Monday, August 8, 2022

Jejak Jamal di Lahan Jernang

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img
Pembibitan jernang di tempat Jamaluddin.

Memperkenalkan budidaya jernang dan memilihnya sebagai jalan hidup.

Jamaluddin berhasil mengebunkan jernang. (Dok. Jamaluddin & CV Guna Makmue Gampong)

Trubus — Jamaluddin (33) menunjukkan tanaman jernang yang tumbuh menaungi pohon kopi. “Jika perawatan tepat, keduanya berproduksi optimal,” ujar warga di Kabupaten Bireuen, Aceh, itu. Ia tidak sekadar membuktikan jernang bisa dibudidaya, bahkan secara tumpang sari dengan tanaman produktif lain. Ia menanam jernang gading yang warna buahnya merah hitam. Jamaluddin memanen buah dari 800 pohon Daemonorops draco berumur lima tahun pada 2019. Ia menanam jernang pada 2014.

Volume panen 100 kg. Produksi itu meningkat 100% dibandingkan dengan panen pertama, akhir 2018. Saat magori atau panen perdana, ia mendapat 50 kg dari semua pohon. Pada 2020 produksi kembali melonjak, Jamaluddin mendapat 500 kg buah segar. Harga pada 2018 dan 2019 Rp500.000 per kg, sedangkan panen terakhir harganya turun menjadi Rp450.000. Pemicu penurunan itu adalah pandemi virus korona yang mengakibatkan berkurangnya permintaan dari Tiongkok sebagai pembelinya.

Cibiran tetangga

Jamal, panggilan akrabnya, memanen 2—3 bulan sekali. lalu ia mencatat jumlah panen per enam bulan. Dengan demikian jumlah panen itu hasil 2—3 kali petik. Hanya hasil panen pertama pada akhir 2018 yang ia jual. Selanjutnya ia memanfaatkan hasil panen menjadi bibit. Maklum, sebelum memanen buah pun ia memproduksi bibit sejak 2018. Bibit itu berasal dari tunas anakan yang muncul di sekitar tanaman induk.

Jernang gading tergolong jernang super dengan rendemen resin tinggi.

Selain untuk menanam di lahan sendiri, bibit ia kirimkan kepada pembeli di berbagai daerah. Pesanan datang dari berbagai daerah antara lain Nusa Tenggara Timur, Banjarmasin, Jawa Barat, Jawa Timur, Jambi, dan Lampung. Bahkan, Jamal pernah melayani permintaan kecambah dari Kota Augusta, Georgia, Amerika Serikat. “Dengan jernang saya bisa menghidupi keluarga, membeli kendaraan, atau membangun rumah,” kata Jamal.

Jernang membawanya melalui titik terendah dalam hidup. Sempat berjaya di sektor pertambangan, ia bangkrut dan terpuruk. Ia lantas mengunjungi kerabat di Malaysia sembari mencari peluang menjadi pekerja migran. Di sana ayah empat anak itu diperkenalkan dengan manajer pengolahan jernang. Mengetahui Jamal dari Aceh, sang manajer mengajak kerja sama dengan memintanya menjadi pemasok.

Jamaluddin (33) menyanggupi padahal saat itu belum tahu bentuk jernang seperti apa. Sepulang ke Bireuen, barulah ia tahu bahwa daerah lain di Aceh tengah ramai membudidaya tanaman anggota famii Arecaeae itu. “Di Bireuen malah belum ada. Padahal, di sini banyak pengolah jernang,” kata Jamal. Ia tertarik menanam sendiri. Saat itu ia mempertimbangkan banyak kendala jika menerjuni bisnis buah jernang. Modal, saingan, dan relasi semuanya tidak ia punyai.

Setelah berpikir panjang, ia lantas melego mobil miliknya. Jamaluddin menjadikan sisa tabungan plus hasil penjualan mobil sebagai modal membeli sehektare lahan dan 10.000 bibit jernang gading. Harga bibit Rp10.000 per polibag sehingga plus ongkos kirim, biaya tanam, dan harga polibag saja ia membelanjakan Rp120.000. Tindakan itu membuat masyarakat sekitarnya terheran-heran. Orang yang mengerti jernang menganggap langkahnya konyol karena jernang banyak tumbuh liar di hutan.

Mereka yang tidak paham menertawakan pilihannya menanam jernang yang durinya besar-besar, berbatang besar, tapi memerlukan penopang. Sudah begitu, Jamaluddin awam ilmu budidaya tanaman. Akibatnya 90% bibit mati dalam tahun pertama penanaman. “Makin ramai orang tertawakan saya,” ujarnya mengenang. Ia sempat agak terpengaruh, apalagi setahun berjalan jernang sama sekali belum mendatangkan uang.

Sertifikasi

Meski demikian ia meneruskan menjalani pilihannya. Selain itu ia menekuni bisnis lain untuk memutar perekonomian keluarga. Lantaran produksi buah maupun bibit jernang nihil, mau tidak mau sebagian penghasilannya tersedot untuk merawat dan memupuk jernang. Tantangan belum berakhir, sebagian tanaman terus mati sampai tersisa 800 dari 1.000 bibit. Untungnya Jamal mulai menguasai teknik budidaya.

Pengemasan bibit sebelum pengiriman.

Ia rutin melakukan perawatan berupa pemupukan, pemangkasan, atau pemeliharaan pohon peneduh. Perlahan bibit-bibit itu menjulur dan tumbuh subur. Memasuki tahun ketiga atau mulai umur dua tahun, satu per satu tanaman mulai memunculkan tunas anakan. Ia membiarkan tunas-tunas itu tumbuh menjadi tanaman baru di samping induknya agar terbentuk rumpun yang kokoh. Pada 2019, tanaman memasuki siklus berbuah kedua. Ia membiarkan buah rontok.

“Itu menandakan biji siap dibibitkan,” ujarnya. Jamal menerapkan keahlian profesi sebelumnya sebagai tenaga pemasar untuk memperkenalkan bibit dari kebunnya. Jamal juga rutin mengunggah video di kanal berbagi tayang sebagai salah satu caranya memasarkan. Kebetulan, masyarakat mulai melirik jernang sebagai tanaman pekarangan sehingga bibit buatannya laris. Dalam setahun ia mampu memproduksi lebih dari 10.000 bibit dari satu ton biji.

“Salah satu pembeli saya di Riau mengganti sawit di pekarangannya dengan jernang,” kata Jamal. Ia kemudian mendirikan CV Guna Makmue Gampong pada 2019. Pada Agustus 2020, Balai Perbenihan Tanaman Hutan Wilayah I Palembang menerbitkan sertifikat bibit jernang gading produksi Jamal. Sertifikat itu menyatakan jernang gading pancar jelobok dari pembibitan Jamal benar bersumber dari tegakan benih teridentifikasi. Suara tawa yang dulu kerap terdengar kini berganti dering telepon dari calon pembeli. (Argohartono Arie Raharjo)

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img