Monday, August 15, 2022

Kaki Cantik ala Kota Reog

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

Sebutan tanaman masa depan itu dilontarkan Edi Sebayang, hobiis arabicum di Tangerang, Banten. ‘Dalam pengamatan saya, banyak kolektor arabicum berasal dari kalangan hobiis bonsai. Kaki yang bagus dan alami menjadi salah satu daya tarik,’ katanya. Terlebih bila programan kaki itu menjadi pondasi arabicum yang tajuknya-cabang, ranting, daun, dan bunga-selaras.

Sejatinya, pemain arabicum di Indonesia lebih dulu memprogram kaki. Sebut saja Freddy Setiawan di Yogyakarta, yang mencoba memprogram kaki 4-5 tahun silam. Karyanya pernah memenangkan kontes adenium-di kelas arabicum-di Yogyakarta 2 tahun lalu (baca: Bentuk Kaki ala sang Juara, Trubus Maret 2007). Sayang, produksi massal baru dilakukan 5-6 bulan belakangan. Taiwan menyalip Indonesia dengan memunculkan arabicum program kaki secara massal yang berukuran mini hingga medium: 7-20 cm.

Menurut Aris Budiman, pemilik Nurseri Watuputih di Yogyakarta, kehadiran arabicum hasil program kaki di pasar dan arena kontes perlu disambut baik. Namun, tak semua bisa dikategorikan istimewa dan layak juara. Itu karena banyak arabicum programan kaki yang salah kaprah. Misal, akar yang bagus dianggap mesti berukuran sama dan bergerak ke semua arah. ‘Kesan program kakinya masih tampak. Program yang baik mesti menghasilkan perakaran yang terlihat alami. Perakaran juga mesti mengikuti arah tajuk,’ tuturnya.

Ikuti tajuk

Penopang bentuk roda memiliki kelemahan karena akar yang muncul cenderung horizontal. Bentuk piringan terbalik yang lebih maju pun masih mempunyai kekurangan. Ia tak mampu menonjolkan akar yang mesti berukuran lebih besar. Maklum, perakaran sempurna bukan berarti semua akar berukuran sama.

Konsep perakaran yang mesti mengikuti arah tajuk itulah yang mengilhami Tjandra Roniwidjaja, pekebun di Ponorogo, Jawa Timur, untuk memodifikasi program kaki. Pascapemotongan caudek, Tjandra menggunakan styrofoam yang berlekuk-lekuk mengikuti bentuk tajuk sebagai penopang. Lazimnya, styrofoam penopang berbentuk roda atau piringan terbalik.

Prinsipnya, akar yang tepat berada di bawah cabang pembantu mesti berukuran lebih besar ketimbang akar lain. ‘Pertumbuhannya harus lebih menonjol,’ kata Tjandra. Dengan demikian gerak tanaman dari akar ke tajuk terlihat selaras. Tonjolan dan lekukan pada styrofoam membantu trainer untuk menentukan akar yang mesti tumbuh dominan dan akar yang harus dikoreksi.

Tjandra mencontohkan, bila sebuah bibit arabicum mempunyai 1 cabang utama-sebagai pusat-dan 4 cabang pembantu, maka mesti dibuat 4 tonjolan pada styrofoam yang letaknya tepat di bawah cabang pembantu tersebut (lihat ilustrasi). Kelak, akar yang tumbuh di atas tonjolan bakal dominan. Perlakuan pembesaran pun lebih mudah. Sementara yang tumbuh di atas lekukan secara alami, lebih tersembunyi.

Setelah tahapan itu dilewati, akar dapat dicek pada umur 2 bulan. Caranya gali media sampai akar terlihat. Setelah itu ganti media dengan media standar. Pasir malang, sekam, dan kompos dengan perbandingan 1:1:1.

Koreksi bisa dilakukan kembali pada umur 4-5 bulan. Usahakan akar yang berada di atas tonjolan dan tumbuh dominan jangan dipotong pada titik tumbuhnya. Rawat seperti biasa. Koreksi berikutnya setiap 3-5 bulan tergantung kebutuhan. Pada saat koreksi, buat cekungan antarakar agar bekas potongan tak kentara.

Itulah teknik terbaru program kaki dari Kota Reog. Pemrogram tak perlu susah payah memilih akar yang mesti dipertahankan dan dibuang. Cukup lihat tonjolan dan lekukan. Kelak dengan kian majunya program kaki, Indonesia tak mesti mengimpor arabicum berkaki istimewa dari Taiwan. (Destika Cahyana).

 

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img