Friday, December 9, 2022

Kebajikan sang Kampret

Rekomendasi

 

Hamparan feses terserak di sepanjang aliran sungai di sisi dalam mulut Gua Petruk. Pantas ketika berada di dekat sungai selebar 10 m itu bau kotoran binatang terendus tajam. Menurut Cahyo Rahmadi dari Puslit Biologi LIPI feses berwarna cokelat kehitaman itu kotoran kelelawar alias guano. Nah, saat mencoba menjejakkan kaki di atas hamparan feses ini, kaki seperti menginjak busa. Empuk. Maklum ketebalan feses kelelawar itu mencapai setengah tinggi pulpen.

Koloni si kampret-sebutan di Jawa-terlihat setelah menyusuri lorong gua Petruk sejauh 50 m. Di bawah sorotan head lamp puluhan Chaerophon plicata berdesak-desakan di langit-langit gua tanpa stalaktit-ornamen gua dari kalsium karbonat berbentuk meruncing. Kaki-kaki mereka mencengkeram kuat langit-langit gua dengan posisi kepala di bawah. Nanang Supriatna, teknisi Puslit Biologi LIPI buru-buru memasang jala untuk mengoleksi beberapa kampret-kampret itu.

Sosok kampret gua kecil dan langsing. Ukuran itu terkait pakan. ‘Mereka adalah jenis pemakan serangga. Tubuhnya kecil agar mampu bergerak cepat,’ kata Agustinus Suyanto, manajer koleksi mamalia Museum Zoologi Puslit Biologi LIPI. Mangsanya sebagian besar serangga seperti nyamuk, kumbang, dan kupu-kupu.

Berapa yang dimakan? Sangat banyak. ‘Seekor kelelawar dapat memakan sampai 500 ekor serangga semalam,’ ujar Agustinus. Penelitian di Amerika Serikat menyebutkan koloni satwa nokturnal-aktif pada malam hari-berpopulasi 10.000 ekor memakan sampai 5-juta serangga semalam. Nah, bayangkan bila sebuah koloni mencapai jutaan ekor seperti di Texas, Amerika Serikat. Di sana 20-juta Tadarida brasiliensis memakan 6.600 ton serangga dalam setahun. Jumlah itu 4 kali lebih besar daripada bobot kapal perang hovercraft terbesar di dunia milik Rusia.

Ada yang menarik saat menyaksikan kampret penghuni Gua Petruk: chaerophon, hipposideros, dan rhinolophus dijala. Begitu sekawanan kampret dihela terbang, mereka menghindar ke sana ke mari. Namun yang luar biasa, di antara mereka tidak ada satu pun saling bertabrakan, apalagi sampai membentur dinding gua.

Tragus, cuping telinga di kedua telinga kampret berfungsi mendeteksi benda-benda di sekitarnya. Cara kerjanya mirip radar pesawat atau sonar kapal selam. Suara atau gelombang dilontarkan pada frekuensi tertentu lalu gemanya ditangkap kembali. Pada kampret cara ini disebut ekholokasi, mendeteksi lewat telinga. Ia dianugerahi kemampuan itu karena selain buta warna, ukuran matanya kecil sehingga benar-benar mengandalkan telinga. Layaknya radar, bentuk telinga si kampret ini lebar dan tinggi ketimbang kelelawar pemakan buah. Pantaslah dengan kemampuan seperti itu para kampret tidak saling bertabrakan.

Kampret memancarkan frekuensi sangat tinggi-ultrasonik-sekitar 50 kilohertz; manusia 3-18 kilohertz. Dengan kemampuan ekholokasi seekor kampret dapat mengukur jarak dan ukuran benda. Toh para ahli kelelawar dunia sejauh ini belum bisa memahami cara kerja otaknya yang dapat cepat mendeteksi benda dalam hitungan sepersekian detik, tak hanya terhadap mangsa, tapi juga sesama rekan kampret saat terbang.

Dunia mencatat ada sekitar 977 jenis kelelawar. Di Indonesia ada sekitar 205 jenis dari 53 famili seperti Pteropopidae, Megadermotidae, dan Rhinolophidae. Dari jumlah itu 72 jenis pemakan buah dan 133 jenis pemakan serangga. Pemakan serangga tak melulu menetap di gua, 50% tinggal di pepohonan. Demikian pula pemakan buah, 80% tinggal di pohon, sisanya di dalam gua. Nah, guano di Gua Petruk berasal dari kalong-sebutan kelelawar pemakan buah-yang menetap tak jauh dari mulut gua.

Sejatinya sumbangsih kampret sangat besar. Guano hanya salah satunya. Feses kaya fosfat, natrium, dan kalsium itu dimanfaatkan oleh manusia sebagai pupuk. Di luar itu peran utama kelelawar adalah pemencar biji dan penyerbuk bunga. Banyak biji yang dipencarkan kelelawar seperti beringin karet, keluwih, sawo, dan srikaya. Pun sebagai penyerbuk bunga durian, petai, pisang, dan randu.

Sebagai pemencar biji, kelelawar mengambil buah lalu mengunyah daging untuk mengambil cairannya. Bagian serat buah disepah, lalu bijinya dibuang. Kalong berukuran kecil tidak makan di pohon induk, tapi membawa buah itu terbang ke pohon lain sejauh 100-200 m. Yang ukuran besar seperti lalai kapuk Pteropus vampyrus dapat terbang sejauh 60 km. Semakin jauh biji dipencarkan di berbagai tipe habitat, semakin banyak varian pohon itu.

Menurut Agustinus sebuah penelitian membuktikan Agave palmeri yang ditutupi kain kasa dengan lubang sebesar 1,5 mm, cukup untuk meloloskan kupu-kupu, hanya menghasilkan maksimal 4,88% setara 3.800 biji dari 780.000 bakal biji. Jumlah itu meningkat di atas 50% saat kelelawar menyerbuki.

Tak hanya menyerbuki, beberapa jenis kampret menyukai madu. Bila pemakan serangga dan pemakan buah diberi keistimewaan telinga dan mata, khusus pemakan madu ini punya keunggulan moncong dan lidah panjang. Contohnya codot bunga australia Syconycteris australis. Panjang lidah jenis ini mencapai 2 kali panjang moncong. Dalam keadaan diam, lidah itu terlipat ke dalam, tapi begitu menjilat madu, lidah itu terjulur panjang seperti burung kolibri pengisap madu.

Sayangnya meski jasanya besar bagi kehidupan makhluk lain, hidup kampret banyak terancam. Populasinya terus merosot. Kebakaran hutan, penebangan hutan, hingga diburu sebagai makanan dan obat merupakan beberapa sebab utama. Itu di luar para predator alami seperti elang, ular, dan burung hantu. Contohnya Gua Lawa di Kabupaten Purbalingga. Penyebutan nama gua yang mengacu pada nama setempat kelelawar itu kini kosong melompong tanpa kelelawar akibat rusaknya habitat dan perburuan merajalela.

Padahal kampret dapat menjadi indikator pencemaran udara paling top, terutama timbel (Pb). Kelelawar Eptesicus, misalnya, mempunyai LD50 (lethal dosis, kadar setengah yang menyebabkan kematian) sebanyak 40 mg/kg bobot tubuh. Itu lebih peka 10 kali dibandingkan binatang percobaan lain, tikus dan kelinci.

Meskipun dapat menjadi sumber penularan beberapa penyakit seperti rabies, leptospirosis, dan salmonellosis, masyarakat di Wattansoppeng, Sulawesi Selatan, menghormati para kampret yang tinggal di pohon asam. Apabila kampret-kampret itu pergi, pertanda terjadi kekeringan panjang. Sebab itu pula pemerintah daerah setempat mengeluarkan larangan untuk menangkap sang kalong. (Dian Adijaya S)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Keunggulan Kapal Canggih Penebar Pakan Ikan

Trubus.id — Kapal penebar pakan ikan bisa menjadi alternatif para pembudidaya yang memelihara ikan di tambak yang luas. Salah...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img