Thursday, December 8, 2022

Kabar Lengkeng Pascatren Setahun Silam

Rekomendasi

Bila terlihat ada bekas gigitan kelelawar, dompolan lain di bawahnya yang sarat buah cokelat kehijauan dibungkus plastik transparan. Diperkirakan pada Januari 2006 bakal dipanen 500 kg lengkeng dari 100 pohon diamond river dan pingpong berumur 2 – 3 tahun.

 

Kebun lengkeng yang terletak di pinggir jalan lintas Banyumanik, Semarang, itu memang tengah pamer buah. Plastik bening yang bergantungan nyaris menenggelamkan hijaunya daun. Di balik plastik bening itu bersembunyi tangkai berisi 20 – 50 lengkeng berdiameter 2 – 3 cm atau seukuran kelereng besar. Bahkan ada yang seukuran hampir sebesar bola pingpong. Setiap dompolan ditaksir berbobot 1 kg.

Karena buah terlalu lebat untuk ukuran pohon muda setinggi 3 – 4 m, maka masing-masing pohon disangga stager bambu agar cabang tidak patah. Walau begitu, Trubus melihat cabang-cabang itu tetap saja merunduk hampir menyentuh tanah. ‘Tak ada yang percaya pohon berumur 2 tahun bisa berbuah selebat ini,’ kata Lie Ay Yen, pemilik kebun.

Maklum, sukses berkebun lengkeng dataran rendah yang berbuah lebat saat tanaman masih muda baru di kebun Hendrik Virgillus dan Mulyono Sutedjo. Keduanya ada di Singkawang, Kalimantan Barat. (baca: Lengkeng: Laba Tahun ke-3 Rp66-juta, Trubus Oktober 2004, hal 13 – 17). Memang, ketika itu ada juga 1 – 2 orang yang berhasil membuahkan, tapi dalam skala 1 – 2 pohon. Sejak itulah, banyak orang – di luar Kalimantan – berusaha mengebunkan lengkeng.

Manis dan tebal

Cerita keberhasilan Lie Ay Yen di Semarang itu membuktikan bahwa lengkeng dataran rendah memang cocok di tanam di daratan Indonesia. Kualitas buah lengkeng dari kebun Lie Ay Yen pun tak kalah. Diamond river misalnya, ‘Daging buah tebal, biji kecil mengkerut, dan manis,’ kata ayah politikus Alvin Lie itu.

Ukurannya juga sama dengan lengkeng impor yang biasa kita temui di pasar swalayan. Memang, pada buah yang kematangannya baru 70% terlihat daging buah tipis dan berair. Namun, pada buah yang matang penuh – umur buah 155 hari – daging buah lebih kering dan biji mengecil. Pantas saja, Dr Reza Tritawinata, pakar buah di Bogor, menyebutkan, ‘Dia salah satu contoh calon kebun komersial yang berhasil,’ katanya.

Walau begitu, Lie Ay Yen belum melepas hasil kebunnya ke pasar swalayan setempat. ‘Saya masih fokus untuk memperluas kebun sampai 5 ha,’ katanya. Buah hasil panen selama setahun terakhir hanya dibagikan kepada kerabat dan tetangga terdekat.

Kerikil tajam

Tetap tertarik mengebunkan lengkeng? Bersiaplah melewati kerikil tajam yang bakal menghadang. Yosef Soesanto, pekebun lengkeng di Puncak, Cianjur, Jawa Barat, misalnya. Importir peralatan otomotif itu sebetulnya menanam lengkeng hampir berbarengan dengan Hendrik dan Mulyono pada 2000. Ia tertarik menanam diamond river dan pingpong sebanyak 400 pohon. Dari total itu 150 pohon langsung ditanam di lapangan. ‘Awalnya luar biasa, baru 3 bulan sudah berbunga. Delapan bulan panen,’ katanya.

Namun, dari panen pertama itu ia menemui pil pahit. Walau telah matang penuh, daging buah diamond river tipis, berair, dan transparan. Bijinya juga besarbesar. Pun pingpong, produksinya sangat sedikit. Maksimal satu tangkai hanya berisi 20 buah. Awalnya Yosef menduga kejadian itu hanya menimpa pada buah pertama kala pohon masih belajar berbuah. Ternyata mimpi buruk itu tak juga berubah hingga tanaman berumur 3 tahun. ‘Dari total buah, 0% yang dapat dimakan. Semuanya dibuang,’ katanya.

Karena itu bagi Yosef, mengebunkan lengkeng untuk tujuan komersial hanyalah omong kosong. Pada 2003, ia berniat membuang 250 batang pohon yang tersisa dari kebunnya yang terletak di ketinggian 650 – 750 m dpl itu. Niatan itu tak terlaksana karena pada 2003 – 2004 Indonesia demam lengkeng dataran rendah. ‘Saya betul-betul bingung, kok mereka tertarik kebunkan,’ katanya.

Ia tetap menuai berkah karena banyak pekebun minta bibit dari kebunnya. Sepanjang 2004 saja Yosef melepas lebih dari 5.000 batang bibit cangkokan. Anehnya, beberapa pekebun yang dipasok dari kebun Yosef, mengaku dapat membuahkan dengan kualitas lebih bagus ketimbang di tempat asalnya.

Bertolak belakang

Dua kisah Lie Ay Yen dan Yosef yang bertolak belakang itu tak membuat pekebun lain mundur. Nun, di Bojonggede, Kabupaten Bogor, ada Handriyani Irawan yang mengebunkan 1.100 batang diamond river, pingpong, itoh, dan sugiri. Kebun seluas 7 ha yang dibuka pada November 2004 itu mulai berbunga 6 bulan kemudian. Untuk menghindari kualitas buah yang rendah, istri Irawan Saleh, mantan petinggi di Angkatan Udara TNI, itu membuang semua bunga yang muncul. ‘Biar pohon muda tidak stres,’ katanya.

Walau begitu, beberapa pohon menghasilkan buah karena bunganya terlewat dibuang. Saat Trubus mencicipi buah hampir matang pada awal Desember 2005, rasa manis sudah menyergap lidah. Memang daging buah agak berair, tapi tak sebecek buah dari kebun lengkeng di Puncak. ‘Kadar air pada daging buah berkurang saat matang penuh, bijinya juga mengecil,’ katanya. Menurutnya, dari buah yang tak diharapkan itu 60% layak konsumsi – manis, kering, dan tebal – dan sisanya tak layak konsumsi. Irawan berencana mulai membuahkan tahun depan, saat pohon telah dewasa.

Menurut Reza Tirtawinata, kasus daging buah tipis, transparan, dan berair memang pernah ditemukan pada diamond river. ‘Dari satu pohon yang sama, hasil perbanyakannya (bibit asal cangkok, okulasi, dan sambung susu, red), menghasilkan kualitas buah yang berbeda,’ katanya. Menurutnya, perbedaan itu dimungkinkan karena pengaruh iklim. Misal, saat musim raya jatuh pada musim hujan, bisa saja kualitas buah rendah.

Hendro Soenarjono, pakar buah di Bogor, malah baru mendengar perbedaan kualitas buah itu. Ia berpendapat faktor lain seperti jenis tanah, ketinggian, maupun pemupukan bisa menjadi penyebab. Namun, baik Reza maupun Hendro sepakat, lengkeng dataran rendah masih menarik secara komersial. Yang perlu ditempuh pekebun ialah mengamati dari hari ke hari tanaman lengkeng satu per satu. Dari situlah, kualitas buah dapat diperbaiki dengan solusi yang tepat.

Selain perbedaan kualitas buah, Trubus mendapat laporan dari Budi Soesanto, hobiis di Bekasi, lengkeng pingpong yang beredar mempunyai 2 kecenderungan. ‘Ada yang dominan berbunga betina, ada juga yang dominan jantan,’ katanya. Dari 5 pohon yang dimilikinya, 4 pohon dominan berbunga betina. Sisanya dominan jantan. Jelas itu menjadi faktor yang perlu diperhatikan calon pekebun untuk membeli bibit.

Pohon dengan bunga dominan betina bakal menghasilkan buah lebih banyak. Sebaliknya, dominan jantan, buah yang dihasilkan sedikit. Jika ingin memiliki kebun lengkeng seperti Lie Ay Yen, perhatikan bibit yang Anda pilih dan lokasi penanaman agar tak kecewa. (Destika Cahyana/Peliput: Syah Angkasa)

- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Lengkap! Budidaya Cacing Sutra Sistem Apartemen Hemat Tempat dan Air

Trubus.id — Peningkatan tren ikan hias diikuti dengan permintaan pakan tinggi. Cacing sutra menjadi salah satu pakan ikan hias...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img