Friday, August 19, 2022

Kapul Datang Lagi

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

Lama menghilang, kini kapul jingga muncul lagi. Keberadaan buah eksotis itu di ujung tanduk.

Mata Dr Muhrizal Sarwani MS melebar melihat dua buah terbelah di atas meja. Kulit kedua buah itu cokelat kehitaman. Yang satu berdaging buah kuning dan lainnya jingga. “Seumur-umur saya baru lihat kapul berwarna kuning dan jingga,” kata kepala Balai Besar Sumberdaya Lahan Pertanian (BBSDLP), Bogor, itu. Lazimnya daging buah kapul berwarna putih susu.

 

Muhrizal lantas mencomot daging buah berwarna jingga dan mencicipinya. Ia menuturkan rasa manis sedikit asam pun lengket di lidah. “Mirip manggis yang segar,” kata mantan peneliti di Balai Penelitian Pertanian Lahan Rawa (Balittra), Banjarbaru, Kalimantan Selatan, itu. Tiga septa buah pun segera lenyap di mulut Muhrizal. Penikmat kapul yang baru pertama kali mencicipi, menyebut rasa kapul Baccaurea crassifolia mirip rambutan berpadu rambai.

Tinggal nama

Usai mencicip yang jingga, Muhrizal mencoba kapul berdaging buah kuning yang rasanya lebih manis. Masyarakat Kalimantan Timur menyebut kapul kuning sebagai kapul mentega karena warna daging buahnya mirip mentega. Sayang, ukuran kapul jingga dan kuning kecil, hanya seukuran telur ayam kampung. Beda dengan kapul berdaging putih yang ukurannya setara manggis.

Sejatinya kapul putih pun tergolong langka. Namun, ia masih kerap ditemukan di pasar-pasar tradisional di seantero Pulau Kalimantan kala musim buah tiba. Harga seikat kapul putih Baccaurea macrocarpi terdiri atas 10 buah Rp5.000-Rp7.000. Satu buah berisi 4-5 septa. Masyaraat menggemari kapul karena rasanya manis sedikit masam mirip ratu buah Garcinia mangostana. “Bila kapul putih disilangkan dengan kapul kuning dan jingga hasilnya luar biasa. Bisa dihasilkan kapul berukuran besar dengan daging buah jingga atau kuning,” kata Muhrizal.

Penemuan kapul jingga di pasar lokal itu membuat tim eksplorasi buah langka dari Balittra melacak keberadaan pohon yang tumbuh di Desa Melan, Kecamatan Long Masangat, Malinau, Kalimantan Timur. Kapul jingga tumbuh di tepian  Sungai Sesayap-anak Sungai Mahakam-di ketinggian 25 meter di atas permukaan laut. Umur pohon diperkirakan mencapai puluhan tahun karena tingginya sudah mencapai 20 m.

Tim eksplorasi juga menemukan kapul kuning di daerah aliran Sungai Mahakam. Seperti pohon bergenus Baccaurea yang lain, kayu kapul jingga dan kuning tergolong kuat. Akibatnya banyak orang menebang pohon untuk memanfaatkannya. Itulah sebabnya, “Jumlah pohon kapul semakin menipis karena banyak ditebang,” kata Suwarno, penduduk setempat.

Buah jentik

Kerabat kapul yang tak kalah eksotis ialah buah jentik. Bedanya ia masih sering muncul antara lain di tepi-tepi jalan di Astambul atau di Pasar Martapura-keduanya di Kalimantan Selatan. Saat musim buah tiba, harga seikat jentik terdiri atas 30 buah Rp5.000. Banyak dugaan kerabat rambai itu disebut buah jentik. “Mungkin karena ukuran buah sangat kecil sehingga identik dengan jentik yang mungil,” kata Sodik SP, dari Balai Pengawasan Sertifikasi Benih Tanaman Pangan dan Hortikultura (BPSB-TPH) Kalimantan Selatan.

Ukuran buah jentik hanya seujung jempol orang dewasa. Masyarakat di Malaysia menyebut tanaman itu jentik karena cara konsumsinya yang unik. Untuk menikmati buah jentik, kita tidak perlu mengupas atau menekan kulit buah. Cukup menjentikkan jari pada kulit buah Baccaurea pyriformis, maka “kres” kulit pun terbuka. Itu karena di kulit buah terdapat 2 alur yang gampang terbuka bila mendapat gaya dari luar.

Di dalamnya 1-3 septa buah terlihat berwarna jingga nan cantik. Rasanya? Beragam. “Ada yang sangat masam, masam, tapi ada juga yang manis,” kata Sodik. Itu karena buah yang muncul di pasaran berasal dari banyak pohon sehingga perlu dilakukan seleksi untuk memilih pohon yang berbuah manis dan berukuran agak besar. Pakar botani di Bogor, Jawa Barat, Gregori Garnadi Hambali, mengatakan bahwa Kalimantan sumber keragaman tanaman bergenus Baccaurea.

Delapan belas spesies-dari 43 spesies Baccaurea yang tercatat oleh Haegens-terdapat di Kalimantan dan Sumatera. Buah yang paling populer dari genus itu adalah  rambai B. motleyana dan menteng B. racemosa. Di luar rambai dan menteng, banyak anggota genus Baccaurea punah. Namanya tinggal cerita.  (Dr Achmadi Jumberi MS, mantan Kepala Balai Penelitian Tanaman Buah Tropika, Solok, Sumatera Barat, dan Destika Cahyana, peneliti di Balai Penelitian Pertanian Lahan Rawa (Balittra), Banjarbaru, Kalimantan Selatan)

 

Keterangan Foto :

  1. Kapul jingga, mirip rasa rambutan berpadu rambai. Berpotensi disilangkan dengan kapul daging putih
  2. Kapul kuning, rasanya lebih manis dari pada kapul jingga. Disebut juga kapul mentega
  3. Kapul daging putih, masih sering muncul di pasaran di Kalimantan Selatan, dengan harga Rp5.000 seikat
  4. Rimba Kalimantan kaya akan buah tropis eksotis bergenus Baccaurea

 

 

- Advertisement -spot_img

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img