Tuesday, November 29, 2022

Janji Kalifornia

Rekomendasi

Setiap bulan omzet Ali Wachid Rp105-juta dari perniagaan pepaya kalifornia.

 

Ali Wachid mendapatkan pasokan 10 ton per pekan pepaya berbentuk silindris dengan daging buah jingga pekat itu dari 30-40 pekebun mitra. Pengepul buah di Pasar Sentral Kecamatan Gamping, Kabupaten Sleman, Yogyakarta, itu lalu membagi buah ke dalam minimal tiga kelas: A, B, dan C. Buah pepaya masuk kelas A berbobot di atas 1,2 kg per buah, bentuknya lonjong lurus, warna semburat merah 30%, mulus, dan tanpa cacat fisik. Pepaya kelas B berbobot 0,5-1,2 kg, bentuknya agak bengkok, cacat fisik maksimal 20%, ujung buah agak runcing. Sedangkan pepaya kelas C berbobot maksimal 0,5 kg, cacat fisik, dan bentuk kurang sempurna.

Sebanyak 70% pasokan pekebun mitra masuk kelas A, sisanya B dan C. Pemilik UD Buah Agro itu lalu menjual pepaya dengan tingkat kematangan 80% itu kepada perusahaan pemasok ke toko buah dan pasar swalayan. Harga jual masing-masing kelas Rp3.000, Rp2.500, dan Rp2.000 per kg buah. Itu berarti omzetnya mencapai Rp26-juta per pekan atau Rp104-juta per bulan. Pantas bagi Ali Wachid pepaya kalifornia ibarat dewa penyelamat. Perniagaan kalifornia sejak 2008 menyambung nyawa usaha memasok buah-buahan yang nyaris sekarat karena pasokan mangga, rambutan, jeruk, dan semangka tidak kontinu.

Permintaan tinggi

Nun di Dusun Gondanglegi, Desa Wedomartani, Kecamatan Ngemplak, Kabupaten Sleman, Provinsi Yogyakarta, Widaryanto, mengebunkan 1.000 pohon kalifornia sejak Februari 2011. Dari jumlah itu setiap pekan Wiwid menuai 500-700 kg pepaya berbentuk bak selongsong kapsul raksasa itu.

Sebanyak 25% total panen masuk grade A, 15% grade B, 10% grade C, dan sisanya pepaya betina yang berbentuk bulat. Pepaya grade A untuk pasokan ke pasar swalayan dengan harga Rp2.700 per kg. Sementara grade B dijual ke pemasok buah untuk pasar tradisional dengan harga Rp2.300, grade C Rp1.500, dan pepaya betina Rp1.750. Total jenderal, setiap pekan Wiwid menuai omzet sekitar Rp1-juta atau Rp4-juta per bulan.

Pepaya kalifornia kini memang tengah jadi primadona pekebun, pengepul, dan pedagang. Permintaan pepaya kalifornia meningkat seiring bertambahnya kios-kios penyedia buah di luar pasar swalayan di berbagai kota.

Udi Yuswanto, pemasok kalifornia di Jakarta menghitung, kebutuhan satu gerai toko buah mencapai 20-30 per hari. Di Jakarta diperkirakan terdapat 300 gerai buah dan pasar swalayan sehingga total permintaan mencapai 6-9 ton per hari. Itu belum termasuk permintaan Pasar Induk Kramatjati misalnya yang membutuhkan 3 truk setara 21 ton per hari pepaya kalifornia. Ali baru bisa memenuhi 70% permintaan pasar. Ia juga masih belum sanggup menggarap permintaan dari pedagang buah di Jakarta dan Surabaya (Jawa Timur).

Pasar menyukai kalifornia karena kualitas buah sesuai kebutuhan. Menurut pengamatan Ali ukuran pepaya kalifornia ideal sebagai buah konsumsi keluarga kecil. “Tidak terlalu besar, tidak terlalu kecil,” kata Ali. Bobot buah Carica papaya itu rata-rata 800-1.500 g. Warna daging buah jingga menarik, cita rasanya manis. Di gerai buah, dengan bentuk silindris kalifornia gampang ditata. Pengalaman Ali menjual pepaya hawaii, ukuran buah kecil hanya 0,3-0,5 kg dan bentuk mirip pepaya kampung membuat konsumen enggan membeli. Pepaya bangkok sebaliknya, ukuran buah terlalu besar, bobot mencapai 4 kg per buah.

Menurut JK Sutanto, pioner penanaman pepaya kalifornia yang mengelola kebun di Subang, Provinsi Jawa Barat, kalifornia berasal dari Malaysia. Sutanto mulai mengembangkan betik itu pada 1998. Para pekebun di berbagai daerah menanam kalifornia yang benihnya diperoleh dari Pusat Kajian Hortikultura Tropis Institut Pertanian Bogor (PKHT-IPB). PHKT merilis kalifornia alias IPB-9 setelah riset sejak 2000.

Sentra baru

Untuk memenuhi permintaan pasar Ali Wachid menjalin kemitraan dengan 30-40 pekebun di seputaran Yogyakarta dengan masing-masing kepemilikan lahan 0,5-1 ha. Ia memberikan penyuluhan kepada pekebun tentang teknik budidaya pepaya kalifornia agar dihasilkan buah berkualitas prima. Ali juga memberi pinjaman modal berupa benih dan pupuk kepada pekebun.

Ali melakukan itu untuk memastikan kontinuitas pasokan. Pedagang itu pernah mengambil pasokan dari Magelang (Jawa Tengah) dan Kediri (Jawa Timur). Apa lacur pasokan kerap tersendat. Ongkos angkut pun mahal.

Tingginya permintaan membuat para pekebun memperluas areal penanaman. Semula Risun di Desa Mujur Lor, Kecamatan Kroya, Kabupaten Cilacap, Provinsi Jawa Tengah, menanam kalifornia di lahan 0,5 ha pada 2008. Dua tahun berselang kepala Unit Pelaksana Teknis (UPT) Dinas Pertanian dan Peternakan Kabupaten Cilacap Wilayah Kroya itu memperluas jadi 2 ha.

Harap mafhum, panen pertama pada umur 9 bulan pascatanam, Risun mengantongi pendapatan Rp12-juta hasil penjualan 6 ton pepaya dari 1.000 tanaman. Hasil itu baru 1/10 dari total volume panen hingga tanaman berumur 4 tahun. “Tinggal ongkang kaki dapat Rp12-juta karena pengepul berani petik senditi,” tutur Risun kepada wartawan Trubus, Sardi Duryatmo, waktu ditemui pada pertengahan 2010.

Sentra baru pun bermunculan di berbagai daerah. Sebut saja di Kabupaten Purbalingga, Banjarnegara, dan Kebumen (Jawa Tengah). Data Dinas Pertanian dan Peternakan Kabupaten Kebumen menyebutkan luas areal tanam pepaya kalifornia di kawasan itu mencapai 200 ha. Dari luasan itu didapat 317 ton pepaya per pekan.

Risiko besar

Bak dua sisi mata uang, manisnya usaha pepaya juga penuh kendala. Para pekebun mesti mewaspadai serangan penyakit akibat cendawan antraknosa dan cendawan Colletrichum gloeoporioides, serta hama kutu putih Paracoccus marginatus. Kutu putih menjadi momok sejak 2008 karena penyebarannya sangat cepat. Produktivitas pohon terserang bisa turun hingga 100% Untuk mengatasi serangan hama dan penyakit Dinas Pertanian dan Peternakan Kabupaten Kebumen gencar mengatifkan kegiatan sekolah lapang pengendalian hama dan penyakit terpadu (SLPHT).

Kendala lain kualitas benih di pasar beragam. Pertama kali menanam kalifornia, setengah dari 300 tanaman di kebun Widaryanto menghasilkan pepaya betina. Di pasaran harga buah betina lebih rendah daripada pepaya jantan. Buah betina kurang disukai karena berbentuk bulat dengan bagian tengah kosong sehingga porsi daging yang dimakan sedikit. Menurut ahli buah di Bogor, Jawa Barat, Ir Wijaya MS, idealnya jumlah pepaya betina yang dihasilkan kurang dari 30%.

Untuk mengatasinya, kini Wiwid menanam dua bibit dalam setiap lubang tanam. “Jika salah satu tanaman ternyata menghasilan bunga betina, tinggal ditebang sehingga yang tersisa yang dominan berbunga hermapordit,” katanya. Pilihan lain membeli benih langsung ke lembaga terpercaya. Itu demi laba dari janji kalifornia. (Imam Wiguna/Peliput: Andari Titisari)

Keterangan foto :

  1. Kalifornia disukai karena cita rasa manis, ukuran ideal untuk konsumsi keluarga kecil
  2. Ali Wachid, perniagaan kalifornia penyelamat usaha memasok buah-buahan
  3. Sentra penanaman pepaya kalifornia muncul di berbagai daerah
  4. JK Sutanto, pionir penanaman pepaya kalifornia
  5. Permintaan tinggi datang dari kios buah sampai pasar modern
Previous articleMereka Calon Idola
Next articleDalhari Lebat dalam Pot

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Mencetak Petani Milenial, untuk Mengimbangi Perkembangan Pertanian Modern

Trubus.id — Perkembangan pertanian modern di Indonesia harus diimbangi dengan sumber daya manusia (SDM) yang mumpuni. Dalam hal ini...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img