Wednesday, August 10, 2022

Kalanjana

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img
Ketersediaan pakan berupa rumput menentukan sukses beternak sapi.
Ketersediaan pakan berupa rumput menentukan sukses beternak sapi.

Awalnya jeruk keprok, kemudian apel manalagi, sekarang rumput kalanjana. Sungguh heran, bercampur bingung melihat perubahan di desa ibu saya. Pada awal tahun 1960-an, pekarangan kakek penuh pohon jeruk. Bukan hanya buahnya yang manis, kulitnya pun lezat dibuat trancam – semacam lalap dengan bumbu kemiri. Satu generasi berikutnya, pada 1980-an, tempat yang sama menjadi kebun apel mana lagi.

Setiap batang pohon dilatih berbuah sesuai jadwal yang kami harapkan. Ada yang digunduli, diberi pemberat batu, dan direkarasa agar cepat berbunga. Ada juga yang dibiarkan berdaun, untuk mendapat giliran berbuah musim berikutnya. Memasuki 2016 ini, kebun–kebun apel di seluruh desa sudah tidak kelihatan lagi. Gantinya, rumput kalanjana tumbuh subur setinggi dada.

Mahal
Mengapa rumput menjadi lebih penting daripada jeruk dan apel? Karena ada enam ekor sapi perah di belakang dapur. Mereka perlu makanan dan rumput kalanjana menjadi kebutuhan utama. Itu terjadi bukan hanya di kaki gunung yang melahirkan ibu saya, tapi juga di banyak desa penghasil susu di seluruh Indonesia. Penjualan rumput kalanjana merata di semua pulau.

Saya mencatat, rumput kalanjana pada tahun 2007 harganya Rp2.000 seikat. Sekarang di Blitar, Purworejo, dan Bantul sudah menjadi Rp5.000 per ikat selama musim hujan. Adapun pada musim kemarau bisa melonjak sampai Rp15.000. Bukan karena pasokan susah, tapi juga harus dicari sampai jauh. Para peternak sapi di Salatiga, Jawa Tengah, mendapatkan harga yang tinggi itu setelah datang ke tepian Rawa Pening.

Maklum, kalanjana seperti halnya rumput gajah, suka tumbuh di daerah berair. Musim kemarau yang panjang dan tidak menentu membuat stok makanan sapi menjadi sangat penting. Sepupu saya Yudi, mencari rumput sampai jauh dengan sepeda motor, untuk mencukupi pakan enam ekor sapi perahnya. Hal yang serupa juga terjadi di Jawa Tengah. Banyak pencari rumput bisa pulang-balik sampai 100 km dari rumah, membawa karung, mengangkutnya sendiri dan membeli dengan harga mahal.

“Satu kilogram kalanjana dihargai Rp300 sedangkan rumput raja hanya Rp250,” kata Agustinus Ngateman. Di Salatiga ia berhasil mencampur kalanjana dengan cacahan singkong untuk meningkatkan laktasi sapinya. Prestasinya itu membuat Agus menerima sertifikat dari peternakan sapi di Amerika Serikat. Kalanjana lebih ringan ketimbang rumput raja. Maklum rumput raja padat sedangkan kalanjana berongga.

Menurut Agustinus Ngateman, “Sapi menjadi lebih cepat kenyang kalau makan rumput raja karena lebih banyak mengandung air.” Rumput kalanjana sebenarnya hasil persilangan antara rumput gajah dengan Pennisetum tydoides yang berasal dari Afrika Selatan. Rumput itu mudah ditanam sampai ketinggian 1.500 meter di atas permukaan laut. Berkat rumput kalanjana, peternakan sapi bisa memperoleh cadangan pakan pada saat musim kemarau.

Ladang rumput
Kalau setiap hari setiap sapi memerlukan 30 kg rumput, bisa dihitung berapa banyak kebutuhannya dalam sebulan. Tentu selain rumput juga diperlukan konsentrat, bekatul, cacahan singkong dan yang umum adalah jerami fermentasi dengan harga Rp3.000 seikat. Oleh karena itu pembibitan dan penanaman rumput kalanjana kini meluas di berbagai daerah. Bibit setek kalanjana seharga Rp300 per batang dapat diperoleh secara daring atau online.

Sebuah usaha pembibitan rumput gajah di Nganjuk, Jawa Timur, bahkan sanggup memasok setek bibit kalanjana ke seluruh penjuru tanahair. Maklum, jangka panen rumput cukup 40 hari di musim hujan atau 60 hari di musim kemarau. Sistem perladangannya bisa menggunakan lorong atau baris, dengan perhitungan tiap hektare menjadi 100 baris, dan tiap baris ditanami 250 rumpun.

Dengan sistem itu satu hektare teoritis menghasilkan 25.000 rumpun. Tetapi dalam kenyataannya hanya mencapai efektifitas 37 persen atau mendekati 10.000 rumpun. Panen pertama baru dapat dipetik setelah berumur 5 bulan, dengan hasil rata-rata 3 kg rumput setiap rumpun. Umumnya, panenan rumput kalanjana akan berkisar antara 25—40 ton setiap hektare.

Dengan rata-rata pasokan itu, Noto Sarju, penjual rumput kalanjana di Kulonprogo, Yogyakarta, bisa menjual 200 ikat setiap hari, selain 100 ikat jerami. Bila terjadi surplus dari panen, rumput kalanjana dapat dijual dalam keadaan kering (hays) maupun fermentasi yang dicacah terlebih dulu. Konsumen utamanya bukan hanya sapi perah, tapi juga sapi potong dan domba.

Menurut perhitungan dengan harga Rp5.000 per ikat, rumput kalanjana mengambil porsi Rp2.500—Rp3.000 untuk total kenaikan setiap kilogram daging. Bandingkan dengan harga susu yang berkisar Rp4.000 per liter, berkat konsumsi 30 kg rumput kalanjana setiap hari untuk seekor sapi yang menghasilkan 12 liter susu di pagi hari dan 8 liter susu di sore hari.

Eka Budianta
Eka Budianta

Di berbagai wilayah
Angka-angka itu menunjukkan peran rumput kalanjana yang signifikan serta nilai ekonomis yang tinggi. Tidak mengherankan kalau kini beredar bibit-bibit rumput gajah unggulan lain dari Taiwan, Hawaii, mendampingi rumput gajah Afrika Selatan yang dikenal sebagai kalanjana ini. Para distributor membanggakan rumput-rumput itu tumbuh subur dan bebas gulma.

Tentu saja dengan pemupukan yang kuat, termasuk setiap hektar memerlukan satu ton manur sapi. Guna mempercepat pertumbuhan, ada kalanya disebarkan juga pupuk Urea dua pekan sekali. Penjualan bibit dan rumput kalanjana dapat ditemukan di hampir seluruh provinsi dari Aceh sampai Lampung, dari Banten sampai Jawa Timur, dari Gorontalo sampai Sulawesi Selatan, dan di banyak kabupaten Nusa Tenggara maupun Bali.

Untuk Pulau Kalimantan konsentrasinya di barat, selatan, dan timur. Tidak ketinggalan pula untuk Maluku di Pulau Buru, dan di Papua Barat. Uniknya selain dikenal sebagai pakan sapi yang bernilai ekonomis tinggi, kalanjana juga dikenal sebagai nama ajian di dalam ilmu kebatinan. Tentu saja hal ini tidak ada hubungannya dengan potensi agribisnis. Namun, membawa kesan mistis karena istilah kalanjana diasosiasikan pada ilmu untuk menerawang dan memasuki alam gaib.

Oleh karena itu jangan heran bila Anda menemukan informasi kalanjana sebagai nama untuk beberapa macam mantera. Bagi saya pribadi, yang paling menyentak adalah kenyataan bahwa ladang rumput kalanjana menggantikan kebun jeruk keprok dan apel mana lagi dalam hitungan tiga generasi. Hal itu merupakan pertanda bahwa kebutuhan susu dan daging sapi semakin meningkat, hingga lahan buah-buahan pun harus dikalahkan. Budidaya rumput kalanjana boleh diartikan langkah penting dalam memenuhi kemandirian pangan di Indonesia. (Eka Budianta*)

*) Budayawan, kolumnis majalah Trubus sejak 2001, pengurus Tirto Utomo Foundation dan Mitra Utama Senior Living @ D’Khayangan.

 

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img