Monday, November 28, 2022

Kawah Candradimuka di Lereng Wilis

Rekomendasi

Dua tahun terakhir pria 47 tahun itu lebih banyak menghabiskan waktu di rumah. Bukan menganggur, tetapi membudidayakan jamur tiram. Dengan rutin menuai 10 kg jamur setiap hari saja, ia mengantongi Rp100.000 atau Rp3-juta per bulan.

 

Di Prigen, Kabupaten Pasuruan, harga sekilo jamur tiram segar di tingkat pekebun Rp10.000. Ketimbang komoditas sayuran lain, harga tiram relatif stabil dalam 5 tahun terakhir. Pekebun tak perlu repot memasarkan lantaran pengepul menjemput hasil panen. Jika ada yang tersisa pun, dijual ke pasar tradisional. Pilihan lain diolah menjadi berbagai penganan seperti keripik, lemper, dan botok.

Kaiman tak sendiri. Ia dan 30-an pekebun yang bergabung dalam kelompok petani jamur di Bulukandang, Kecamatan Prigen, Kabupaten Pasuruan, rata-rata memanen 100 kg jamur per hari. Pendapatan yang lebih dari cukup untuk menafk ahi keluarga. Padahal, semula di Bulukandang serbuk gergaji merupakan limbah yang mencemari. ‘Kalau hujan deras banyak dihanyutkan di sungai,’ ujar Kaiman mengenang.

Oleh karena itu jika ada yang mengambil limbah itu, pemilik gergajian kayu amat senang. Itu dua tahun lalu. Sekarang? ‘Sekarung (setara 20 kg, red) dijual Rp3.000,’ ujar ayah 2 anak itu. Nah, limbah itulah yang kini diburu para pekebun jamur di Bulukandang. Serbuk gergaji bahan dominan pembuatan baglog sebagai media tumbuh jamur. Desa di ketinggian 400 m di atas permukaan laut itu memang sentra penggergajian kayu. Perubahan drastis itu terjadi berkat PT Sampoerna yang mendirikan Pusat Pelatihan Kewirausahaan Sampoerna (PPKS) pada Juni 2006.

Terpadu

Di lahan 17 ha, perusahaan rokok itu membangun lahan-lahan percontohan secara terpadu. Pengertian terpadu adalah pemilihan komoditas beragam (sayuran, buah, tanaman obat, satwa, perikanan) dan saling menunjang. Ada 12 sapi simental yang menghasilkan kotoran dan urine.

Kedua sekresi itu diolah menjadi pupuk kandang. Kotoran sapi diolah bersamaan dengan limbah pabrik rokok seperti tangkai cengkih menjadi pupuk kandang. Sementara urine difermentasikan menjadi pupuk organik cair.

Agar kebutuhan pakan sapi dan kambing peranakan ettawa tercukupi, di lahan itu Sampoerna juga membudidayakan rumput. Pupuk urine dan kotoran sapi dimanfaatkan sebagai sumber hara bagi beragam tanaman. Ada aneka tanaman obat seperti lidahbuaya Aloe vera, temulawak Curcuma xanthorriza, dan mahkotadewa Phaleria macrocarpa. Beragam sayuran antara lain terung dan kacang-kacangan juga dibudidayakan. Buah naga dan pepaya pun dikembangkan.

Memang lahannya tak begitu luas, rata-rata 2.000- 3.000 m2 per komoditas. Menurut Ishak lahan itu hanya sebagai percontohan bagi peserta pelatihan. Setelah mengikuti pelatihan, para peserta mempunyai gambaran jelas tentang komoditas yang akan dikembangkan. Dari sisi teknologi budidaya, PPKS juga memberikan banyak alternatif. Contoh, teknologi irigasi tetes yang relatif mutakhir. Penyiraman dan pemberian nutrisi melalui selang-selang kecil yang dilengkapi nozel. Secara periodik, nozel menyemprotkan nutrisi yang diperlukan tanaman.

Yang berlahan sempit dapat meniru teknologi vertikultur alias budidaya bertingkat. Beberapa model rak bertingkat- tempat budidaya beragam sayuran-dapat diterapkan. Teknologi pengolahan sederhana juga tersedia di sana. Seperangkat alat pemrosesan susu kedelai, pembuatan bakso ikan patin, tahu, keripik tempe hanya beberapa di antaranya. Semua fasilitas itu merupakan pendukung keberhasilan pelatihan yang diselenggarakan PPKS.

Candradimuka

Secara periodik PPKS yang bekerja sama dengan lembaga swadaya masyarakat dan perguruan tinggi itu memang menyelenggarakan pelatihan. Pesertanya masyarakat-terutama di sekitar lingkungan pabrik-dan karyawan menjelang pensiun. Pengembangan agribisnis menjadi salah satu pilihan-selain otomotif-lantaran agroklimat dan aspek pemasaran amat mendukung. Nah, Kaiman hanya salah satu ‘alumnus’ pelatihan PPKS. Kaiman angkatan pertama. Saat itu dari 25 peserta yang diundang PPKS, hanya 4 yang datang, termasuk Kaiman. Itu pun ia hampir saja mogok lantaran materi budidaya jamur hingga pengolahan dinilai peserta njlimet. Istilah teknis berbau ilmiah seperti PDA alias media untuk perbanyakan spora membikin ia mengernyitkan dahi. Menyadari hambatan semacam itu Yustinus Hari dari PPKS segera merombak materi dengan bahasa yang sederhana sehingga mudah dipahami.

Materi yang diberikan PPKS juga menyeluruh, sejak budidaya hingga pascapanen dan pemasaran. Malahan, PPKS turut membantu memasarkan. Harap mafhum, jumlah karyawan perusahaan rokok itu yang mencapai 22.000 salah satu pasar empuk. Memang PPKS tetap membuka peluang untuk memasarkan di luar perusahaan.

Menurut Ishak, PPKS menjadi prinsip perusahaan seperti diamanatkan oleh pendiri perusahaan itu, HM Sampoerna. Ia pernah berujar, kemajuan Sampoerna tak hanya dinikmati sendiri. Itu terbukti kini. Sebelum PPKS berdiri, Bulukandang adalah ‘sentra’ pencurian kendaraan bermotor. Menjelang petang, hampir tak ada penduduk di luar desa itu yang berani melintas di sana. Beberapa penduduknya sempat mencicipi tingggal di hotel prodeo alias penjara karena terlibat pencurian.

Namun, sekarang mereka meninggalkan kejahatan itu dan beralih menekuni dunia agribisnis. Itu setelah mereka digembleng di Kawah Candradimuka yang mengingatkan kita akan kisah Bambang Tetuka dalam kisah pewayangan. Bayi merah itu digembleng sehingga berotot kawat dan bertulang baja. Para peserta pelatihan PPKS juga bermental baja sehingga tak gampang menyerah. Kawah Candradimuka PPKS itu bukan di Jonggringsaloka seperti dalam kisah pewayangan, tetapi di lereng Gunung Wilis. (Sardi Duryatmo)

- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Cara Membangun Rumah Walet agar Walet Mau Bersarang

Trubus.id — Rumah walet tidak bisa dibuat asal-asalan. Perlu riset khusus agar rumah itu nyaman ditempati walet. Mulai dari...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img