Friday, December 9, 2022

Ke Puncak Bukit Demi Organik

Rekomendasi

Karena lahan miring, Agus Margono membuat bedengan 1 m x 8 m. Di guludan-guludan itulah menghampar bit, buncis perancis, buncis lokal, bayam jepang, bayam lokal, bawang daun, caisim, jagung manis, pakcoy, sawi putih, selada, dan wortel.

Ke-12 sayuran itu ditanam secara organik. Lahan di Cisondari memang tepat sebagai lokasi penanaman. Maklum, area itu terisolasi dari penanaman komoditas hortikultura yang biasanya jor-joran menggunakan pestisida. Hanya pertanaman teh yang mengelilingi lahan Agus. Sebelum Agus memanfaatkannya, lahan 6 ha itu hanya ditumbuhi semak dan perdu. Ia mengolahnya menjadi lahan organik 5 tahun silam. Kini sekitar 35%dari luas lahan ditanami wortel;12%, buncis perancis; dan 10%, jagung manis.

Dari lahan itu kini 6 hari dalam sepekan -Senin sampai Sabtu ?Agus Margono memetik hasilnya. Sekali panen alumnus Universitas Katolik Parahyangan itu mengangkut 400 -500 kg dari 12 komoditas yang diusahakan. Total jenderal volume panen mencapai 10 ton per bulan. Volume produksi itu terlampau kecil ketimbang total permintaan konsumen. ?Satu supermarket meminta 9 ton per bulan sayuran organik jenis apa saja,? ujar Dionetius Mulyono, manajer kebun Bukit Organik.

Tingginya permintaan konsumen mendorong sarjana ekonomi itu bermitra dengan pekebun setempat. Enam komoditas seperti kailan, kangkung darat, dan lobak dibudidayakan pekebun mitra di lahan 1 ha. Produksi mereka sekitar 0,5 ton per bulan ditampung Agus Margono. Dengan penyuluhan dan pengawasan ketat, sayuran organik produksi mitra tetap berkualitas.

Sayuran-sayuran itu untuk memenuhi permintaan 4 gerai di Bandung dan 13 gerai di Jakarta. Tentu setelah melalui sortir yang ketat, dibersihkan dengan air pegunungan, dan dikemas dalam plastik transparan berbobot 250 g. Itu semua dilakukan di pucuk bukit Gambungpangkalan. Dari sanalah sayuran nirpestisida itu dikirim ke 17 gerai pelanggan sayuran organik. Dari perniagaan sayuran organik, Agus Margono menangguk omzet Rp60-juta -Rp80-juta setiap bulan.

Tolak

Delapan tahun lalu Agus bukanlah pekebun organik. Saat itu krisis moneter menghantam negeri ini. Perusahaan keuangan tempat Agus bekerja turut ambruk dihantam badai krisis. Ketika itulah pria kelahiran 3 Oktober 1962 mencari-cari peluang beragribisnis. Mertuanya yang dokter, dr M M Mulyono SpPD, menganjurkan Agus bertanam sayuran organik. ?Pada masa mendatang, orang semakin merindukan hidup sehat. Ini peluang yang bagus, ? ujar Agus menirukan ucapan mertuanya.

Keruan saja Agus menolak lantaran tak tahu-menahu tentang pertanian. Usulan sang mertua pun tak digubrisnya. Ia malah memutuskan menekuni usaha periklanan. Di sela-sela kesibukannya, saran mertua kembali terngiang-ngiang. Oleh karena itu berbagai literatur tentang bertani organik dibacanya. Pada awal 2000 ia membuka lahan 5.000 m 2 di Desa Cisondari, Kabupaten Bandung. Di sana ia menanam pakcoy, caisim, selada keriting, sawi putih, dan tomat.

Ia memanfaatkan pupuk kandang yang banyak terdapat di sekitar kebun. Kotoran sapi ditebus Rp25. 000 per kandang. Setelah difermentasikan diperoleh 200 -300 karung kotoran. Empat bulan kemudian, pria 43 tahun itu memanen 500 kg sayuran berbagai jenis. Namun, ia bingung memasarkannya. Dengan mobilnya, sayuran itu dibawa Agus ke Jakarta. Ia menjajakan ke rekan-rekannya hingga terjual semua.

Pada awal 2000, ia memperluas lahan hingga 1 hektar yang ditanami buncis perancis, buncis lokal, terung, jagung manis, dan bayam. Untuk menjajakannya, ia menawarkan ke salah satu pasar swalayan di Bandung. Kesepakatan pun terjalin. Ia harus rutin memasok beragam sayuran organik ke 3 gerai. Waktu itu pasokannya 1 ton per bulan. Padahal, permintaannya mencapai 7 -8 ton. Derasnya permintaan itu mendorong ayah 3 anak itu memperluas lahan menjadi 2 hektar pada 2002.

Saat itu Agus meninggalkan perusahaan periklanan yang telah digeluti selama 2 tahun. Waktunya dicurahkan sepenuhnya untuk mengelola budidaya sayuran organik. Setahun berselang ia melebarkan pemasarannya ke Jakarta. Ia menawarkan produk organik ke beberapa pasar swalayan dan disetujui. Dalam waktu 2 tahun, permintaan 14 gerai di Jakarta harus dipenuhinya.

Kendala

Manisnya berniaga sayuran organik bukan tanpa aral. Masalah utama adalah kontinuitas. ?Kami belum menemukan pola tanam yang tepat agar produksi tidak terputus, ? kata Dion ?sapaan Dionetius. Saat pergantian musim hujan ke kemarau, hama datang bertubi-tubi. Untuk mengatasinya, Agus memanfaatkan daun suren, brotowali, daun tembakau, kemangi, dan kacang babi. Bahan baku insektisida nabati itu ditanam di pematang dan sebagian diambil dari hutan.

Bahan-bahan alami itu dicampurkan dengan air di dalam tong dan ditutup rapat. Setelah diperam 1 -2 minggu, larutan bahan alami siap semprot. Sebaliknya, saat musim hujan tiba, penyakit pun menjadi momok. Maklum, sayuran ditanam di lahan terbuka. Untuk mengatasi serangan cendawan, ia menggunakan jahe, kunyit, cengkih, bawang putih, dan lengkuas. Satu tangki 17 liter, cukup ditambahkan seliter larutan.

Terbatasnya pengawasan kepada pekebun mitra juga menjadi masalah. Ia khawatir petani mitra mengambil jalan pintas dengan menyemprotkan pestisida kimiawi. Itu cukup beralasan, sebab awalnya mereka bukan pekebun organik. Untuk mengatasi hal itu, ia dan pekebun mitra sepakat:jika mengabaikan kaidah bertani organik, sayuran mereka ditolak oleh Bukit Organik.

Selain itu, Agus mempunyai cara agar hama dan penyakit urung mewabah: penanaman tumpang sari. Tomat, misalnya, ditanam dekat bawang daun. Aroma bawang daun mampu mencegah serangan lalat buah. Begitu juga dengan pola tanam dengan sistem rotasi. Sebuah komoditas tidak ditanam di satu hamparan luas, tetapi terpisah-pisah di beberapa bedeng untuk mencegah penyebaran hama.

Dengan strategi itu, beragam sayuran di Bukit Gambungpangkalan tumbuh subur. Kualitas pun tetap terjaga sehingga diminati beragam konsumen. Sayang, produksinya relatif kecil ketimbang tingginya permintaan. Oleh karena itu ia berencana memperluas lahan. ?Pasar masih terbuka lebar, ? tegas Agus. Itu pula yang menyebabkan gairah Agus menyambangi lahan tak pernah surut. Meski jalan terjal dan berliku harus dilaluinya. (Imam Wiguna)

Previous articleSuperred Anda Berdarah Murni?
Next articleBerkat Lumpur
- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Keunggulan Kapal Canggih Penebar Pakan Ikan

Trubus.id — Kapal penebar pakan ikan bisa menjadi alternatif para pembudidaya yang memelihara ikan di tambak yang luas. Salah...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img