Sunday, November 27, 2022

Karena Liliput Mengubah Segalanya

Rekomendasi

Setelah ditiriskan,beras basah dimasukkan ke dalam botol selai dan ditutup kertas roti agar gas karbondioksida yang dihasilkan saat fermentasi selama 14 hari mudah keluar.Lantas beras dikukus hingga 2 jam untuk sterilisasi.

Sembari menunggu beras, siapkan satu spatula cendawan ? sekitar 0.01g. Siapkan pula 5% tepung beras, 0,25% potasium dihidrogen fosfat,0,15% sodium nitrat, 0,1% magnesium sulfat, 0,1% monosodium glutamat, 0,001% kalsium klorida.

Semua bahan diaduk dalam gelas hingga rata dan campurkan bibit cendawan ke dalamnya. Untuk siap digunakan sebagai inokulum, larutan Monascus spp ini harus dibiarkan tumbuh atau diinkubasi selama 5 ?7 hari di dalam alat pengocok dengan kecepatan 100 rpm pada suhu ruang.Jika warna larutan sudah merah dan padat, berarti siap untuk digunakan. Setelah beras dingin, cendawan lalu diinokulasikan. Media bibit cendawan harus diperbaharui setiap 3 bulan sekali. Hal ini untuk menjaga bibit tetap asli tanpa kontaminasi dari mikroorganisme lain.

Ruangan tempat pemberian larutan cendawan ke dalam botol harus steril, dengan menyemprotkan alkohol terlebih dahulu. Tangan dibersihkan alkohol 70%dan kenakan sarung tangan plastik. Peralatan juga harus steril. Oleh karena itu spatula,pemindah bibit ke larutan kimia, wajib dipanaskan di api. Sebanyak 3 ?5 ml larutan cendawan dituang ke botol berisi 100 g beras. Jika volume beras lebih daripada itu, bibit pun ditingkatkan. Penuangan cendawan dekat api untuk mencegah kontaminasi.

Masa inkubasi

 

Botol-botol beras yang mengandung cendawan itu difermentasikan di rak, agar suhu terjaga. Cendawan hidup nyaman pada suhu 25 – 30oC. Kendala inkubasi adalah sulitnya mengontrol kontaminan lain berupa virus, bakteri, dan cendawan yang mungkin masuk. Jika itu terjadi, angkak gagal dipetik, justru senyawa lain yang merugikan kesehatan.

Indikasi kontaminasi bervariasi. Misalnya, jika masuk cendawan penghasil warna biru, beras pun membiru. Botol beras terkontaminasi harus cepat dipisahkan dari rak dan disterilisasi agar seluruh bakteri mati. Proses fermentasi selesai ketika warna beras berubah merah keunguan. Pada kondisi itu pemanenan bisa dilakukan. Pemanenan dilakukan 3 tahap: pengeringan, penggilingan, dan sterilisasi. Beras hasil fermentasi dikeluarkan dari botol dan ituangkan ke loyang aluminium. Lalu dimasukkan ke oven untuk dikeringkan pada suhu 70oC selama 48 jam. Hasilnya, kadar air beras menjadi 4 ?5%.

Angka ini mesti didapat agar proses fermentasi terhenti, sehingga mikroba tak mencemari produk selama penyimpanan. Selain itu,kadar air rendah mempercepat penggilingan.

Proses pembuatan bubuk angkak dilakukan sesuai kebutuhan. Alat giling yang digunakan harus bersih. Sebelum dipasarkan atau digunakan, bubuk angkak disterilisasi untuk jaminan fermentasi telah terhenti. Tak ada lagi mikroba yang hidup.Angkak dimasukan ke dalam kantong kertas tahan panas. Lantas dipanaskan di oven dengan suhu 160oC. Jika seluruh proses produksi dilaksanakan sesuai prosedur dan terjamin higienitasnya,angkak siap dikonsumsi. Sebagai konsumsi harian, angkak dapat digunakan sebagai pengganti teh. Ini berguna untuk mencegah peningkatan kolesterol dalam tubuh akibat konsumsi makanan tinggi lemak.

Dengan 250 ?500 gram angkak per hari berarti telah mengkonsumsi 5 – 10 g monakolin yang dikenal sebagai penurun nilai LDL dalam darah. Sebagai pewarna makanan, angkak cukup diseduh dengan air panas.Warna yang diinginkan diperoleh dengan mengatur perbandingan angkak dan air.(Drs Djadjat Tisnadjaja MTech, peneliti Pusat Penelitian Bioteknologi, Bogor)

- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Empat Gabus Hias yang Cocok untuk Pemula

Trubus.id — Pehobi pemula perlu memahami jenis gabus hias atau channa. Hal ini karena masing-masing gabus hias memiliki tingkat...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img