Tuesday, November 29, 2022

Jutawan Karena Sengon

Rekomendasi

 

Satu per satu pohon cengkih di lahan 11 ha itu tumbang di tangan Ikin Sodikin. Pekebun di Desa Banjaranyar, Kotamadya Banjar, Jawa Barat, itu geram ketika harga cengkih melorot tajam, cuma Rp1.600 per kg. Padahal, beberapa bulan sebelumnya harga Syzygium aromaticum itu melambung hingga Rp10.100 per kg. Namun, sejak Badan Pemasaran dan Penyangga Cengkih (BPPC) mengatur tataniaga si bunga harum itu, harga cengkih anjlok.

Maka pada 1990 ia mengganti cengkih dengan sengon. Total populasi cuma 800 bibit per ha. Rendahnya populasi itu lantaran kondisi lahan curam. Di lahan datar, pekebun dapat menanam hingga 1.200 bibit. Ikin memilih Paraserianthes falcataria lantaran di Kabupaten Ciamis dan Kotamadya Banjar bermunculan industri penggergajian yang membutuhkan banyak kayu.

Jutawan

Tujuh tahun berselang, Ikin membuktikan bahwa pilihannya tepat. Industri pengolahan kayu di Ciamis memborong sengon dengan harga Rp125.000 per m3. Panen perdana, pria kelahiran 11 Januari 1954 itu menuai 2.000 m3 dari total 5.500 pohon. Rata-rata tinggi pohon 17 m dan berdiameter 30-40 cm. Di tengah badai krisis moneter itu Ikin mengantongi Rp250-juta hasil penjualan perdana kayu sengon.

Menurut pria 54 tahun itu biaya investasi sengon relatif rendah. Sebagai gambaran, Ikin memperoleh benih secara gratis. Ikin hanya bermodal lahan 11 ha yang ia beli pada 1988 senilai total Rp22-juta. Harga tanah cuma Rp200 per m2 lantaran lokasinya di punggung bukit dan berkapur.

Sedangkan biaya perawatan cuma Rp1.000 per pohon per 6 tahun. Ikin hanya membersihkan gulma berupa sisik naga yang merambati pohon. Selebihnya, pohon tumbuh sendiri tanpa perawatan berarti. Artinya laba bersih Ikin Rp245-juta. ‘Makanya tanam sengon, asal rajin pada 2 tahun pertama kita digaji oleh alam. Apalagi harga jual sengon terus meningkat,’ kata Ikin.

Ayah 4 anak itu memanfaatkan laba berkebun sengon untuk memperluas lahan hingga 30 ha. Lahan itu-11 ha di antaranya-ditanami sengon lagi pada 1998. Enam tahun kemudian, pada 2004 ia memanen kembali. Kakek 4 cucu itu menuai 400 pohon atau 200 m3 per ha. Total jenderal volume panen ke-2 mencapai 2.200 m3 dari lahan 11 ha. Dengan harga jual Rp320.000 per m3, ia mengantongi Rp704-juta. Panen berikutnya, pada 2005 dari sengon yang tersisa pada penanaman 1990. Dengan harga Rp370.000 per m3 Ikin mendapat tambahan pendapatan Rp11.100.000 dari 50 pohon yang menghasilkan 30 m3.

Pendapatan Ikin Sodikin kian melambung lantaran ia juga menjadi pengepul sengon. Ia menerima sengon-sengon hasil perkebunan rakyat untuk memasok 4 perusahaan. Total pasokannya 1.500 m3 sawntimber atau balok panjang berukuran 130 cm x 5,2 cm x 6 cm dan 600 m3 log alias gelondongan per bulan. Ikin mengutip laba bersih Rp50.000 per m3 sawntimber dan Rp20.000 per m3 log. Itu berarti laba bersih sebagai pengepul balok panjang mencapai Rp75-juta dari sawntimber dan Rp12-juta dari log setiap bulan. Cucuran keringat berkebun sengon juga tampak dari 6 truk dan 8 mobil keluarga.

Meningkat

Nasib Mahrus Sholikhin mirip Ikin Sodikin. Pekebun di Gondosuli, Kecamatan Puspo, Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur, itu menaruh harapan besar pada kayu anggota famili Fabaceae itu. Saat ini ia mengelola 3.600 pohon berumur 7 tahun. Dari jumlah itu 1.600 pohon di antaranya ditawar Rp250-juta oleh sebuah perusahaan perkayuan di Surabaya, Jawa Timur.

Mahrus menolak lantaran yakin harga kayu sengon pada Agustus 2008 bakal melonjak hingga Rp700.000; harga pada Juli 2008, Rp650.000 per m3. Yang pasti, ia memanen sengon-sengon itu pada Agustus 2008. Jika prediksi harga meroket itu benar, Mahrus meraup omzet Rp840-juta. Dengan harga saat ini, Rp650.000, ia bakal mengantongi Rp780-juta. Sebab, 3.600 pohon menghasilkan 1.200 m3. Pohon-pohon itu hasil penanaman di lahan 7 ha pada 2001.

Sebelumnya ayah 4 anak itu memanen sengon pada Juni 1996. Ketika itu pohon berumur 7 tahun dan berdiameter 20-40 cm. Dari 30 pohon yang ia panen, total volume kayu mencapai 5 m3. Volume panen itu memang relatif kecil, idealnya 10 m3. Dengan harga Rp100.000 per m3 total omzetnya Rp500.000.

Bukan hanya cerita manis yang dialami pekebun sengon seperti Mahrus. Berbagai hambatan juga dialami seperti saat panen pada April 2008. Dari 300 pohon berdiameter 20 cm ia menuai 27 m3. Idealnya pria 61 tahun itu menuai 100 m3. Rendahnya produksi itu lantaran perawatannya tak memadai. Mahrus seperti pekebun pada umumnya yang menganggap sengon dapat tumbuh sendiri tanpa perawatan berarti. Karena diameter batang kecil, pengepul hanya membeli Rp480.000 per m3 sehingga omzet Mahrus Rp11-juta.

Malahan pada 1994 sengon-sengonnya yang dipanen pada umur 5 tahun tak laku dijual. Sengon di lahan 2 ha ia habiskan untuk memperbaiki musola dan sekolahan yang rusak. Namun, kini ia dapat menikmati berkebun sengon. Mahrus semula menggantungkan hidup pada cengkih. Dari lahan 1,5 ha ia menuai rata-rata 6 ton cengkih per tahun. Pada 1990 angin puting beliung meluluhlantakkan ratusan pohon cengkih berumur 15 tahun.

Pekebun kelahiran 9 Februari 1954 itu menanam 2.000 bibit sengon di lahan bekas cengkih. Kebetulan saat itu-1991-pemerintah menggulirkan program sengonisasi. Laba berkebun sengon itulah yang ia manfaatkan untuk menyekolahkan ke-4 anaknya hingga meraih gelar sarjana. Jika pohon cengkih di lahannya dulu tak tumbang, boleh jadi Mahrus Sholikhin tak menjadi jutawan sengon. (Sardi Duryatmo/Peliput: Nesia Artdiyasa & Vina Fitriani)

- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Mencetak Petani Milenial, untuk Mengimbangi Perkembangan Pertanian Modern

Trubus.id — Perkembangan pertanian modern di Indonesia harus diimbangi dengan sumber daya manusia (SDM) yang mumpuni. Dalam hal ini...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img