Friday, August 12, 2022

Kabut Asap dan Walet

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

Memang kabut asap yang belakangan melanda Sumatera dan Kalimantan sudah sampai tahap akut. Ia tidak saja meresahkan penduduk, tapi juga walet. Ketebalan asap mengganggu penglihatan Collocalia fuciphaga itu saat berburu serangga. Jarak pandang burung penghasil liur itu menjadi sangat pendek. Bahkan ia tidak bisa melihat sama sekali keberadaan serangga sebagai santapannya. Ini yang menyebabkan walet kelaparan dan akhirnya mati. Imbasnya secara nasional produksi sarang walet menurun drastis.

Migrasi

Kasus penurunan produksi sarang di sentra-sentra yang terkena asap mulai terasa. Sebut saja Kalimantan, produksinya selama 5 bulan terakhir turun hingga 50-60%. Di Sumatera juga sama, penurunan produksi rata-rata dari setiap rumah walet sekitar 60%. Padahal, kedua pulau itu merupakan sentra pengembangan budidaya walet yang potensial. Asap tebal yang berlangsung berminggu-minggu sulit diantisipasi walet. Walet yang masih bertahan hidup pun akan segera bermigrasi, mencari tempat yang lebih nyaman.

Celakanya, mereka lebih memilih bermigrasi ke luar Indonesia. Penulis memprediksi migrasi sebagian besar populasi walet akan menuju ke utara Malaysia dan selatan Thailand. Terbukti kedua negara tetangga itu semakin dipenuhi walet. Gedung-gedung walet baru banyak bermunculan di sana. Itu lantaran Thailand dan Malaysia bebas kabut asap dan letaknya cukup terjangkau oleh walet-walet dari Sumatera dan Kepulauan Riau. Sementara walet-walet dari Kalimantan, memilih hijrah ke Sarawak dan Sabah.

Pulau Jawa tidak menjadi pilihan menarik bagi walet. Penduduk di Pulau Jawa yang semakin padat membuat daya dukung lingkungan terbatas. Walet akan kesulitan mendapatkan pakan. Seperti penulis prediksi 5 tahun lalu, daerah-daerah sentra walet di Pulau Jawa akan mengalami penurunan produksi karena berkurangnya sumber pakan. Populasi walet di beberapa sentra di Pulau Jawa seperti Sedayu, Bangil, Pasuruan, dan Haurgeulis kini diperkirakan tinggal 25-50% saja.

Puluhan tahun

Oleh karena itu bila kebakaran hutan tidak ditangani serius, upaya untuk membuat Sumatera dan Kalimantan menjadi sentra walet akan mundur jauh. Efeknya produksi sarang walet Indonesia akan stagnan bahkan cenderung menurun. Itu artinya Indonesia akan banyak kehilangan devisa dari sektor nonmigas.

Berkebalikan dengan Thailand dan Malaysia yang produksinya meningkat pesat dari tahun ke tahun. Perlu dicatat pada 2005 ekspor sarang walet putih mencapai kurang lebih 200 ton dan sarang walet hitam 150 ton, atau senilai US$500.000. Belum lagi dari sisi tenaga kerja. Di Indonesia sekarang ini terdapat sekitar 50.000-60.000 rumah walet yang masing-masing mempekerjakan 2 orang. Ditambah dengan 20.000-30.000 orang yang terlibat dalam pemrosesan sarang, paling tidak ada 120.000-150.000 orang akan terancam menganggur akibat terhentinya kegiatan budidaya walet.

Peluang walet yang bermigrasi untuk kembali ke tempat semula tetap ada. Syaratnya, kondisi lingkungan sudah kondusif: kabut asap hilang dan peremajaan hutan kembali dilakukan untuk meningkatkan ketersediaan pakan bagi walet. Namun ini perlu waktu cukup lama, belasan hingga puluhan tahun. Makanya menurut hemat penulis kebakaran hutan harus segera diatasi sebelum walet-walet itu kabur dari tanahair.

Pebisnis dan peternak walet Indonesia dalam masalah ini tidak bisa berbuat banyak. Pemerintahlah yang mereka harapkan bisa segera bertindak mengamankan aset walet yang terancam hilang. Dengan segala kekuasannya pemerintah mungkin bisa menerapkan hukuman yang lebih tegas kepada para pembuat asap, sehingga walet hidup nyaman di negeri tercinta ini. (Dr Boedi Mranata, biolog dan pakar walet)

 

Previous articleBudidaya Belut
Next articleAbiu Penyempurna Sawo Duren
- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img