Wednesday, August 17, 2022

Kawin Massal Dongkrak Produksi

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

Kunci keberhasilan peternak di Bintaro, Tangerang, itu, terletak pada teknik menyiasati induk agar tidak saling berantem. Ia menyekat kolam secara bertingkat mirip apartemen dengan cara memasukkan 2—3 roster—bata berventilasi ke kolam—lalu ditutupi asbes. Bagian atas asbes ditindih 2—3 roster, kemudian dilapisi asbes lagi.

“Dengan teknik itu ruang gerak lobster lebih leluasa, sekaligus tempat ngumpet. Induk aman dari gangguan, terutama saat ganti kulit,” ucapnya. Inovasi itu membuka peluang peternak untuk menghasilkan bibit dalam jumlah banyak. Apalagi, permintaan bibit yabby—nama lain lobster itu tinggi.

Bandingkan dengan teknik lama, yakni mengawinkan di akuarium dengan jumlah induk terbatas. Pengalaman Cuncun dari 1.000 telur yang menetas, hanya 750 ekor dipanen. Itu belum termasuk kematian akibat induk memangsa anakan sehingga tingkat kelulusan hidup kecil, sekitar 50%.

Tingkat kematian makin tinggi bila peternak kurang teliti merawat. Gara-gara tidak memberikan plankton, misalnya, Cuncun harus menanggung risiko kematian larva—anakan lobster—hingga 50%. “Selain itu, peternak repot karena harus mengontrol Induk akuarium setiap hari. Terutama saat tepat memisahkan induk selesai kawin atau induk masih menggendong anaknya,” kata alumnus Institut Teknologi Indonesia itu.

Umur induk

Cuncun sebenarnya tak mensyaratkan ukuran kolam untuk perkawinan massal. Di Bintaro, Tangerang, ia memakai berbagai ukuran kolam. Di antaranya 17 kolam berukuran 1 ,2 m x 1 m; 2 kolam lebih berukuran 4 m x 5 m, dan 6 bak fi ber berdiameter 2 m. Yang penting densitas induk harus diatur di setiap kolam. Idealnya, 20 ekor per m2.

Agar induk memijah, Cuncun mensyaratkan induk minimal berumur 6 bulan atau panjang 10 cm ke atas. Menurut peternak lobster sejak 2003 itu setiap induk menghasilkan 200 anak. “Ukuran 7,5 cm sebenarnya bisa dikawinkan, tapi kualitas dan jumlah anakan sedikit, paling banter 50 ekor,” katanya. Risiko lain, pertumbuhan induk lambat karena energi terkuras untuk kawin.

Ia memisahkan pejantan dan betina di kolam berbeda sebelum dikawinkan. Gunanya memudahkan melihat kelamin, sehingga induk itu benar-benar siap kawin. Setelah itu induk dimasukkan ke kolam dengan perbandingan 30 jantan dan 10 betina. “Soal waktu mencemplungkan induk tak ada aturan, mau pagi, siang, atau malam. Toh, iklim di Indonesia sangat mendukung lobster sehingga kawin bisa dilakukan kapan saja,” kata Cuncun.

Untuk memacu birahi, Cuncun memberikan pakan berupa toge dan cacing tanah, dosis 3% dari bobot tubuh setiap hari. Bila cacing tanah sulit diperoleh, dapat diganti pelet. Yang penting penyajian pakan disesuaikan dengan nafsu makannya. Artinya, bila pakan cepat habis, segera ditambah pada keesokan hari; tidak habis, dikurangi. Hal itu penting agar air tetap terjaga kebersihannya. Sebab, induk butuh air yang jernih untuk kawin. Syarat lain, pH air 6—8.

Keranjang kotak

Menurut pengalaman suami Sri Sumiati itu, dari 30 induk biasanya 25 ekor bertelur, sisanya ganti kulit. Pejantan dan betina yang berganti kulit dipisahkan ke kolam berbeda. Induk betina yang terbukti bertelur segera dikumpulkan, lalu dimasukkan ke keranjang berbentuk kotak berbahan kawat ram, seperti perangkap tikus. Ukurannya tergantung jumlah induk.

Cuncun membuat keranjang berukuran 50 cm x 10 cm, tinggi 15 cm yang mampu menampung 10 induk. Salah satu sisi keranjang berfungsi sebagai pintu yang diberi pengait, sehingga bisa dibukatutup ketika memasukkan induk. “Ukuran itu sudah cukup karena betina biasanya tidak banyak bergerak,” kata kelahiran Bandung, 26 tahun silam.

Sebanyak 10 pipa PVC 3 inci sepanjang 25 cm dimasukkan ke keranjang. Pipa itu berfungsi sebagai tempat induk bersembunyi. Yang penting jumlah induk disesuaikan dengan ukuran kolam pembesaran. “Bila target anakan berukuran 5 cm perlu kepadatan 75—100 ekor/m2. Jadi, bila populasi anakan 4.500 butuh kolam seluas 4,5 m2. Kepadatan per kolam dikurangi bila bibit dibesarkan hingga 10 cm,” ujarnya.

Air hijau

Saat induk mengeram, ketinggian air harus diatur sesuai dengan lokasi kolam. Tinggi air di tempat terbuka minimal 60 cm; beratap asbes, 20 cm. Hal ini penting untuk mencegah kematian larva akibat suhu air terlalu panas. Idealnya, larva butuh air bersuhu 24—30oC. “Upayakan saat pengeraman air tidak mengalami goncangan kuat, suhu dan pH-nya diusahakan stabil,” katanya.

Hati-hati, jangan terlalu sering mengganti air karena mengakibatkan kematian larva. “Terutama sebulan pertama sejak telur menetas, sebaiknya air tidak diganti. Setelah itu air boleh diganti seminggu sekali dengan dosis 25% dari tinggi air,” ujarnya.

Ketersediaan plankton sangat penting sebagai pakan awal larva. Itulah sebabnya perlu ditumbuhkan plankton sebelum larva dimasukkan. Air berubah hijau, seperti lumut pertanda siap pakai,” katanya. Waspadai bila air tiba-tiba berubah hijau pekat. Itu terjadi karena booming plankton dan berbahaya bagi larva karena terjadi persaingan oksigen pada malam hari.

Setelah anakan berumur 5—6 minggu, beri cacing sutera, bloodworm, atau pelet. Yang penting dosis diatur, jangan sampai air cepat kotor. Kecuali, bloodworm disajikan hidup boleh diberikan agak banyak, sehingga anakan dapat makan kapan saja dibutuhkan. (Nyuwan SB)

 

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img