Monday, August 8, 2022

Juragan Adenium yang Besar di Jalan

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

Dengan modal Rp200-ribu ia bangkit dengan usaha baru. Kini Imron terkenal sebagai juragan adenium Gresik beromzet Rp35-juta/minggu. Inilah suasana ruang pamer adenium seluas 2000 m2 milik Imron di Kabupaten Gresik, Jawa Timur, setiap akhir pekan. Jalan selebar 4 m yang membelah kebun disesaki kendaraan roda 4 seperti Honda Odyssey dan Toyota Innova. Di luar kebun 2 Panther keluaran terbaru diparkir di seberang. Itu pelanggan yang datang untuk berburu kamboja jepang, kata Imron. Pelanggan biasanya kolektor adenium dari berbagai kota di Jawa Timur seperti Surabaya, Situbondo, dan Ponorogo.

Di sisi kiri-kanan jalan kebun berjajar pilar-pilar berjarak 1 m. Di atasnya bertengger 18 Adenium obesum berdiameter bonggol di atas 60 cm dan bertabur bunga. Mereka seolah menyambut kedatangan pelanggan yang bersedia meminang. Di balik tanaman berukuran besar terhampar ribuan obesum semaian biji maupun grafting berukuran 15-25 cm. Perputaran tanaman sangat cepat. Saya tak tahu persis jumlah tanaman saat ini. Nurseri ini seperti kebun transit saja, kata pemilik Vivin Indah Nurseri itu.

Dari nurseri yang dibangun pada Maret 2006 itu seminggu 2 kali dikirim 800-3.000 adenium berbagai ukuran ke Bali. Total penjualan setiap pengiriman berkisar Rp15-juta-Rp30-juta. Maklum, selain melayani pembelian eceran ke kalangan kolektor, Imron melayani pembelian partai. Sebetulnya pangsa terbesar saya pemesan dalam partai besar, ujar ayah 2 anak itu. Pengiriman partai dengan pick up dan truk pun kerap dilakukan ke Yogyakarta, Pati, Purwodadi, Wonogiri, Banyuwangi, dan Jember. Dalam sebulan omzet berputar di kisaran Rp140- juta.

Baru kenal

Sejatinya, pria lulusan Sekolah Menengah Atas itu tak pernah bermimpi menjadi juragan adenium. Empat tahun lalu ia tak mengenal sama sekali kamboja jepang. Perkenalannya bermula saat Imron meminjam uang Rp400-ribu pada seorang kerabat untuk berburu pelepah pisang ke Malang dan Blitar. Saya ingin mencoba memulai lagi bisnis pelepah pisang yang ambruk di awal 2003, katanya. Sayang, selama berputar-putar di 2 kota itu dengan Honda Supra X keluaran 2002 yang digebernya dari Gresik, ia tak menemukan pelepah pisang yang dicari.

Uang dikantong pun menipis dipakai berkeliling. Yang tersisa hanya Rp200-ribu, ujar ayah 2 anak itu. Lantaran takut diomeli istri karena uang tak menjadi barang, maka sisa uangnya dibelikan 3 Adenium obesum berdiameter 20 cm seharga Rp150-ribu. Maklum, kala itu di Blitar dan sekitarnya-seperti Kediri-banyak pekebun menanam adenium. Sesampainya di rumah, Nurhidayah, sang istri hanya bisa menggelengkan kepala kesal melihat Imron membelanjakan uang yang tersisa hanya untuk 3 bonggol adenium.

Hanya sehari di rumah Imron bermain ke seorang teman di desanya. Tak dinyana sahabatnya itu menyukai adenium bawaan Imron dan berani membeli 3 tanaman itu seharga Rp1,2- juta. Gila laku dijual hampir 10 kali lipat. Bisnis apa pun tak ada yang untungnya sebesar ini, ujar Imron mengenang perkenalannya dengan adenium. Mulai saat itulah Imron berburu adenium kecil-kecilan selama 6 bulan. Hampir setiap hari ia mencari adenium ke Mojosari dan Krian, Jawa Timur, senilai Rp200-ribu. Lalu melepasnya ke orang yang sama dengan nilai Rp600-ribu.

Setengah tahun berjalan Imron memberanikan diri berburu ke Banyuwangi dan Probolinggo dengan menyewa pick up. Setiap pekan ia belanja Rp2-juta dan melepasnya dengan harga Rp6-juta. Pasar dicari dengan cara door to door ke nurserinurseri di berbagai wilayah di Jawa Tengah. Sebut saja Yogyakarta, Grobogan, dan Pati. Ia benar-benar hidup dan besar di jalanan. Beli di Jawa Timur, jual ke Jawa Tengah. Beli-jual begitu seterusnya, kata Tjandra Ronywidjaja, pemain adenium di Ponorogo. Baru setelah malang melintang di jalanan selama 2 tahun Imron membuka nurseri sebagai kebun transit.

Pelepah pisang

Sukses Imron di bisnis adenium itu seolah mengulang keberhasilannya membangun bisnis pelepah pisang sebelum dihadang pailit. Semangat berubah pada diri Imron sangat kuat, ujar Tjandra. Tengok saja perjalanan usahanya yang bermula dari pengambil dan penjemur pelepah pisang, berubah menjadi pengepul, hingga menjadi bos pelepah pisang Gresik, yang mengirim bahan baku furniture itu ke Cirebon.

Sebagai bos besar, Imron mengirim 20-40 ton pelepah pisang kering dengan menggunakan 3 truk gandeng. Dengan harga jual Rp4.200 per kg, Imron mengambil laba Rp500 per kg. Ketika itu setiap minggu mengantongi laba Rp10- juta- Rp20- juta. Tak ada yang menyangka, dari perniagaan pelepah kering yang dianggap tak berharga itu ternyata bernilai puluhan juta rupiah.

Sayang, bulan madu dengan pelepah pisang terhenti karena pabrik di Cirebon meminta standar yang lebih tinggi. Pelepah mesti kering dan putih. Imron mengalami kesulitan karena pelepah yang dibeli dari petani kerap kurang kering. Penyusutan mencapai 50%. Warna pun kusam. Kontrak 300 ton pelepah pisang kering per 4 bulan pun diputus. Karena tak diterima pabrik, pelepah pisang dalam 1 truk gandeng dibakar, ujar Imron. Hutang Rp150-juta pun menghantui kehidupan Imron di awal 2003.

Selama setengah tahun kehidupan Imron kembali seperti sepuluh tahun silam, kala ia masih menjadi penghubung antara pembeli dan penjual kendaraan roda dua. Pokoknya sulit. Kalau tak ingat keluarga ingin berhenti hidup, katanya. Layaknya calo ia ke sana ke mari mencari pembeli dan nongkrong di warung kopi mencari sesuap nasi untuk menghidupi keluarga. Beruntung kehidupan tak menentu itu berbuah setelah dirinya bertemu dengan adenium pada pertengahan 2003 di Blitar.

Kini saat Trubus berkunjung ke nurserinya akhir Februari 2007, Imron bukanlah raja jalanan yang mengais kehidupan ke sana ke mari. Setiap hari ia duduk di nurserinya sambil menghisap Sampoerna Mild dan menyeruput kopi hitam. Sesekali ia menerima telepon dan short message service (SMS) dari pelanggan adenium di berbagai kota. Kesibukannya baru bertambah saat akhir pekan untuk melayani hobiis yang datang. (Destika Cahyana)

 

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img