Sunday, August 14, 2022

Karbon Datang Pendarahan Hilang

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

 

Penampilan puring dalam pot dengan batang pendek, kokoh, dan berdaun lebar dilihat wartawan Trubus Nesia Artdiyasa, saat berkunjung ke Handoyo Budi Orchid di Malang, Jawa Timur. Dengan sosok itu anggapan puring sebagai tanaman pagar hilang seketika. ‘Ini berlaku di semua tanaman hias dalam pot. Batang dan tangkai daun pendek jauh lebih disukai,’ kata Ir Budi Sugiarto, pemilik Handoyo Budi Orchid.

Itulah yang membuat Budi mencoba setek mini puring pada 1998. Batang, cabang, atau pucuk cukup sepanjang 8-13 cm. Namun, eksperimen itu tak membuahkan hasil. ‘Hanya 20% yang hidup. Sisanya mengering 2-3 hari kemudian,’ kata kelahiran Malang 48 tahun silam itu. Ia pun meninggalkan teknik itu dan kembali menggunakan bahan biasa sepanjang 30 cm. Dengan bahan yang lebih panjang tingkat keberhasilan mencapai 30%. Bila dikombinasikan dengan sungkup keberhasilan menjadi di atas 50%.

Sulitnya memperbanyak puring dengan setek membuat pekebun memilih cangkok. ‘Cangkok lebih cepat dan aman. Setek hanya untuk back up agar potongan cabang dan batang tidak terbuang percuma,’ kata Ferdian AS SSi, pekebun di Sawangan, Depok. Bagi pemula pun mencangkok lebih berhasil. Toh, Budi yang sempat gagal menyetek tak menyerah. Setahun silam dari sebuah literatur mancanegara disebutkan teknik menyetek mini yang murah. Kuncinya menggunakan bahan karbon aktif alias karbon yang telah diaktivasi.

Penyerap

Menurut Ir Yos Sutiyoso, praktikus tanaman hias di Jakarta, penyebab utama kegagalan setek mini ialah kecepatan tanaman untuk mengeluarkan akar dan tunas lebih lambat ketimbang tanaman kehilangan cairan. ‘Energi dari dalam tanaman kecil lebih sedikit ketimbang setek dari ukuran yang lebih besar,’ katanya. Akibatnya bahan setek mengering sebelum tunas aktif atau akar muncul. Itulah sebabnya setek pada tanaman yang bernilai ekonomi tinggi menggunakan zat perangsang untuk mempercepat munculnya akar.

Pengamatan Budi cepat mengeringnya bahan setek pada puring diakibatkan keluarnya getah yang melimpah alias bleeding. Itu mirip dengan bleeding pada plumeria yang juga sulit disetek. Menurut Budi, getah yang keluar pada potongan puring berhenti saat ditaburi karbon aktif. Itu karena serbuk itu bersifat sebagai absorban. Artinya, kehilangan cairan dari bahan setek minimal. Energi yang dibutuhkan untuk memunculkan akar tetap tersedia.

Karbon aktif pun punya keunggulan lain. Ia mampu mencegah datangnya penyakit. Cendawan atau bakteri yang menyerang tanaman kerap mengeluarkan senyawa tertentu sebagai salah satu bentuk serangan. ‘Senyawa yang umumnya berbentuk cair segera terserap karbon aktif sebelum mengenai bagian tanaman,’ kata alumnus Jurusan Hama dan Penyakit Tumbuhan Universitas Brawijaya itu. Pada manusia penggunaan absorban sebagai obat kerap dipakai pada penyakit diare.

Jaga lembap

Menurut Budi yang tak kalah penting dari setek mini ialah menjaga kelembapan. ‘Bila kelembapan rendah, kehilangan cairan tetap terjadi meski bleeding sudah diminimalkan,’ katanya. Karena itu setelah potongan setek ditaburi karbon aktif, Budi menanam pada media yang mampu memegang air dengan kuat: cocopeat.

Cocopeat bisa dicampur pasir malang dengan perbandingan 1:1 bila dikhawatirkan air yang tersimpan terlalu banyak. Tanaman lalu disimpan di bawah rak atau tempat terlindung dari sinar matahari langsung. Bila perawatan optimal-seperti penyiraman sehari sekali-maka dalam sebulan muncul akar dan daun baru. Tiga bulan berselang anggota keluarga Euphorbiaceae itu siap dijual ke pasaran atau dipindah ke pot yang lebih cantik. Puring berbatang pendek dan berdaun kompak pun bukan sekadar impian. (Destika Cahyana)

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img