Thursday, August 11, 2022

Kambing Domba Indonesia

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

Setelah dewasa, baru saya paham, betapa besar manfaat kambing dan domba untuk Indonesia. Seorang pengusaha yang sukses, setiap tahun mendermakan lebih dari 300 kambing jantan untuk kurban pada Idul Adha. Padahal ia Nasrani, dan anggota majelis GKI (Gereja Kristen Indonesia). Itulah jasa kambing sebagai perekat masyarakat yang plural, dari tingkat nasional sampai rukun tetangga. Bukan hanya untuk urusan lintas agama, tapi juga lintas olahraga dan lintas politik. Contohnya adalah kambing-kambing untuk para pengungsi korban kerusuhan.

Di Kabupaten Sinjai, Sulawesi Selatan, misalnya, para korban kerusuhan Poso disibukkan dan diselamatkan berkat ternak kambing mereka. Di satu penampungan pengungsi, bisa terlihat sekitar 30 kambing. Dari manakah kambing-kambing itu? Bantuan dari para pembaca sebuah koran. Pada awalnya sumbangan kambing itu hanya seekor untuk tiap keluarga. Beberapa bulan berselang kambing-kambing itu sudah beranak-pinak.

Kambing memang dapat dibawa ke mana-mana dalam susah maupun senang. Pada waktu ramai-ramai berkemah ? mendaki gunung atau menyusur pantai ?tiap rombongan bisa berjalan bersama kambing. Sambil pesta api unggun, setiap 40 orang bisa melahap seekor kambing guling. Bisa juga disatai atau digulai, tergantung pada keterampilan memasak anggota rombongan.

Kambing juga merupakan alat pendidikan. Dengan kambing, anak-anak sekolah bisa belajar banyak. Misalnya, bahasa apakah kambing itu? Dari mana asalnya? Sejak kapan dan bagaimana kambing datang ke Indonesia? Lebih dari itu tentu:bagaimana memelihara kambing? Bagaimana cara menyembelih yang benar? Bagaimana memasaknya dengan sehat, memanfaatkan tulang maupun kulitnya?

Di Yogyakarta ada sebuah keluarga yang sangat gemar mengkonsumsi kambing. Setiap kali ada yang ulang tahun, naik kelas, atau mendapat rezeki ekstra, mereka selalu memotong kambing. Anak-anaknya dibiasakan akrab dengan daging kambing. Tahu cara menyembelih dan mengenal berbagai resep untuk memasaknya. Bahkan ketika beredar isu antraks, kegemaran akan kambing tidak berkurang, karena tahu kiat untuk menangkalnya.

Kambing, domba, sapi, dan kerbau, sejak dulu dijadikan tabungan keluarga. Bukan hanya di dusun-dusun pulau Jawa dan Sumatera, tapi juga di Benua Afrika dan Eropa. Itulah yang saya alami sejak kecil. Setelah menghadapi ujian sekolah dasar, ayah menitipkan kambing, domba, dan sapi peliharaan saya kepada famili di desa. Rupanya beliau khawatir, ternak akan membuat saya tak berminat sekolah lagi untuk selamanya!

Bertani dan beternak memang lebih mengasyikkan ketimbang duduk dalam kelas. Begitu juga mestinya dengan melaut bagi anak nelayan. Sampai sekarang pun, keluarga kami tak pernah bebas dari hewan peliharaan. Belasan ayam masih berkokok dan menciap-ciap di belakang kamar ibu saya di Suryodiningratan, Yogyakarta. Dengan dua ayam betina, ayah mendapat satu sak semen untuk memperbaiki rumah, pada awal 2006.

Meskipun rumah-rumah di dalam kota relatif kecil dan nyaris tanpa halaman, kita tidak perlu merasa terhalang untuk beternak. Ada cara membuat kandang bersama dan menjalankan koperasi peternakan. Di Sukabumi, para pemenang lomba Agustusan di kampung-kampung, mendapat hadiah kambing. Tiga ekor untuk juara pertama, dua ekor untuk juara kedua, dan seekor untuk juara ketiga.

Warga sepakat untuk tidak menyembelih, melainkan memeliharanya bersama. Maka di dekat lapangan desa dibuat kandang bersama dan dibagi tugas untuk memelihara kambing-kambing itu. Pada hari ulang tahun proklamasi setahun berikutnya, jumlahnya menjadi 12 ekor! Dengan adanya kandang bersama itu, tiap warga dapat menitipkan kambing masing-masing. Tak pelak lagi, kambing adalah sarana tabungan paling berkesan dan berguna bagi setiap penyayang binatang. Bila setiap anak Indonesia paling sedikit punya seekor kambing, seekor sapi, seekor kerbau, atau seekor ayam, tidak mungkin pernah terjadi krisis ekonomi!

Anehnya sekarang, anak SD sudah dibelikan telepon genggam yang berharga ratusan ribu. Padahal, kalau uang yang sama dibelanjakan untuk kambing, hasilnya akan jauh berbeda. Setiap selesai Idul Adha, kambing-kambing yang batal disembelih dapat dibeli dengan harga lebih murah. Mereka dapat digemukkan lagi, untuk dikurbankan tahun depan. Harganya tentu lebih mahal, karena sudah semakin besar.

Seekor kambing paling bagus harganya mencapai Rp1, 6-juta. Namun anak-anak kambing cukup dengan Rp400. 000. Bandingkan dengan seperangkat playstation, telepon genggam, atau mobil-mobilan berharga jutaan rupiah untuk hadiah ulang tahun anak usia 10 tahun. Padahal, dengan uang yang sama, kita dapat melatih anak beternak dan memperkuat posisi Indonesia sebagai negara agraris.

Impor daging

Setiap tahun, bahkan setiap hari impor daging (sapi, kambing, dan paha ayam) tak pernah surut. Ketika menjadi ketua umum Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI), Siswono Yudo Husodo memperhitungkan impor daging sapi kita setara dengan 450. 000 sapi per tahun. Begitu juga impor daging kambing.

Masalahnya tak pernah dibahas, kecuali bila telah timbul masalah. Misalnya ketika muncul kecurigaan pada 10. 000 kambing yang diimpor dari Arab ke pelabuhan Surabaya. Tahun 2001 Arab dinyatakan tidak bebas dari penyakit mulut dan kuku (PMK). Badan Karantina minta diadakan penelitian dengan saksama. Lantas ada bantahan bahwa daging kambing itu berasal dari Selandia Baru, yang dibawa ke Arab, lalu dikirim ke Surabaya. Ketika terjadi wabah PMK, Badan Karantina memperkuat pengawasan di pintu-pintu masuk, terutama di Sumatera Utara, Riau, Kalimantan Barat, dan tempat-tempat yang berbatasan langsung dengan Malaysia.

Hingga 1980 sebetulnya Indonesia masih termasuk deretan pengekspor daging sapi dan kambing. Setelah 2000, Indonesia justru menjadi importir pada hampir semua kebutuhan pangan. Siswono, saat itu memperingatkan bahwa negeri ini mulai masuk perangkap impor pangan, food trap! Artinya, untuk kebutuhan pangan tergantung pada kiriman bangsa lain. Termasuk di antaranya, menjadi pengimpor gula nomor dua terbesar di dunia!

Berpalingnya sikap hidup, dari bangsa yang produktif menjadi sangat konsumtif telah terjadi di depan mata. Coba kita perhatikan keluarga masing-masing! Apa yang telah berubah?Pada 1947, ayah saya masuk TNI, menjadi kopral dan mendapat bayaran pertama Rp40. Dalam perjalanan pulang ia langsung membeli seekor anak sapi Rp35. Memang sisa uangnya hanya Rp5, tapi anak sapinya menjadi besar dan tak sampai 2 tahun kemudian harganya menjadi lebih mahal.

Sekarang, bila seorang lulus sarjana dan mulai bekerja, mendapat gaji sekitar Rp2, 5-juta. Apa yang akan dibeli? Telepon genggam? Pesawat televisi? Atau uang muka sepeda motor? Dari Sabang sampai Merauke, pikiran kita terpusat pada benda-benda konsumsi. Sedikit saja yang berpikir untuk melipatgandakan gaji dengan membeli saham, alat-alat produksi, termasuk ayam, kambing, dan sapi.

Padahal, sementara itu kambing dan sapi harganya sudah jauh lebih mahal. Dengan gaji pertama Rp2, 5-juta, seorang sarjana tidak mampu membeli seekor anak sapi perah yang harganya sekitar Rp4-juta! Ia sebetulnya masih bisa membeli kambing. Tukang merawat dan memelihara kambing pun dapat dicari. Rumput bisa disabit sambil merawat taman-taman kota.

Saya ingat, sampai 1972, ayah melatih saya membawa karung dan parang bila sore hari nonton pertandingan bola ke kota. Dalam perjalanan pulang kami dapat merapikan rumput di taman-taman, membawanya dalam karung untuk makanan kambing di rumah. Jadi acara piknik berjalan baik, ternak tersayang juga dapat oleh-oleh dari kota.

Bila Anda dikelilingi kambing, sapi, ayam, dan kerbau setiap hari, tentu tak akan berpikir akan impor daging sama sekali. Masalahnya sekarang, pemeliharaan ternak tidak lagi tersebar, melainkan beralih pada sentra-sentra. Misalnya Bogor, Jawa Barat, menjadi sentra produksi kambing. Sedangkan Banjarnegara, JawaTengah, menjadi sentra penghasil domba, bahkan paling unggul di tingkat nasional. Produksi domba domas-nya mendapat gelar juara sejak zaman Presiden Megawati.

Setiap presiden memang selalu berusaha mendorong peternakan apa saja. Namun, tanpa dukungan masyarakat luas, upaya swasembada kambing pun tak akan berhasil. Apalagi bila hanya tergantung pada sentra-sentra, meskipun kualitasnya bagus dan banyak hasilnya. Alasan memusatkan peternakan adalah untuk memudahkan kontrol bila terjadi wabah atau menyebarnya penyakit hewan. Padahal, dengan menjaga kebersihan, memperhatikan, dan melaksanakan praktek peternakan yang benar, kita masih dapat mengembangkan kambing, domba, sapi, kerbau, rusa, kijang, kelinci, marmut, apalagi ayam.

Pergilah ke pekarangan novelis kondang, Pramoedya Ananta Toer, Anda akan dikerumuni lebih dari seratus ayam! Lebih banyak yang jantan daripada yang betina! Dokter hewan pun rajin dipanggil untuk datang memeriksa, memasok obat, dan menyuntik jika perlu. Beberapa kambing pun ada di sana. Sama seperti di pekarangan penyair Rendra. Di sana banyak kambing dan sapi. Berkat sapi-sapi itu, Rendra mendapat kotoran yang sangat berguna untuk menyuburkan Ibu Pertiwi.

Jadi kalau para seniman bangsa ini masih telaten memelihara ayam dan kambingnya sendiri, mengapa kita tidak? Sekarang bisnis pulsa isi ulang meluas sampai ke desa-desa. Tugas kita sederhana, yaitu waspada. Jangan sampai bisnis telepon genggam menghancurkan pasaran ternak yang meramaikan desa sepekan sekali.

Setiap desa di Jawa mempunyai hari pasaran, seperti Pahing, Pon, atau Legi, untuk melelang hasil ternaknya. Pada hari itu kita dapat memilih bermacam-macam kambing dan domba yang ada di lapangan desa. Bukankah itu tradisi yang sehat, indah dan harus terus dikembangkan? Kecuali kalau kita memang siap tergantung sepenuhnya kepada pertanian dan peternakan dari luar negeri. Ayo, kita pulihkan peternakan kambing dan domba Indonesia!***

*)Eka Budianta, sastrawan, direktur eksekutif Tirto Utomo Foundation, kolumnis majalah Trubus

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img