Thursday, August 18, 2022

Karena Perkawinan Ilat Mertua

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

Jumiati menduga ‘keanehan’ itu diwariskan dari induk lain sehingga karakter superclone menjadi samar. Sayangnya ihwal sang induk tak terekam jelas dari sang pemilik. Kemungkinan varian itu lahir dari hasil persilangan alami. Maklum, para hobiis biasanya menyimpan aneka jenis koleksi dalam satu tempat.

Meski demikian ketidakjelasan induk pada sansevieria hasil silangan bukanlah ganjalan bagi para hobiis. ‘Yang penting karakternya berbeda dengan jenis-jenis yang sudah ada,’ ujar Soejatno Soebekti, kolektor asal Temanggung, Jawa Tengah. Itulah sebabnya alumnus Jurusan Agronomi Institut Pertanian Bogor (IPB) itu juga memburu sansevieria hibrid. Bila memperoleh informasi datangnya silangan lidah mertua baru, ia bergegas untuk memesan.

Tanpa nama

Itulah yang dilakukan waktu mendengar Boen Soediono mengimpor hibrida baru dari Thailand. Buru-buru Soejatno memborong. Salah satunya silangan antara Sansevieria masoniana dan S. kirkii. Sosoknya berdaun lebar seperti masoniana, tetapi ukurannya lebih pendek yakni 10-15 cm. Panjang daun masoniana lazimnya mencapai 25-75 cm. Karena berukuran lebih pendek, daun tampak lebih membulat.

Sumbangsih gen kirkii terlihat pada corak daun. Ciri warna daun masoniana berupa spot hijau muda nyaris tak terlihat. Pada hasil silangan itu warna daun diselingi pola horizontal berwarna putih dan hijau muda. Beberapa daun memiliki pola garis longitudinal berwarna hijau tua yang makin menipis seiring perkembangan tanaman.

Sayangnya tak semua hibrida asal Negeri Seribu Candi itu terlahir menyandang nama sang induk. ‘Beberapa masih saya beri kode NN (no name, red),’ tutur Soejatno. Salah satunya berdaun menyerupai Sansevieria trifasciata ‘hahnii’. Daunnya pendek dan melengkung ke belakang sehingga termasuk tipe birdnest alias membentuk sarang burung. Namun, warna daun dan corak tak setegas hahnii. Silangan tanpa nama itu berwarna dominan hijau muda dengan guratan garis vertikal searah panjang daun. Corak semacam itu tak lazim ditemukan pada hahnii dan variannya.

Ada pula silangan yang hanya menyandang nama induk betina. Salah satunya Sansevieria roxburghiana hibrid. Hasil silangan itu sama sekali berbeda dengan karakter yang dideskripsikan B Juan Cahinian dalam bukunya The Splendid Sansevieria. Presiden International Sansevieria Society (ISS) itu menyebutkan sosok roxburghiana kerap membingungkan karena ada yang berdaun tebal dan cenderung membulat. Ada juga yang berdaun pipih seperti silangan koleksi Soejatno. Hanya saja berukuran lebih pendek. Ujung daun mirip S. javanica atau S. zeylanica. Daun kerabat hanjuang itu didominasi warna hijau. Corak daun khas roxburghiana nyaris tidak tampak.

Dominasi Siam

Jenis-jenis hibrida yang masuk ke tanahair sebagian besar berasal dari Thailand. ‘Pekebun di Thailand ramai menyilangkan sansevieria pada akhir 2007,’ ujar Pramote Rojruangsang alias Tjiew kepada wartawan Trubus Rosy Nur Apriyanti saat mengunjungi nurserinya di Pathumthani, Thailand. Akibatnya, karakter hasil silangan masih tanda tanya. Biasanya hasil silangan baru terlihat karakternya setelah berumur 2 tahun.

Hibrida-hibrida berukuran besar didapat dari mancanegara. ‘Beberapa pekebun mendatangkan hibrida dari Amerika dan Filipina,’ kata Tjiew. Negeri Siam memang kerap menjadi ‘persinggahan’ tanaman hias dari berbagai negara. Tjiew sendiri menyilangkan sansevieria sejak 2002. ‘Ketika itu hanya sekadar hobi,’ ujar pemilik Unyamanee Garden itu. Baru pada 2 Maret 2006, ia serius menyilangkan lidah mertua. Hasil jerih payahnya itu kini mulai terlihat. Beberapa hasil silangannya menampakkan karakter yang berbeda dengan sang induk.

Salah satunya Sansevieria horwood hibrid. Hanya saja Tjiew tidak dapat mengidentifikasi tetua jantan. ‘Bunga tidak matang bersamaan. Indukan yang berbunga juga terbatas. Jadi dalam satu tangkai bunga diserbuki lebih dari satu indukan jantan,’ tuturnya. Bunga Sansevieria ‘horwood’ diserbuki oleh Sansevieria trifasciata, S. ‘siam silver’, S. guineensis, S. cylindrica, dan S. ballyi. Dua tahun berselang, dari kelima indukan jantan itu lahir 3 varian yang menampakkan karakter berbeda.

Satu di antaranya berdaun lebih pendek dan tebal. Horwood lazimnya berdaun panjang hingga mencapai 75 cm dan tipis. Ciri khas corak yang biasanya berupa totol berwarna perak berubah menjadi garis yang membentuk deretan horizontal seperti pada trifasciata. Namun, tepi daun bergelombang yang menjadi ciri khas horwood masih terlihat jelas. Hibrida lainnya mirip yang pertama. Hanya saja tepi daun tidak begitu bergelombang.

Varian yang ketiga juga tak kalah unik. Warna daun didominasi hijau tua. Anehnya, dua daun muda berwarna kuning seperti variegata. ‘Penyebabnya hingga kini belum diketahui,’ ujar Tjiew.

Hasil silangan lainnya adalah Sansevieria cylindrica hibrid. Keempat tetua jantan yang digunakan sama, plus horwood. Persilangan itu melahirkan salah satu varian yang juga unik. Kelima daun pertama silangan itu berbentuk pipih dan ujung daunnya menyerupai Sansevieria javanica. Sedangkan daun ke-6-8 berbentuk bulat, khas cylindrica ‘patula’.

Penyimpangan juga terjadi ketika Tjiew menggunakan Sansevieria ballyi sebagai tetua betina. Salah satu hasil silangannya benar-benar menyimpang dari karakter ballyi. Daunnya menjadi pipih dan tebal, tidak membulat seperti lazimnya. Cross banding menyerupai trifasciata.

Dengan hasil silangan seperti itu Tjiew yakin 1-2 tahun mendatang sansevieria hibrid bakal membanjiri Thailand. Maklum, tak hanya Tjiew yang getol menyilangkan tanaman ular itu. Sekitar 30-40 pekebun mengikuti jejak Tjiew sejak akhir 2007. Imbasnya tren sansevieria di tanahair bakal semakin langgeng seiring lahirnya hibrida-hibrida baru. (Imam Wiguna)

 

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img