Monday, August 8, 2022

Karena Kurma Bye Bye Demam

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

Sari kurma bebaskan Suwitri dari demam berdarah dengue (DBD).

Suhu tubuh tinggi pada pertengahan 2009 membuat Suwitri gundah-gulana. Demam begitu berat hingga menggigilkan tubuh. Dokter ahli penyakit dalam dari Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada, Dr dr Nyoman Kertia SpPD KR, menuturkan seseorang yang mengalami demam suhu tubuhnya bisa mencapai 400C. Untuk meredakan demam, Suwitri mengonsumsi obat penurun demam yang banyak beredar di pasaran. Namun, dua hari berlalu demam tak kunjung pergi.  Khawatir dengan kondisi Suwitri, sang suami, Mundakir, pun bergegas membawa ke klinik terdekat.

Lingkungan bersanitasi baik mengurangipeluang terkena DBD
Lingkungan bersanitasi baik mengurangi
peluang terkena DBD

Dokter yang memeriksa menyarankan Suwitri menjalani tes pemeriksaan darah. Hasil uji darah itu menyebutkan ia positif terkena demam berdarah dengue (DBD). “Saya lupa jumlah trombosit saat itu,” kata wanita berumur 42 tahun itu. Seseorang disebut menderita DBD jika jumlah trombosit kurang dari 100.000 µl.

Sari kurma

Dokter pun segera merujuk Suwitri untuk menjalani rawat inap di sebuah rumahsakit di Jakarta Utara. Demi meraih kesembuhan ia pun mengikuti petunjuk ahli medis itu. Padahal itu pertama kalinya Suwitri menjalani opname. Oleh karena itu, “Saya sempat merasa cemas dan khawatir,” ujar wanita kelahiran Jakarta itu.

Selama di rumahsakit Suwitri mendapat perawatan berupa pemberian multivitamin dan infus. Menurut Nyoman Kertia, biasanya di rumahsakit penderita DBD mendapat asupan vitamin B1, B6, B12, dan C. “Vitamin tersebut meningkatkan daya tahan tubuh sehingga membentuk antibodi untuk melawan virus,” kata Nyoman. Menurut dokter alumnus Universitas Udayana, Denpasar, Bali, itu pasien yang tidak terlalu parah bisa pulang setelah hari ketujuh. “Pasien DBD boleh pulang jika suhu tubuh, tekanan darah, dan denyut nadinya stabil,” ujar Nyoman.

Dua hari dirawat di rumahsakit, seorang teman datang menjenguk. Ia menyarankan Suwitri mengonsumsi sari kurma agar kadar trombosit cepat naik. Menurut dokter sekaligus herbalis di Tangerang Selatan, dr Prapti Utami, sari kurma memang banyak dipakai untuk membantu mempercepat pemulihan kondisi pasien DBD. Mundakir pun bergegas membeli sari kurma untuk sang istri.

Suwitri mengonsumsi sari kurma sekaligus tetap mengonsumsi multivitamin dari dokter. Dalam kemasan sari kurma yang dibeli tertulis dosis konsumsi 3 kali sehari sebanyak 2 sendok makan. Namun, tekad ingin cepat sembuh membuat Suwitri mengabaikan anjuran. Ia mengonsumsi lebih dari 15 sendok makan sari kurma sehari. Ia pun menjadikan sari kurma sebagai selai saat mengonsumsi roti. Suwitri tidak khawatir ‘overdosis’ karena, “Sari kurma itu herbal, bukan obat keras,” katanya. Herbalis di Tangerang Selatan, Provinsi Banten, Lukas Tersono Adi, menuturkan konsumsi sari kurma melebihi anjuran itu tidak berbahaya. “Dalam ilmu naturopati itu yang disebut makanan adalah obat,” ujar Lukas.

Dua hari mengonsumsi sari kurma, jumlah trombosit Suwitri meningkat. “Badan terasa segar dan tidak loyo lagi,” kata Suwitri. Sayangnya lagi-lagi ia lupa kadar trombosit saat itu. Dokter yang memeriksa pun senang sekaligus takjub dengan peningkatan tersebut. Lazimnya pasien DBD pulih setelah 14 hari perawatan, Suwitri hanya 5 hari menjalani perawatan. Dokter pun mengizinkan Suwitri pulang pada keesokan harinya.

Sistem imun

Selang 2 hari setelah Suwitri pulang, Indra Bayu, sang anak, menderita gejala mirip DBD. Untuk memastikan dugaan itu, ia memeriksakan Indra ke dokter. Hasil tes darah menunjukkan Indra positif gejala DBD. Dokter memberi obat penurun demam dan peningkat trombosit. Belajar dari pengalaman sendiri, Suwitri pun memberikan sari kurma dengan dosis sama untuk Indra. Dua hari berselang, kondisi si buah hati berangsur pulih. “Indra tidak loyo lagi dan kembali fit,” kata ibu rumah tangga itu.

Bagaimana sari kurma membantu pasien DBD menggapai kesehatan? Menurut Lukas sari kurma mampu meningkatkan antibodi atau sistem imunitas tubuh. “Antibodi berperan menghambat perbanyakan virus penyebab DBD,” kata Lukas. Itu sejalan dengan hasil penelitian Koji Karasawa, Yuji Uzuhashi, Mitsuru Hirota, dan Hajime Otani dari Interdisciplinary Graduate School of Science and Technology, Universitas  Shinshu, Minamiminowa-mura, Kamiina-gun, Nagano, Jepang yang termuat dalam Journal of Agricultural and Food Chemistry yang menunjukkan kurma mengandung polifenol dan polisakarida yang mampu membangkitkan sistem imunitas pada tikus percobaan.

Menurut dr Prapti sari kurma bekerja mengatur keseimbangan elektrolit dalam tubuh yang terganggu karena serangan virus dengue. Kandungan vitamin C dalam sari kurma memperkuat dinding pembuluh darah kapiler sehingga trombosit tidak keluar. “Untuk pasien DBD lebih baik mengonsumsi dalam bentuk sari kurma bukan buah utuh segar atau kering karena lebih mudah diserap tubuh,” ujar dr Prapti. Selain kurma, jambu biji dan daun kelor juga baik bagi pasien DBD.

DBD sejatinya penyakit lama. H Nobuchi seperti dikutip Duane J Gubler dalam “Clinical Microbiology Reviews” menjelaskan DBD sudah ada sejak zaman kerajaan China kuno. Penyakit itu tertulis dalam ensiklopedi gejala penyakit dan penyembuhan yang terbit pada era Dinasti Chin (265-420 SM). Masyarakat China kuno menyebut demam berdarah sebagai racun air.

Itu berhubungan dengan serangga terbang yang berasosiasi dengan air sebagai penyebab DBD. Di Indonesia DBD pertama kali ditemukan di Surabaya pada 1968. Saat itu 58 orang terinfeksi dan 24 orang di antaranya meninggal dunia. Sejak kejadian itu demam berdarah menyebar luas ke seluruh Indonesia. Data Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Kementerian Kesehatan menyebutkan DKI Jakarta menjadi provinsi dengan angka insiden DBD tertinggi kedua setelah Bali pada 2011. Saat itu angka insiden DBD di Jakarta mencapai 47 kasus per 100.000 penduduk. Bandingkan dengan angka insiden DBD terendah di Sulawesi Tenggara sekitar 0,87 kasus per 100.000 penduduk.

Hasil penelitian Zulkarnaini dari Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Yusni Ikhwan Siregar dan Dameria dari Program Studi Ilmu Lingkungan Program Pascasarjana Universitas Riau, menyebutkan terdapat hubungan antara kondisi sanitasi dengan keberadaan jentik nyamuk Aedes-serangga vektor dengue. Zulkarnaini dan rekan dalam “Journal of Environmental Science” menuturkan semakin kurang baik kondisi sanitasi lingkungan rumah, maka kian banyak jentik vektor dengue ditemukan.

“Lingkungan sekitar rumah saya bersanitasi buruk,” tutur Suwitri yang kini tinggal di Bekasi mengingat serangan DBD 3 tahun silam. Untuk mencegah DBD menjangkit masyarakat perlu memberantas sarang nyamuk. Itu dilakukan dengan melakukan 3M (menguras, menutup, dan mengubur). Menguras berarti mengganti air secara rutin pada wadah berisi air seperti tempat minum burung. Selanjutnya menutup rapat tempat penampungan air. Terakhir mengubur wadah bekas yang berisi air. Jika DBD telanjur menyerang, sari kurma bisa menjadi salah satu upaya menggapai kesehatan. (Riefza Vebriansyah)

 

Keterangan Foto :

  1. Sari kurma terbukti secara empiris meningkatkan trombosit
  2. Lingkungan bersanitasi baik mengurangi peluang terkena DBD
  3. Suwitri merasakan khasiat sari kurma
Previous articleBeras Tumpas Sel Ganas
Next articleAncaman Buat si Upik
- Advertisement -spot_img

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img