Monday, April 15, 2024

Jeruk : Sukses Panen Chokun

Rekomendasi
- Advertisement -

Wayan Supadno membudidayakan jeruk chokun asal Thailand secara organik di lahan 17 hektare.

Banyak orang mencibir Wayan Supadno ketika hendak mengebunkan jeruk chokun di Pangkalanbun, Kabupaten Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah, di lahan 17 hektare. Harap mafhum, sebelumnya tidak pernah ada yang mengebunkan jeruk di sana apalagi dalam skala luas. Kini, 8.000 pohon jeruk chokun berumur 3,5 tahun itu berbuah. Wayan mematahkan cibiran.

Yang menggembirakan, harga jual jeruk introduksi asal Thailand itu Rp18.000 per kg. Itu jauh lebih tinggi dibandingkan dengan harga jual jeruk siam dari kebun tetangganya yang hanya Rp6.000 per kg. Sayangnya Wayan belum menghitung seluruh hasil panen pada musim 2018. Harga tinggi lantaran konsumen menggemarinya. Rasanya sangat manis dengan kombinasi sedikit masam sehingga menyegarkan.

Konsumen menggemari

Hasil panen jeruk chokun selalu habis. Konsumen memborong meski berharga jauh lebih mahal daripada jeruk siam. “Sebagian besar pembeli adalah konsumen langsung, seperti perusahaan-perusahaan perkebunan kelapa sawit,” ujar Wayan. Keunggulan lain, jeruk chokun milik Wayan adalah jeruk organik. Ia hanya mengandalkan kombinasi pupuk kandang dan pupuk hayati sebagai sumber nutrisi.

Hamparan kebun chokun organik milik Wayan Supadno.

Wayan girang. “Yang pasti hasil panen saat ini saya sudah balik modal,” tutur pria kelahiran Banyuwangi, Jawa Timur, itu. Magori atau panen perdana pada 2017. Chokun di kebun Wayan berbuah susul-menyusul. Sebagian dipanen, sebagian lagi ada yang baru muncul bunga dan ada juga yang masih pentil. Padahal, kualitas tanah rendah dan hanya semak belukar (lihat ilustrasi: Berkebun Chokun).

Wayan merendam pupuk kandang—berasal dari Jawa—dalam larutan pupuk hayati yang mengandung beberapa jenis mikrob, seperti Azospirillum sp, Azotobacter sp, Rhizobium sp, Pseudomonas sp, Bacillus sp, dan bakteri pelarut fosfat (lihat boks: Jasa Besar Makhluk Kecil). Larutan itu juga mengandung zat perangsang tumbuh, seperti hormon auksin, sitokinin, kinetin, zeatin, giberelin, asam absisat, etilen, asam traumalin, dan asam humat. Kemudian, Wayan meletakkan pupuk tetap dalam karung di dekat akar pohon.

“Inovasi dan efisiensi sangat penting agar produk kita bisa bersaing,” tuturnya. Dengan teknik pemupukan itu, Wayan menghemat biaya produksi hanya Rp2.500 per kg. Menurut Wayan meski pupuk organik terurai perlahan, kebutuhan nutrisi tanaman tetap terpenuhi. “Itu berkat bantuan kinerja mikrorganisme yang terkandung dalam pupuk hayati,” ujar pekebun berusia 51 tahun itu.

Semula cibiran kini Wayan menerima sanjungan. Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Perkebunan Kotawaringin Barat bahkan berencana menjadikan jeruk chokun produksi Wayan sebagai produk unggulan. Kabupaten yang bersemboyan Marunting Batu Aji—berarti menuju kejayaan—itu akan mengembangkan chokun.

Wayan Supadno mengebunkan jeruk chokun di lahan 17 hektare.

Jasa Besar Makhluk Kecil

Menurut peneliti Pusat Penelitian Biologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Dra. Sri Widawati, bakteri Azospirillum sp. mampu menambat nitrogen (N2) dari udara dan mengubahnya menjadi amonia (NH3) menggunakan enzim nitrogenase. Amonia itu kemudian diubah menjadi glutamin dan alanin sehingga tanaman dapat menyerapnya dalam bentuk nitrat (NO3-) dan amonium (NH4+).

Bakteri itu juga mampu melarutkan fosfor (P) yang terikat pada aluminium (Al), kalsium (Ca), dan besi (Fe) dalam tanah menjadi unsur P tersedia bagi tanaman. Azospirillum juga dapat memproduksi indole acetic acid (IAA) untuk merangsang pertumbuhan tanaman sehingga dapat meningkatkan efisiensi pemupukan. Azotobacter sp dan Rhizobium sp sejatinya berperan sama dengan Azospirillum sp, yakni sebagai penambat nitrogen dan pelarut fosfat sekaligus.

Adapun Pseudomonas sp dan Bacillus sp lebih dikenal sebagai bakteri pelarut fosfat yang baik. Menurut peneliti Balali Penelitian Tanah, Dr. Ir. Robert Djonggi Maruli Simanungkalit, bakteri pelarut fosfat melepaskan ikatan fosfat anorganik yang sukar larut dengan mensekresikan sejumlah asam organik, seperti asam format, asetat, propionat, laktat, glikolat, fumarat, dan suksinat.

Keunggulan lain, kedua bakteri itu juga berperan sebagai agen pengendali hayati. Dalam berbagai penelitian menyebutkan bakteri Pseudomonas flourescens dan Bacillus sp dapat berperan sebagai pengendali penyakit layu pada tanaman. Dengan memanfaatkan agen hayati, unsur hara yang terkandung dalam tanah dan pupuk organik menjadi termanfaatkan secara optimal untuk pertumbuhan tanaman. (Imam Wiguna)

Previous article
Next article
- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Sensasi Rasa Pir pada Durian Kawe

Trubus.id—Indonesia memiliki ragam durian lokal yang tak kalah enak. Salah satunya durian kawe dari Kabupaten Batang, Provinsi Jawa Tengah....
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img