Thursday, December 8, 2022

Karena Keben Sembuh Katarak

Rekomendasi

Setelah lukanya sembuh, guru SMK 2 Jayapura yang mengendarai motor itu menabrak bus yang berhenti di hadapannya. Penyebab kecelakaan itu pandangan Gah yang kabur akibat katarak. ”Jarak pandang saya hanya 10 meter,” ujar Gah.

Pascapetaka itu pria kelahiran Kupang 1 November 1939 itu segera ke Rumah Sakit Dok II Jayapura. Sudah lama memang ia merasakan gangguan pada kedua matanya. Mula-mula tampak seperti 2 buah awan yang berarak di depan matanya. Dua tahun kemudian kedua awan itu kelihatan menyatu. Dokter spesialis mata di rumah sakit itu menyatakan Dominggus Gah positif katarak.

Penyakit itu jelas mengganggu pekerjaan Gah sebagai guru olahraga. ”Kalau menyeberang jalan, saya ragu-ragu karena kendaraan yang lewat tidak kelihatan. Anak-anak saya biasa mengantar saya,” ujar ayah 6 anak itu. Sejak bencana beruntun itu anak-anak Gah melarangnya mengendarai motor. Ketika kondisinya kian parah, membaca pun ia tak mampu. Itu dialami hampir setahun lamanya.

Toh, rasa ingin tahu Gah harus dipuaskan. Oleh karena itu ia kerap meminta anak-anaknya membacakan koran untuknya. Tugas sebagai pelayan fi rman—membaca Injil di gereja—juga dialihkan kepada orang lain. Karena pandangan kabur, ia mengenali seseorang dari suara, bukan sosok fi sik.

Kanan

Setahun sejak pemeriksaan pertama kali, pada awal 2004 mata kanan Dominggus Gah dioperasi. Menurut dokter seperti dikutip Gah, butuh waktu setahun untuk operasi karena katarak tergolong muda. Sebuah lensa dipasang di matanya. Sayang, tindakan medis itu tak meyelesaikan masalah. ”Yang dapat saya lihat hanya cahaya dan gerakan. Dokter bilang, sabar dulu,” katanya.

Sebulan berselang, mata kanannya kembali dioperasi karena operasi sebelumnya dianggap gagal. Rencananya setelah kondisi mata kanan membaik, mata kiri akan dioperasi. Namun, karena kondisi mata kanan tak kunjung membaik, operasi mata kiri yang juga terserang katarak pun tertunda. Katarak merupakan kekeruhan lensa mata yang m e n y e b a b k a n lensa tak jernih dan berwarna keputihan sehingga penglihatan terganggu.

Penyakit itu terjadi lantaran proses degerasi protein lensa mata dan penimbunan ion kalsium. Lazimnya katarak terjadi setelah usia 50 tahun. Namun, gejala katarak yang dialami Dominggus Gah ketika berusia 40-an tahun. Katarak pada usia muda—kurang dari 50 tahun—akibat trauma pada mata, glaukoma, efek samping obat, atau komplikasi penyakit metabolik lain. Pembedahan untuk mengangkat lensa mata yang keruh merupakan solusi pengobatan katarak.

Di tengah ketidakpastian operasi mata kiri, Dominggus Gah mendengar pengobatan tetes untuk mengatasi katarak. Beberapa tetangganya di Kelurahan Vim, Jayapura Selatan, lebih dulu menjalani pengobatan yang dilakukan oleh Heinrich A Melcher. Pertengahan 2004 alumnus Universitas Negeri Surabaya itu diantar istri berangkat ke Sentani, sekitar 40 km dari kediamannya.

Ia menengadah dengan bersandar di kursi. Heinrich, herbalis, 2 kali meneteskan obat di sudut mata kiri Gah. Atas permintaannya, mata kanan Gah tak ditetesi karena masih terpasang lensa. Begitu ditetesi, ”Pedasnya luar biasa, mata seperti kemasukan sambal,” katanya mengenang pengalaman pertama berobat tetes. Selama 10 menit ia dan puluhan pasien lain, memejamkan mata. Air mata terus mengalir.

Ketika membuka mata, kotoran berwarna putih menumpuk di sudut matanya. Mata juga terasa segar ketika rasa pedas berangsur-angsur hilang. Gah menjalani pengobatan tetes, 2 kali sepekan. Setelah 4 bulan, perubahan mulai terjadi. ”Pandangan saya mulai jauh, bisa sampai 20 meter (sebelumnya hanya 10 meter, red),” katanya. Pada tetesan ke-40 Gah akhirnya dapat membaca kembali.

Keben

Berangsur-angsur penglihatan mata kiri Gah kian membaik. Mata kanannya yang dulu diopersi, belum mengalami perubahan. Ia memeriksakan diri ke dokter yang semula merawat matanya. Menurut dokter, mata kirinya kian bersih sehingga ia disarankan untuk mengganti kacamata silinder menjadi plus 3. ”Kalau mata kiri ditutup, kelihatan ada orang, tapi saya tak tahu siapa?” ujarnya sembari menutup mata kiri.

Sebaliknya, ketika mata kanan ditutup, mata kirinya mampu melihat objek dengan jelas. Meski dokter ”curiga” atas perubahan mata kirinya, Gah tidak menceritakan soal pengobatan tetes. Sebab, mata kanannya masih ditangani dokter. Ia khawatir tindakan pengobatan tetes memp e n g a r u h I sikap dokter dalam menanganinya. Gah bukan satu-satunya penderita katarak yang membaik setelah menjalani pengobatan tetes.

Menurut catatan Heinrich, saat ini setidaknya 35.000 pasien gangguan mata—sebagian besar katarak—telah ditanganinya. Prevalensi katarak di Papua memang cukup tinggi. Dr John Manangsang di Papua yang dihubungi Trubus secara terpisah menduga, tingginya kasus katarak akibat intensitas inar matahari yang tinggi. ”Tapi ini  juga harus dibuktikan secara ilmiah. Misalnya dengan membandingkan kasus serupa di Pontianak yang dilewati garis khatulistiwa,” katanya. Dugaan lain akibat rendahnya asupan gizi masyarakat Papua.

Heinrich Melcher mengatasi katarak Gah dengan ramuan herbal yang terdiri atas 7 tanaman. Satu di antaranya yang dominan adalah keben Barringtonia asiatica. Untuk keperluan pengurusan hak paten, herbalis di Papua itu merahasiakan 6 tanaman endemik yang menjadi bahan baku obat tetes. B u a h keben yang berbentuk limas terbalik terdiri atas satu biji seukuran telur ayam.

Hanya buah matang, ditandai dengan kulit berwarna kecokelatan, yang diambil bijinya sebagai obat. Biji bitung—sebutannya di Manado—dihancurkan dan dicampur dengan bahan baku lain. Belum ada riset mendalam yang mengungkap zat aktif dalam biji anggota famili Lecythidaceae itu. Yang diketahui biji keben mengandung saponin 14%. Masyarakat Papua tidak memanfaatkan keben untuk pengobatan.

Herbalis lain seperti Broto Sudibyo tak memanfaatkannya sebagai bahan baku obat. Untuk mengatasi beragam penyakit mata, Broto menggunakan bunga telang. Ia berpesan pemanfaatan keben atau tanaman lain sebagai bahan baku obat mesti hati-hati. Sejauh ini 35.000 pasien gangguan mata yang ditangani Heinrich, 85% mengalami kesembuhan. Puluhan pasien di Papua yang ditemui Trubus secara terpisah menuturkan, pengobatan tetes berdampak positif bagi indra penglihatannya. (Sardi Duryatmo).

 

- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Potensi Pemanfaatan Limbah Ceker Ayam sebagai Obat

Trubus.id — Mahasiswa Universitas Gadjah Mada menciptakan collagen tripeptide yang dihasilkan dari limbah ceker ayam sebagai alternatif pengobatan aterosklerosis.  Fitria Yuliana,...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img