Monday, August 15, 2022

Janji Belum Terbukti

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

Teknik fermentasi nilam menarik perhatian calon penyulingMulanya adalah sebuah inovasi spektakuler: teknik baru menyuling nilam dengan fermentasi yang meningkatkan rendemen menjadi 10%. Itu berarti produksi melonjak 5 kali lipat. Beberapa orang yang menerapkan inovasi itu, gagal memperoleh rendemen 10%.

Selama ini rendemen penyulingan nilam di Indonesia rata-rata 2%. Beberapa penyuling seperti Sugono di Kotamadya Bogor, Provinsi Jawa Barat, memang mampu meningkatkan rendemen menjadi 4% (baca: Menjemput Minyak Lebih Banyak halaman 70-72). Namun, orang-orang seperti Sugono yang mampu mendapatkan rendemen 3-4% amat langka.

Oleh karena itu inovasi penyulingan melalui fermentasi dengan rendemen tinggi, hingga 10% menarik perhatian calon penyuling. Yang memperkenalkan teknologi baru itu Herdi Waluyo, di Bandung, Provinsi Jawa Barat. Ia menyuling cairan hasil fermentasi daun nilam, bukan biomassa berupa daun seperti lazimnya.

Fermentasi selama 12 jam itu memanfaatkan kapang. Sebetulnya Herdi menerapkan inovasi penyulingan yang bersumber dari penelitian laboratorium Dra Nuryati Djuli MSi, pensiunan dosen di Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati Institut Teknologi Bandung. Ketika menempuh pendidikan pascasarjana di lembaga yang sama, Nuryati meriset penggunaan kapang Rhizopus oryzae dan R. oligosporus untuk menfermentasi nilam.

Di bawah konvensional

Keruan saja rendemen yang membubung hingga 10% amat menarik calon penyuling. Ato Fastiono di Kabupaten Lumajang, Provinsi Jawa Timur, misalnya, tergiur menerapkan inovasi itu setelah memperoleh informasi teknologi fermentasi langsung dari Herdi Waluyo dalam sebuah pelatihan. Ketika dihubungi melalui telepon, pria kelahiran 21 Oktober 1966 itu mengatakan tidak membeli alat penyulingan melalui Herdi, tetapi menerapkan inovasi berupa fermentasi.

Ia telah memiliki alat penyuling sendiri. Pada 19 November 2012, Fastiono menyuling 1.000 kg daun nilam segar. Menurut ayah tiga anak itu bahan itu setara 200 kg kering dan masih menurut penuturan Fastiono menghasilkan 11 kg minyak. Artinya, rendemen penyulingan Fastiono mencapai 5,5%. Sebelum menerapkan sistem fermentasi, Fastiono hanya memperoleh 4-6 kg minyak dari volume bahan yang sama (rendemen 2-3%).

Fastiono terbilang mujur, meski belum mendapatkan rendemen 10% seperti yang disampaikan Herdi Waluyo. Bandingkan dengan Indra Irawan di Kabupaten Pasuruan, Provinsi Jawa Timur, Budi Suparyoto (Palembang, Sumatera Selatan), dan Slamet Budi Raharjo (Kudus, Jawa Tengah) yang mendapatkan rendemen penyulingan di bawah rendemen rata-rata teknologi konvensional, yakni 2%.

Untuk menerapkan teknologi fermentasi mereka membeli alat suling pada Herdi Waluyo. Indra Irawan membeli 1 unit terdiri atas perajangan, fermentasi, dan destilasi seharga Rp225-juta; Budi Suparyoto membayar Rp190-juta. Indra kemudian menyuling sesuai arahan Herdi Waluyo. Sebab, Herdi Waluyo turut hadir di lokasi penyulingan Indra Irawan di Desa Tunggulwulung, Kecamatan Pandaan, Kabupaten Pasuruan, ketika proses destilasi berlangsung.

Indra menyuling larutan fermentasi dengan suhu 110-1200C dan tekanan 3 bar. Singkat kata tahap demi tahap penyulingan persis saran Herdi. Namun, rendemen sulingan Indra Irawan hanya 1,5%. “Sampai sekarang saya tidak berani menceritakan pada keluarga, terutama ayah, karena pasti ayah saya akan marah,” tutur Indra.

Terkait rendahnya rendemen Indra, Herdi Waluyo mengatakan, “Nilamnya ditanam di bawah pohon apel.” Selain itu menurut Herdi, Indra menggunakan nilam hasil budidaya di ketinggian 700 meter di atas permukaan laut. Menurut Cucu Suherman Viktor Zar, MSi, dosen Jurusan Budidaya Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran, penanaman nilam sebaiknya tanpa naungan. Tanaman ternaungi menyebabkan berkurangnya intensitas sinar matahari sehingga metabolisme tanaman terganggu. Akibatnya rendemen berkurang. “Bila ternaungi sampai 50% mungkin rendemen pun berkurang sekitar 50%,” tutur Cucu.

Soal ketinggian lokasi budidaya, Cucu mengatakan bahwa Pogostemon cablin adaptif hingga ketinggian 1.000 meter di atas permukaan laut. “Secara teori persentase rendemen nilam yang ditanam di dataran tinggi akan berkurang. Namun, kualitas kadar PA (patchouli alcohol) tinggi. Secara fisiologi pada dataran tinggi metabolisme nilam melambat, tapi zat-zat yang terkandung benar-benar matang,” kata Cucu.

Agus Yana di Gekbrong, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, membudidayakan nilam varietas sidikalang di ketinggian 900 meter di atas permukaan laut. Indra di Pasuruan juga menggunakan varietas yang sama. Agus menyuling nilam dengan teknologi konvensional-tanpa fermentasi-dan menghasilkan rendemen 2%. Rendemen itu lebih tinggi daripada rendemen Indra yang hanya 1,5%.

Rajang kecil

Menurut Herdi Waluyo penyuling nilam yang tumbuh di dataran tinggi sebaiknya mencacah daun hingga halus seperti teh. Menurut ahli nilam dari Universitas Jenderal Soedirman, Ir Prayitno MSi, secara umum pencacahan memang mampu meningkatkan rendemen 0,2-0,3%. Itu dengan syarat pencacahan normal berukuran 2-3 cm.

Namun, menurut dosen matakuliah Minyak Asiri di Fakultas Teknologi Pertanian Institut Pertanian Bogor, Dr Ir Dwi Setyaningsih, pencacahan berukuran kecil seperti daun teh (teh siap seduh) itu justru berpotensi kehilangan minyak nilam. Sebab, minyak nilam bersifat volatil atau mudah menguap. Selain itu dalam pencacahan superkecil, minyak berpotensi hilang akibat panas mesin ketika pencacahan berlangsung dan gesekan dengan pisau yang merusak sel daun.

Herdi menyarankan Indra Irawan menyuling daun basah. Pada penyulingan ke-2 sampai ke-4, Indra menyuling masing-masing 38 kg, 100 kg dan 85 kg daun basah. Daun hanya dirajang tanpa pengeringan. Menurut Cucu Suherman Viktor Zar tujuan pengeringan untuk mengurangi jumlah air agar tersisa minyak. Dengan demikian kualitas minyak hasil penyulingan lebih beraroma. Meski demikian penyimpanan terlalu lama juga berpeluang mengurangi kadar minyak

Rendahnya rendemen para penyuling yang menerapkan inovasi baru itu membuktikan bahwa teknologi pemanfaatan kapang untuk fermentasi nilam, masih menyisakan misteri. Artinya, di laboratorium, Nuryati membuktikan rendemen penyulingan yang tinggi (di atas 10%), tetapi di lapangan beberapa penyuling gagal membuktikan. Sayangnya, saat wartawan Trubus, Argohartono Arie Raharjo menghubungi Nuryati pada 19 November 2012, ia tak mengangkat telepon.

Wartawan Trubus, Muhammad Khais Prayoga, juga mendatangi perpustakaan Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati Institut Teknologi Bandung untuk mempelajari hasil riset dalam tesis Nuryati. Petugas perpustakaan mengatakan bahwa di perpustakaan tak ada tesis atas hasil riset Nuryati Djuli.

Dalam makalah pelatihan penyulingan nilam dengan fermentasi, Nuryati menulis, “Kegunaan dalam meningkatkan rendemen minyak, Rhizopus dapat menguraikan sumber karbon sederhana sampai kompleks. Misalnya berbagai macam gula dan selulosa, mempunyai beberapa enzim (pektinase dan selulase) yang berperan dalam fermentasi karena dapat merusak jaringan lamela tengan dan dinding sel daun, rusaknya sel daun dapat mengeluarkan minyak, sehingga dapat meningkatkan rendemen dengan qualitas yang baik.”

Nasi belum sepenuhnya menjadi bubur. Para penyuling yang sudah menerapkan teknologi fermentasi nilam tapi gagal menuai rendemen tinggi masih berharap. Dengan mesin yang ada dan prosedur yang tepat mereka masih mampu menghasilkan minyak minimal setara penyuling konvensional. (Sardi Duryatmo)


Keterangan Foto :

  1. Teknik fermentasi nilam menarik perhatian calon penyuling
  2. Kualitas minyak tergantung kadar PA
  3. Rendemen penyulingan konvensional paling tinggi 2 persen
  4. Penyimpanan terlalu lama sampai daun kering berpotensi mengurangi rendemen
  5. Penyuling konvensional mengandalkan bak untuk pendinginan saat kondensasi
  6. Rendemen varietas sidikalang dianggap rendah
  7. Proses pelayuan mengurangi kadar air di daun
  8. Herdi menyarankan cacah daun nilam hingga seukuran teh siap seduh
Previous articleEmpat Herbal Terlupakan
Next articleAlamat nara sumber
- Advertisement -spot_img

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img