemberian 50-75 kg pupuk SP-36 atau TSP, sedangkan potasium dari 50-100 kg pupuk KCl per ha.

Maklum, Glycine max itu mampu mengikat bakeri Rhizobium sp untuk menangkap nitrogen bebas dari udara. “Itu mengurangi 60% kebutuhan pupuk nitrogen,” kata Muchlish. Celakanya, harga pupuk tinggi fosfor dan potasium cenderung lebih mahal ketimbang pupuk tinggi nitrogen. Harga eceran tertinggi pupuk Urea yang menjadi sumber nitrogen Rp1.800 per kg, sedangkan SP-36 dan KCl, masing-masing sumber fosfor dan potasium, Rp2.000 per kg.

Padahal, hampir semua kios pertanian menjual pupuk di atas harga eceran tertinggi yang ditetapkan Kementerian Pertanian. Akibatnya petani enggan memupuk sesuai kebutuhan tanaman untuk menghemat biaya produksi. Dampak berikutnya mudah ditebak, produksi pun rendah di bawah potensi benih. Apalagi jika harga jual tak menarik.

Surplus kedelai

Masalah lain, menurut Hilman, adalah alih fungsi lahan. Data Kementerian Pertanian, laju alih fungsi lahan produktif menjadi pemukiman, industri, dan peruntukan lain mencapai 100.000 ha per tahun. Itu sebabnya, banyak yang pesimis target swasembada kedelai dapat tercapai pada 2014. “Apalagi pemerintah juga menargetkan swasembada beras dengan surplus 10-juta ton pada tahun sama,” kata Winarno Tohir, ketua umum Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA).

Winarno memprediksi, swasembada kedelai hampir tidak mungkin tercapai pada 2014. Paling banter hanya mengurangi ketergantungan impor dari 70% menjadi 30%. Meski demikian Kementerian Pertanian menggandeng Perum Badan Urusan Logistik (Bulog) untuk menjamin dan menjaga harga, seperti komoditas beras saat ini. Harry dan Winarno sepakat, harga layak untuk kedelai minimal Rp7.000 per kg di tingkat petani.

Direktur Perencanaan dan Pengembang-an Usaha Perum Bulog, Drs Abdul Karim MM, mengatakan pihaknya bertindak sebagai penyangga harga. Saat panen berlimpah, Bulog akan membeli dengan harga wajar sehingga petani tidak merugi lantaran harga jatuh. Sebaliknya, saat pasokan seret, Bulog melepas stok untuk mencegah harga melangit sehingga produsen tahu, tempe, kecap, atau olahan lain kedelai tidak menjerit. Dengan demikian, petani maupun perajin tahu tempe memperoleh harga wajar.

Strategi lain, memperluas area tanam dengan memanfaatkan lahan tidur, lahan pertanian yang diberakan, dan lahan-lahan milik Badan Usaha Milik Negara yang belum termanfaatkan. Lahan pertanian bera merujuk kepada sawah tadah hujan yang tidak ditanami saat kemarau. Menurut Maman, pada kemarau 2013, setidaknya terdapat 100.000 ha lahan bera tersebar di berbagai provinsi seperti Jawa Barat dan Banten, Jawa Tengah dan Yogyakarta, Nusa Tenggara Barat-masing-masing 15.000 ha, serta Jawa Timur (20.000 ha).

Adapun lahan BUMN yang mengikuti program Gerakan Peningkatan Produksi Pangan Berbasis Korporasi (GP3K). “Pada 2012 ini, Perhutani menyediakan lahan 80.000 ha untuk peningkatan produksi kedelai,” kata Maman. Targetnya, pada 2014 nanti luas lahan kedelai mencapai 2-juta ha. Produktivitas lahan pun menjadi sasaran. Menurut Harry, potensi kedelai lokal minimal 2 ton per ha.

Produktivitas varietas rajabasa rakitan BATAN, misalnya, 4 ton per ha (baca: Rajabasa Raja Kedelai, Trubus Juli 2012). Sudah begitu, rajabasa adaptif di lahan masam dan pasang surut seperti daerah rawa atau gambut. “Targetnya tidak muluk-muluk, tingkatkan saja produktivitas rata-rata dari 1,3 ton menjadi 1,8 ton per ha,” kata Maman.

Berdasarkan  kebutuhan kedelai pada 2011, yakni 2,88-juta ton dan asumsi peningkatan 10% per tahun, maka kebutuhan pada 2014 mencapai 3,83-juta ton. Seandainya semua target terpenuhi, maka produksi kedelai nasional mencapai 3,6-juta ton per musim tanam. Dalam setahun, dengan 3 kali musim tanam, maka produksi akan melebihi 10-juta ton per tahun. Tak perlu  lagi mendatangkan kedelai dari negeri Paman Sam. (Argohartono Arie Raharjo)

Keterangan Foto :

  1. Harry Is Mulyana: Kedelai impor kecil dan kandungan gizinya kalah dibanding lokal
  2. Kebutuhan kedelai mencapai 2,88-juta ton pada 2011
  3. Pada 2014, luas lahan kedelai akan mencapai 2-juta ha
  4. Rajabasa, potensi hasil 4 ton/ha

 

Previous articleJanji Kedelai
Next articleHemat Berbagi Nutrisi

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Tips Mengatur Pola Pakan Tepat untuk Kuda

Trubus.id — Berbeda dengan sapi, kuda termasuk hewan herbivora yang hanya mempunyai satu lambung (monogastrik) sehingga kuda sangat membutuhkan...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img