Monday, November 28, 2022

Ke Tirai Bambu Demi Kesembuhan

Rekomendasi

Tiga bulan dirawat di Guangzhou Municipal Special Hospital (GMSH), sel mematikan itu enyah tanpa operasi. Setelah rutin mengkonsumsi ramuan herba Susilawati dinyatakan sembuh. Harapannya berbuah kenyataan.

Lima tahun berselang, ia kembali terbang ke Guangzhou akibat paru-parunya digenangi cairan. Saat ditemui Trubus pada akhir Maret 2004 setelah sebulan dirawat di rumah sakityang sama, kondisinya telah membaik. Rumah sakit-rumah sakit komplementer—gabungan medis dan herba—di Cina menjadi tumpuan harapan bagi pasien saatmencari kesembuhan.

Jauh sebelum Susilawati berobat ke Guangzhou, anaknya bernama Komalasarilebih dulu mencari kesembuhan ke negeriberpenduduk terbanyak di planet Bumi.Perempuan murah senyum itu jugamengidap kanker payudara 10 tahun lampau. “Sekarang saya segar bugar,”katanya ketika ditemui Trubus di kamar 501 rumah sakit itu.

Marak

Di rumah sakit lain, Guangzhou Yuzheng Hospital, Andini Permata pun berharap kesembuhan. Penderita kanker usus itu semula berencana berobat ke Singapura. Baru saja hendak meninggalkan rumah di Wastukencana, Bandung,mendadak kerabatnya menyarankan untuk berobat ke Cina.

“Kalau di Singapura mesti dioperasisehingga lebih riskan. Di sini diatasi dengan herba jadi merasa lebih aman,” kata Banny Hermawan, suami Andini. Dua bulan setelah dirawat ia kembali ke Bandung. Hasil pengecekan kesehatan menunjukkan,kandungan CEA menjadi hanya 13 darisebelumnya 97,3; CA-199, hanya 39 darisebelumnya 114. Orang yang terbebas kanker menunjukkan kadar CEA 0—5; CA, 0—35.

Susilawati, Komalasari, dan Andini Permata hanya beberapa orang Indonesia yang mencari kesembuhan ke negeri Tirai Bambu. Belakangan ini kian banyak pasien yang mengikuti jejak Susilawati. Menurut dr Wu Zhe Sheng, direktur Guangzhou Municipal Special Hospital, 30% pasien di rumah sakitnya berasal dari Indonesia.

Spesialisasi

GMSH yang berlokasi di Jalan Xian Lie Selatan mempunyai 54 kamar. “Kamar di sini tak pernah kosong,” ujar alumnus Traditional Chinese Medicine Guangzhou University. Banyaknya pasien ke Cina antara lain juga berkat jasa Nelson Yusuf. Hingga sekarang ia telah 70 kali mengantarkan pasien dari berbagai kota di Indonesia untuk berobat ke Cina.

Padahal kerap, sekali mengantarkan ada 3—4 pasien. Akhir-akhir ini ia juga membantu pasien mancanegara seperti dari Jerman, Kanada, dan Belanda untuk maksud sama. Semua berawal dari kanker kandungan yang diidap oleh istri Nelson pada 1992. “Hidup istri saya tinggal 3 bulan,” kata Nelson mengulangi prediksi dokter di Indonesia yang merawat istrinya.

Oleh seorang rekan, Nelson Yusuf disarankan untuk berobat ke Cina. Di sanalah hobiis burung berkicau itu mempertaruhkan asa. Lalu saat yang ditunggu-tunggu itu pun tiba. Malam Natal 25 Desember 1992 menjadi malam kenangan yang indah bagi Nelson. Ketika itulah istrinya dinyatakan sembuh.

Memang 6 tahun berselang belahan jiwanya berpulang ke pangkuan Ilahi dalam usia 55 tahun. Bukan karena kanker kandungan, tetapi gangguan paru-paru. Setelah istrinya sembuh dari kanker kandungan, Nelson acap dimintai pertolongan untuk mengantarkan pasien.

Selain mempunyai jaringan luas dengan rumah sakit di sana, Nelson fasih berbahasa Cina sehingga sekaligus dapat menjadi penerjemah. Ayah 4 anak itu akhirnya mengetahui spesialisasi rumah sakit di Cina. Contoh, pasien gagal ginjal biasanya dikirim ke RS Nan Sang; lever, RS Chaw Ton Yien.

Laku keras

Menurut dr Wu—sapaan Wu Zhe Sheng—biaya perawatan di rumah sakitnya selama 2—3 bulan sekitar Rp30-juta—Rp60-juta. Apa yang menyebabkan pasien Indonesia membanjiri rumah sakit di Cina? Meski rumah sakit tradisional, perlengkapannya mutakhir. Umumnya rumah sakit di sana menyediakan kamar dalam jumlah sedikit sehingga kondisi pasien lebih terpantau.

“Saya sangat puas berobat di sana. Tanpa harus dikemoterapi, kondisi saya membaik. Saya tahu dari teman yang pernah dikemoterapi, sakitnya luar biasa. Dokternya juga sangat bertanggung jawab,” kata Andini.

Mungkin lantaran membeludaknya pasien ke Cina, klinik Hu Qing Yu Thang membuka cabang di Manggabesar, Jakarta Barat, pada 23 Juni 2003. Beberapa dokter spesialis didatangkan langsung dari Chungko—nama Cina dalam bahasa setempat. Rata-rata 50 pasien ditangani per hari saat akhir pekan. Klinik tua berumur 130 tahun sejak didirikan oleh Hu Xue Yen pada 1874 itu tetap eksis.

Resep yang disodorkan kepada para pasien adalah ramuan herba. Menurut Wiyono Prasojo dari Hu Qing Yu Thang terdapat 1.000 tanaman yang dimanfaatkan sebagai obat. Selain itu klinik juga mendatangkan beragam obat jadi dalam bentuk pil, kapsul, dan tablet dari Cina. Harap mafhum, Hu Qing Yu Thang juga mengelola pabrik obat herba di Hangzhou, ibukota Provinsi Chekiang. Di sekitar Glodok dan Manggabesar, klinik serupa gampang dijumpai.

Prospek cerah

Seiring dengan maraknya penyembuhan ala Cina, obat-obatan cina tampaknya mendapat tempat di hati konsumen. Buktinya beragam obat yangdipasarkan dr Eka Mukti Rusriyanti amat laku di pasaran. Saat ini terdapat 12 suplemen produksi Tiens—artinya Singa Laut—dari Cina seperti Nutrient High Calcium dan Antilipemic Tea.

Alumnus Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia itu menjualnya dengan sistem pemasaran berjenjang. Dari perniagaan obat Cina, saban bulan ibu 2 anak itu meraup omzet Rp200- juta. Pendapatan relatif besar itulah yang menyebabkan ia berhenti sementara dari program pendidikan spesialis Psikiatri di Universtitas Indonesia. Jadwal praktek di 3 tempat berbeda dikurangi supaya berkonsentrasi memasarkan produk Tiens.

Data Badan POM (Pengawasan Obat dan Makanan) menyebutkan, hingga pertengahan April 2004, 517 merek obat cina beredar di Indonesia. Tahun sebelumnya cuma 73 merek. Saat ini terdapat 25 importir. Sebelum izin didapatkan, POM mengevaluasi mutu, keamanan, dan khasiat produk. Setelah produk beredar POM tetap mengawasi dengan menguji sampel di laboratorium, pengawasan sarana distribusi, memantau iklan dan efek samping. “Hingga saat ini belum pernah dilaporkan ke Badan POM adanya efek negatif obat tradisonal impordari Cina,” kata Drs Ruslan Aspan Apt, MM,Deputi Bidang Pengawasan Obat TradisionalPOM.

Obat-obatan Cina memang dikenal tokcer. Contoh obat penyembuh narkoba yang dikembangkan oleh Lin Wen Tong mampu memutus ketergantungan pasien hanya dalam 3 hari. Lin, pria paruh baya yang ramah, menuturkan obatnya banyak digunakan oleh polisi untuk menyembuhkan pecandu narkoba. Di Cina penyembuhan narkoba ditangani oleh polisi (baca: Pil Setan Putus 3 Hari, halaman 90—91).

“Prospek obat cina di sini amat bagus. Kendalanya adalah birokrasi yang sering menghambat,” ujar Amin Idris dari PT Baiyun Shan. Perusahaan itu mengimpor berbagai obat cina. PT Cahaya Bioteknologi Farmasi dan PT Sumber Saras Ayoe beberapa importir lain yang rutin mendatangkan ratusan jenis. Lewat merekalah pasien di Indonesia akrab dengan herba tiongkok. (Sardi Duryatmo)

Calo Intai Pasien

Berhati-hatilah berobat ke Cina. Derasnya pasien yang mencari kesembuhan ke negeri Tirai Bambu itu akhirnya dimanfaatkan oleh para calo. Ya, calo mencoba peruntungan di atas penderitaan pasien. Mereka biasanya menyebar di beberapa sudut bandara Baiyun International Airport di Provinsi Guangdong, Cina Selatan. Para calo tahu persis pasien yang bakal berobat—dari penampilan fisik—di berbagai rumah sakit di Provinsi Guangdong.

Saat pasien dan keluarga keluar dari bagian imigrasi, calo langsung mendekat dan merayu. “Mereka fasih berbahasa Indonesia,” ujar Mochammad Yusuf, pengobat komplementer yang kerap bolak-balik Jakarta—Guangzhou. Meskipun si pasien sudah menghubungi rumah sakit tertentu sebelum berangkat, calo terus membujuk agar mau berobat ke rumah sakit yang dimauinya.

Calo bakal menangguk rezeki besar andai pasien mau menuruti keinginannya. Pertama, calo memperoleh US$100 per pasien dari rumah sakit tertentu. Selain itu calo juga memperoleh Y100 (setara Rp100.000) per hari selama pasien menginap di rumah sakit. Padahal, umumnya pasien berobat hingga 2 bulanan. Hanya itu? Ternyata tidak, soalnya calo masih mendapat bagian 10% dari nilai obat yang diberikan dokter.

Pernah seorang pasien kanker prostat dari Semarang, Jawa Tengah, dibajak calo di bandara Baiyun. Sebulan berselang kondisinya tak membaik, malahan ia berurine darah. Kerabatnya kecewa setelah mengetahui terjadi “pembajakan”. Jiwanya tak tertolong meski ia menghabiskan dana US$12.000.

Bila demikian pasien tak ubahnya komoditas. Oleh karena itu Yusuf berpesan, pasien dan keluarga mesti hati-hati saat mencari kesembuhan ke Cina. Hubungi rumah sakit yang menolak bekerjasama dengan calo. Sekadar menyebut contoh adalah Guangzhou Municipal Special Hospital, Guangzhou Yuzheng Hospital, dan RS Chaw Ton Yien. Lantaran itulah biayanya pun relatif murah. Di sana pasien bukan komoditas, tapi manusia yang dirawat dengan hati dan perasaan. (Sardi Duryatmo)

 

- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Robusta Rasa Kelapa

Trubus.id— “Kopi arabikanya enak.” Itulah yang kerap terucap dari para penikmat kopi ketika mencicipi kopi asal Desa Tamansari, Kecamatan...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img