Wednesday, August 10, 2022

Jeruk Cina Berjaya di Mangga Dua

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

Memang sejak awal, penampilan Fortunella japonica milik Dewi Tara langsung memikat pandangan. Dengan tinggi 2 m, tabulampot itu harus dinaikkan kereta dorong saat dibawa masuk ke tempat lomba di lantai dasar.

Buah lebat dan daun mengkilap menjadi keunggulan tanaman hasil okulasi berumur 5 tahun itu. Tajuk menyerupai kapsul raksasa dibentuk rapi dengan kawat berdiameter 2 mm sebagai rangka. Diameter tajuk mengikuti ukuran mulut pot keramik berornamen naga khas Tiongkok. Ujung-ujung cabang dihiasi buah jingga kekuningan yang muncul serempak, disemarakkan dominasi merah aneka ornamen khas Imlek.

Rapinya percabangan, kelebatan dan kematangan buah yang merata, serta keserasian pot menjadi kelebihannya, kata Alandis Chandra, salah seorang juri. Kendati demikian, penentuan gelar juara itu tak selancar air mengalir. Tiga juri yang menilai harus berunding menentukan pemenang. Kerap kali mimik mereka berubah serius saat beradu argumen. Tak hanya penampilan prima, keterkaitan dengan tema Imlek menjadi poin tersendiri. Maka perebutan juara ke-2 menjadi ajang persaingan sengit antara jeruk kip emas milik Wijaya Tani dan jeruk sunkis jingga dari Dewi Tara.

Meskipun sama-sama menggunakan pot keramik, batu taman berwarna merah menutupi media tanam mendongkrak penampilan jeruk emas Wijaya Tani. Itu pula yang membuat juri menobatkannya menjadi juara ke-2 dengan nilai 1.230. Sunkis jingga milik Dewi Tara mengumpulkan nilai 1.128. Selain hiasan yang mendukung tema Imlek, penampilan buah kip emas lebih segar dibandingkan sunkis yang agak keriput. Sepintas, buah sunkis di pohon Dewi Tara memang terlihat kering sehingga kulitnya mengeriput dan warnanya menjadi kurang atraktif. Lagipula, tabulampot kip emas tampil serasi dengan wadahnya. Warna hijau pot melambangkan kemakmuran diperkuat keberuntungan yang disimbolkan batu merah.

Vitamin B1

Sang juara sejatinya diimpor dari Guangzhou, RRC. Ia dibawa dari sana dalam kondisi sedang berbuah. Menurut Santo, penanggung jawab operasional PT Istana Alam Dewi Tara, Pengiriman menggunakan kontainer berpengatur tekanan udara. Dengan begitu, suhu, kelembapan, dan tekanan udara dalam kontainer dapat disesuaikan. Tanaman terhindar dari risiko kekeringan meski berhari-hari berada dalam kontainer tertutup tanpa disiram. Cara itu biasa dilakukan untuk mengirim tanaman besar lewat laut.

Itu masih ditambah dengan shading net yang menyelubungi tiap pohon untuk menjaga kelembapan. Ganjal balok-balok kayu diselipkan di antara pot guna mencegah benturan saat bongkar-muat. Menghadapi Imlek tahun ini, Dewi Tara mendatangkan 4 kontainer tabulampot jeruk. Tiap kontainer berisi 165 tanaman, papar Silvi. Tanaman yang didatangkan tingginya berkisar 0,5-2 m.

Tanaman dalam pot tiba pertengahan Januari 2007. Di Jakarta dirawat oleh staf Dewi Tara dengan menyemprotkan larutan B1 sesuai dosis. Frekuensi penyemprotan setiap 3-7 hari, tergantung cuaca. Selain itu, penyiraman tiap pagi dan sore. B1 menyebabkan buah tidak mudah rontok, kadang sampai mengering di pohon pun tidak jatuh, kata Santo. Pemangkasan tidak perlu dilakukan karena dapat mengubah bentuk keseluruhan.

Kurang siap

Berbeda dengan juara ke-2. Fortunella japonica itu ditumbuhkan di tanahair. Wijaya Tani memperbanyak secara cangkok dari tanaman induk sendiri. Bibit dari cangkokan berbuah setelah 1 tahun lebih, ujar Mubin Usman, pemilik Wijaya Tani. Agar tanaman sehat dan berbuah lebat, vitamin B1 rutin disemprotkan. Di samping itu, pupuk daun disemprotkan seminggu sekali. Hasilnya, batang seukuran kelingking disarati buah.

Pantas bila jeruk emas Wijaya Tani mampu unjuk gigi di ajang lomba tabulampot jeruk imlek pada Trubus Agro Expo 2007 di Mangga Dua, Jakarta Barat. Meski dikepung produk impor yang didatangkan langsung dari Cina, ia meraih tempat kedua. Untuk mendukung tampilan saat lomba, pria kelahiran 1940 itu memilih pot impor dari Tiongkok. Tabulampot setinggi 50 cm berumur 1,5 tahun itu tampak serasi dengan hiasan pita merah.

Sayang, peserta lain yang notabene produk lokal bernasib kurang baik. Buahnya lebat, tapi matangnya tidak seragam. Sebagian sudah kuning dan sebagian lagi masih hijau. Para pemiliknya tidak mempersiapkan jauh-jauh hari. Cara khusus menyeragamkan pematangan buah tidak dilakukan. Itu pula yang menyebabkan sebagian besar kebutuhan tabulampot jeruk untuk perayaan Imlek masih diimpor dari RRC.

Menurut Dr Winarno MSc, mantan Direktur Buah Direktorat Jenderal Hortikultura Departemen Pertanian, ritual perayaan Imlek sebenarnya merupakan peluang bagi pekebun tanahair. Namun, Kita selalu terbentur permodalan dan ketersediaan bibit, katanya. Kendala lain, daratan Tiongkok memang cocok untuk penanaman jeruk yang aslinya buah subtropis. Tidak heran produksi di sana bisa lebih tinggi, papar Winarno. (A. Arie Raharjo)

 

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img