Wednesday, August 10, 2022

Jintan Jagoan Dongkrak Imun Tubuh

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

Jintan hitam mengandung timokuinon untuk meningkatkan imun tubuh.

Jintan hitam mengandung senyawa aktif timokuinon. (Dok. Trubus)

Trubus — Wiwit Yustiani mengolah daun jintan menjadi campuran opor ayam. “Kalau biji jintan putih biasa diolah sebagai bumbu tapi masih jarang orang yang mengolah daun,” kata alumnus Manajemen Universitas Airlangga Surabaya. Seorang tetangga memberinya daun jintan cukup melimpah untuk lauk sekeluarga. Rasanya mirip daun poko Mentha sp. Pedas dan sedikit pahit dengan aroma cukup menyengat.

Selain mengolah daun, warga Kecamatan Gandusari, Kabupaten Trenggalek, Jawa Timur, itu menyisihkan batang untuk ditanam di pekarangan rumahnya. Daun jintan yang diolah Wiwit itu sejatinya Coleus amboinicus. Jintan yang kerap dipakai sebagai bumbu adalah jintan putih Cuminum cyminum sedangkan untuk obat tradisional disebut jintan hitam Nigella sativa. Meski sama-sama bernama jintan, ketiganya jelas tanaman yang berbeda.

Tiga tanaman

Daun jintan C. amboinicus anggota famili Lamiaceae dan berasal dari Afrika Selatan dan Timur. Jintan putih C. cyminum tergolong famili Apiaceae dengan habitat asli di Laut Tengah bagian timur hingga India bagian timur. Jintan hitam N. sativa termasuk famili Ranuculaceae yang telah digunakan sejak ribuan tahun lalu oleh masyarakat India, Pakistan, dan Timur Tengah.

Jintan putih Cuminum cyminum kerap dipakai sebagai bumbu. (Dok. Trubus)

Jintan inilah yang sohor dengan berbagai khasiat dan disebut dalam kitab suci umat Muslim dan Kristiani. Salah satu resepnya dipopulerkan oleh pegiat gaya hidup sehat ala Rasulullah, dr. Zaidul Akbar untuk menangkal virus dengan memperkuat imun (lihat boks Resep Jus Antivirus).

Riset ilmiah menyatakan jintan hitam Nigella sativa merangsang dan memperkuat sistem imun tubuh manusia melalui peningkatan jumlah, mutu, dan aktivitas sel imun. Itu terbukti pada penelitian Ahmad Nurdin dan Helmia Hasan. Periset dari Departemen Pulmonologi dan Ilmu Kedokteran Respirasi, Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga itu menguji pengaruh suplemen jintan hitam pada penderita tuberkolusis paru yang tengah menjalani terapi obat antituberkolusis (OAT).

Ada dua aspek yang diamati yakni keberadaan bakteri Mycobacterium tubercolusis, sputum—lendir yang dikeluarkan waktu batuk—dan kadar IFN-γ sebagai respons imun tubuh penderita. Ahmad dan Helmia melibatkan 56 pasien tuberkolusis (TB) paru di RSUD dr. Soetomo Surabaya sebagai subjek penelitian. Keseluruhan subjek sedang menjalani terapi OAT.

Timokuinon

Daun jintan Coleus amboinicus dapat diolah menjadi sayur. (Dok. http://bibitbunga.com/)

Periset membagi subjek ke dalam dua kelompok yakni kelompok kontrol (terapi OAT tanpa jintan hitam dan kelompok perlakuan (terapi OAT dan jintan hitam). Subjek perlakuan mengonsumsi kapsul ketsah—sebutan jintan hitam dalam Alkitab—sebanyak 2 kapsul masing-masing 500 mg sekali sehari selama dua minggu pada fase intensif.
Riset Ahmad dan Helmia membuktikan adanya kenaikan kadar IFN-γ kelompok perlakuan 9,0 pg/ml dari rerata 56,7 pg/ml menjadi 65,7 pg/ml. Kelompok kontrol juga mengalami kenaikan IFN-γ tetapi lebih kecil yakni rerata 2,6 pg/ml. Rerata kadar awal 54,7 pg/ml naik menjadi 57,3 pg/ml. Pemeriksaan sputum juga menunjukkan perubahan signifikan.

Pascaterapi, sebesar 89,3% kelompok perlakuan terdeteksi negatif mengandung bakteri penyebab TB. Sementara itu, kelompok kontrol hanya 67,9% yang berubah negatif atau tidak terdeteksi M. tubercolusis dalam sputumnya. Biji jintan hitam mengandung senyawa aktif minyak asiri timokuinon dan asam linoleat. Timokuinon memiliki aktivitas imunomodulator yang dapat memperbaiki atau membangun kembali sistem imun yang kurang sempurna atau mengalami disfungsi.

Biji habbatussauda itu bekerja dengan menstimulasi sel T CD4 untuk memproduksi IFN-γ sebagai respons imun seluler. Pada fase intensif, kuman mikobakterium dapat terbunuh dengan cepat dalam waktu 2 minggu. Penderita yang semula positif terinfeksi berubah menjadi negatif karena adanya terapi.

Riset lain oleh Yufri Aldi dan Suhatri mengujikan ekstrak etanol jintan hitam pada hewan coba mencit. Periset dari Fakultas Farmasi Universitas Andalas itu memberikan ekstrak sekali sehari selama 6 hari berturut-turut. Dosisnya 50 mg, 100 mg, dan 200 mg—semua per kg bobot badan. Ekstrak etanol biji jintan hitam meningkatkan jumlah sel leukosit darah yang berperan dalam sistem imun.

Periset mengamati peningkatan signifikan terjadi pada sel limfosit dan monosit sedangkan jumlah neutrofil segmen menurun. Sementara itu, jumlah sel eusinofil dan neutrofil batang tidak terlalu terpengaruh. Ekstrak etanol black cummin itu mengandung senyawa alkaloid, steroid, dan saponin. (Sinta Herian Pawestri)

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img