Tuesday, August 9, 2022

Kampiun karena Kilap

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

Pemberian pakan berbahan ulat sutra salah satu kunci kohaku merebut juara paling bergegnsi.

 

Penampilan kohaku jumbo itu wujud nyata dari adagium you are what you eat. Sehari-hari koi koleksi Didi Wikara dari Bogor, Jawa Barat, itu mengonsumsi pakan berupa pelet impor dari Jepang. Salah satu bahan pelet itu tepung ulat sutra yang kaya protein. Hasilnya koi sepanjang 69 cm itu bersisik terang. Warnanya aduhai, mengkilap sekali.

Pantas bila kohaku yang dibeli Didi Wikara ketika lelang koi Sakai di Jepang 2 tahun lalu menggoda mata 25 juri internasional pada kontes 1st Asia Cup Young Koi Show 2012 di Bandung, Provinsi Jawa Barat, pada akhir September 2012. Para juri mengganjar koi itu dengan gelar paling bergensi: grand champion A.

Tubuh kapal

Menurut Rony yang merawat ikan itu, koi berpola 3 step seharga 4,5-juta yen setara Rp450-juta itu tidak dipersiapkan khusus. “Ini lomba pertamanya,” kata Rony. Rival terberat kohaku adalah showa sepanjang 65 cm juga milik Didi Wikara. Prestasi showa ternakan Isa Koi Farm di Jepang itu cukup mentereng. Dialah penyandang gelar grand champion koi show 2012 di Jakarta.

Saat itu juri mendaulatnya sebagai juara lantaran warna sisiknya pun terang dan sumi atau corak hitam di mulut yang tebal. “Bila showa disandingkan dengan kohaku sama-sama bagus, hanya kohaku sedikit lebih besar ukurannya,” ujar Rony. Showa berpeluang merebut banyak gelar juara karena masih berumur muda, 2 tahun. Para juri memberikan gelar reserve grand champion, gelar tertinggi kedua setelah grand champion A.

Gelar bergengsi lain berupa grand champion C direbut shuhui milik Mira Widjaya dari Jakarta. Menurut Winarso Tanuwidjaya, juri kontes, shuhui yang pernah merebut juara di kategori best variety All Japan 2012 itu istimewa. Komposisi warna seimbang dan tubuh bak kapal. “Sosoknya mencerminkan sosok koi ideal,” kata Winarso.

Di kategori grand champion B kawarimono milik Hendrawan Sudarpo dari Jakarta merebut juara. “Kawarimono itu istimewa karena badannya besar dan terlihat kokoh,” ujar Winarso. Selain itu garis hitam di tepi sisik rapi, tidak melebar ke mana-mana. Sepintas bila diperhatikan saksama mirip jaring. “Ikannya terlihat cantik, apalagi ada sumi di dekat mulutnya,” ujar Andrian, penghobi koi asal Bandung.

Kontes ketat

Pada kelas bergengsi semua peserta kontes menghuni sebuah bak. Namun, pada kelas lain ikan-ikan peserta kontes menguni kantung plastik transparan. Beberapa juri Jepang sering berdiskusi lebih dari 5 menit sebelum memastikan ikan-ikan juara. “Itu menunjukkan bahwa kualitas ikan yang tampil pada kontes relatif seragam,” ujar Herman Witono, ketua panitia.

Di kelas supermini champion A, misalnya, koi milik Sugoi dari Sukabumi, Jawa Barat, menjadi pemenang setelah untuk kedua kali 6 juri dari Jepang berputar mengelilingi deretan kantong-kantong plastik kontestan. Kontes berlangsung ketat karena lomba koi piala Asia itu ajang bergengsi buat para mania koi di dalam negeri dan mancanegara seperti Singapura, Malaysia, dan Jepang.

“Kontes ini sangat bergengsi,” ujar Fanny dari WS Koi Center Yogyakarta. Untuk lomba itu Fanny, misalnya, tak tanggung-tanggung bersama timnya menurunkan 42 ikan dan delapan di antaranya sukses meraih kampiun. “Ada kebanggaan karena koi kami semua ternakan lokal,” tambah pemain senior koi di Kota Gudeg itu.

Ajang bergengsi itu menobatkan Edwar Gani, Eric Effendi, dan Didi Wikara sebagai pemilik ikan dengan total nilai tertinggi, masing-masing 17.550, 14.900, dan 15.075. Ikan koleksi Eric Effendi dari Bandung, misalnya, sukses memboyong gelar adult champion C, junior young champion, dan male champion C. Untuk kategori handling terbanyak milik pemain kawakan dari Bandung, yakni Samurai Koi, yang membawa 244 koi. Hebatnya 2 di antara ratusan koi itu adalah kohaku dan showa bersisik terang milik Didi Wikara yang menjadi grand champion A serta reserve grand champion. (Dian Adijaya S)


Keterangan foto :

  1. Kohaku, grand champion A memiliki sisik kilap menawan
  2. Shusui, grand champion C pernah menjadi juara di All Japan Koi Show
  3. Showa, reserve grand champion, kalah tipis karena ukuran tubuh
  4. Lomba diikuti oleh 1.391 koi dari dalam dan luar negeri
  5. Total 25 juri internasional menilai koi-koi terbaik kontes terbesar pada 2012
Previous articleDi Payau Tak Payah
Next articleDemi Domba Gemuk
- Advertisement -spot_img

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img