Friday, December 2, 2022

Jejak Pemangsa di Madagaskar

Rekomendasi

Salah satu yang melegenda Nepenthes madagascariensis, kantong semar pertama yang diidentifikasi botanis. Tiga ratus lima puluh tahun silam Etienne de Flacourt asal Perancis menemukan N. madagascariensis tumbuh menghampar di permukaan tanah lembap berpasir dan rawa-rawa bakau. Kantongnya yang berwarna hijau kekuningan menyembul di antara semaksemak.

Pada saat itu, 1658, nepenthes pertama kali ditemukan di dunia dan diberi nama anramitaco. Selang 139 tahun Jean Louis Marie Poiret, ahli botani asal Perancis, memberinya nama N. madagascariensis lantaran endemik di pulau terbesar ke-4 di dunia itu.

Lantaran penampilan madagascariensis elok, Charles Curtis – ahli botani asal Inggris – yang mengunjungi Madagaskar pada 1878 dan 1879 tertarik untuk membudidayakan. Anggota famili Nepenthaceae itu pun sukses dikembangkan Veitch Nurseries di negara Pangeran Charles. Sayang, kini tanaman itu seakan terlupakan dan jarang dibudidayakan. Padahal, keberadaannya di alam semakin berkurang lantaran tergusur oleh lahan pertanian.

Kantong raksasa

Penasaran kondisi madagascariensis di alam, perjalanan ke Madagaskar pun dilakukan pada akhir September 2006. Perjalanan di mulai dari Fort Dauphin di bagian selatan pulau seluas 4 kali Pulau Jawa itu. Menurut literatur kantong semar itu banyak tumbuh di sana. Ditemani seorang pemandu, kami langsung menuju lokasi habitat alami kobe-kobe itu. Setelah berkendaraan jip selama 1 jam akhirnya madagascariensis tersaji di depan mata. Sungguh pemandangan yang luar biasa. Sekitar 300 tanaman dewasa dengan 100 anakan tumbuh sehat di tepi rawa bakau. Mereka tumbuh sekitar 10 m di sisi jalan.

Kantongnya berukuran jumbo. Panjang kantong atas mencapai 25 cm dan kantong bawah hingga 14 cm. Kantong atas berwarna kuning terang sedangkan kantong bawah ungu kemerahan. Penampang melintang bagian dasar kantong berbentuk lingkaran; bagian atas berbentuk silinder. Ia biasanya tumbuh di permukaan tanah. Namun, bila di sekitarnya terdapat pohon, ia tumbuh merambat hingga ketinggian 9 m.

N. madagascariensis yang tumbuh di ketinggian 0 – 500 m dpl itu berkerabat dekat dengan N. masoalensis. Yang disebut terakhir tumbuh di semenanjung Masoala di pantai barat Madagaskar dan wilayah Gunung Ambato. Sayang, lokasi tumbuh periuk kera itu terpencil dan perlu izin khusus untuk menuju ke sana. Niatan mengunjungi kerabat saracenia itu pun urung dilakukan. Meski begitu, penjelajahan tanaman karnivora di pulau seluas 587.040 km2 itu tetap berlanjut. Target berikutnya adalah drosera.

Superlambat

Embun matahari banyak tumbuh di Madagaskar, tapi yang paling menarik, Drosera humbertii. Menurut Henri Humbert, anggota famili Droseraceae itu hanya tumbuh di puncak Gunung Mayojejy di Taman Nasional Mayojejy, timur laut Madagaskar.

Untuk mencapai lokasi tak mudah, kami harus berjalan kaki melewati hutan hujan tropis yang padat dan subur di kaki gunung. Kondisi hutan pun masih sangat alami dengan lemur, burung, dan artropoda berpenampilan menarik yang hidup liar. Contohnya milipede atau kaki seribu berwarna hitam sepanjang 10 cm yang akan menggulung seperti bola ketika diganggu. Kami juga menemukan milipede hijau. Penampilannya menyolok di antara sampah daun tua.

Lantaran asyik menikmati keindahan flora dan fauna di sepanjang perjalanan, tak terasa kami telah berjalan kaki selama 10 jam. Pendakian pun dihentikan. Kami berkemah di bawah naungan kayu yang sengaja dibangun oleh penjaga taman nasional. Perjalanan dilanjutkan keesokan hari. Sayang, kondisi cuaca saat itu tak mendukung pendakian lantaran hujan turun deras disertai angin kencang. Namun, itu tak menghalangi perjalanan menuju puncak. Empat jam berselang puncak yang gundul dan berangin berhasil ditaklukkan. Tak ada pohon kayu yang tumbuh, hanya rumput pendek, anggrek, dan semak.

Tanpa membuang waktu kami pun langsung mencari D. humbertii karena di kejauhan sudah tampak awan tebal berwarna abu-abu yang semakin mendekat. Sang pemandu pun mengingatkan kalau kami hanya punya waktu satu jam sebelum hujan turun. Setelah menyusuri rerumputan dan semak selama 20 menit, akhirnya tampak ribuan tanaman berdaun lengket berwarna merah terang tumbuh di atas batang berkayu.

Tinggi batang 15 cm sehingga terlihat menyolok di antara tanaman lain di sekitarnya. Posisi itulah yang dimanfaatkan humbertii untuk menjebak serangga yang jadi mangsa. Tak seperti drosera afrika lainnya, pertumbuhan humbertii di alam sangat lambat. Bila dilihat dari tinggi batangnya yang mencapai 15 cm, diperkirakan umurnya sudah puluhan tahun.

D. nataliensis

Seperti yang telah diperkirakan, hujan turun deras. Kami terpaksa turun dari puncak gunung berketinggian 2.133 m dpl itu. Dalam perjalanan pulang, pada ketinggian sekitar 400 m dpl di bawah puncak gunung, tanpa sengaja kami menemukan D. nataliensis. Bentuk tanaman roset berwarna merah terang berukuran mini. Ia tumbuh di vegetasi padat, umumnya di semak-semak. Ia juga ditemukan tumbuh di atas permukaan tanah basah dan berlumut yang terkena sinar matahari langsung.

Selain nataliensis, kami juga menemukan D. madagascariensis. Lokasinya hanya berjarak 100 m dari nataliensis, tepatnya 500 m di bawah puncak gunung. Ukuran madagascariensis lebih besar dibandingkan humbertii dan nataliensis. Tanaman tumbuh tinggi hingga 25 cm. Madagascariensis membentuk 1 atau 2 tangkai bunga sepanjang 20 – 40 cm dan menghasilkan 4 – 12 bunga. Ia tumbuh di rawa dan tanah berlumpur.

Dalam perjalanan, kami juga menjumpai Clitoria ternatea. Warna bunganya yang biru terlihat mencolok di sela-sela daun hijau. Tak heran bila Madagaskar sangat terkenal. Flora dan faunanya menarik dan beranekaragam.***

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Alasan UGM Mendorong Konversi LPG ke Kompor Listrik

Trubus.id — Ketergantungan penggunaan kompor gas LPG terus meningkat. Itu yang menjadi salah satu alasan Pusat Studi Energi (PSE)...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img