Monday, August 8, 2022

Kebun Canggih Dewi Aphrodite

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

Produktivitas 350 tangkai bunga per meter persegi per tahun modal Marjoland memasok 70-juta mawar potong untuk pasar Eropa.

 

Pagi menjelang siang pada Senin, 16 Juli 2012 itu rinai hujan membasahi Waddinxveen, kota kecil di Belanda bagian barat. Jalanan beraspal mulus basah, rumput nan hijau dan hortensia snowball berbunga putih di pekarangan rumah-rumah penduduk pun kuyup pada musim panas yang kerap diusik mendung itu.

Namun, suasana di nurseri Marjoland seluas 20 ha terang-benderang. Ribuan lampu memancarkan cahaya berkekuatan 1.000 watt yang dipasang tepat di bawah atap greenhouse menjadi pengganti sinar matahari. Di bawah atap lampu-lampu itu menyinari rumpun-rumpun passion, sweet dolomiti, dan white naomi.

Passion, mawar merah berukuran mahkota besar, andalan Marjoland. Nurseri milik pasangan Joop dan Mariola van den Nouweland itu malah sempat hanya mengembangkan satu jenis itu saja. Belakangan mereka juga menanam sweet dolomiti berwarna merah muda, lovely dolomiti berwarna merah muda terang, dan white naomi berwarna putih kehijauan.

Menurut Angelien van den Nouweland, total jenderal ada lima varietas mawar yang mereka kebunkan. “Jenis-jenis itu dipilih karena pertumbuhannya cepat dan ukuran bunga besar,” kata putri pemilik nurseri yang menangani semua urusan administrasi perusahaan saat menemani Trubus berkeliling nurseri. Ukuran bunga besar masih favorit konsumen, pun warna merah.

Produksi naik

Rumpun-rumpun mawar itu ditanam di atas wadah serupa talang air dengan media tanam rockwool setebal 8 cm. Tepat di bawah talang membentang pipa-pipa plastik yang menyalurkan karbondioksida ekstra selama 24 jam. Pasokan CO2 dengan volume kurang dari 1 ppm itu untuk memastikan proses fotosintesis berjalan optimal meski cuaca di luar greenhouse tidak bersahabat.

Karbondioksida didapat dari hasil mengolah minyak bumi-sekaligus untuk mendapatkan listrik untuk penerangan dan menjalanankan sistem otomatisasi serta energi panas. Energi panas dipakai untuk menstabilkan suhu ruang ketika suhu udara di luar greenhouse menukik. Dengan demikian kondisi iklim mikro greenhouse sesuai untuk mawar. Energi panas itu dipancarkan melalui pipa aluminium di dekat lantai nurseri mengelilingi barisan tanaman.

Pada waktu tertentu di beberapa titik di antara talang tanam kita bisa melihat cahaya berwarna biru dan merah berpendar. Itu lampu light emitting diode (LED)-sebuah teknologi terbaru di kebun bunga lambang Dewi Aphrodite-dewi kesuburan-itu. Lampu berkekuatan 15.000 luks itu memancarkan cahaya yang dibutuhkan tanaman untuk berfotosintesis.

Dari hasil uji selama dua tahun pertama, Daniel van den Nouweland menyebutkan teknik penyinaran itu mampu mempercepat pertumbuhan tunas mawar. Posisi lampu LED di bawah tajuk tanaman membuat daun-daun yang biasanya hanya mendapat sedikit cahaya menjadi bisa lebih aktif dalam berfotosintesis. Dengan beragam kombinasi teknik budidaya produktivitas di Marjoland naik 10%.

Angelien menghitung produktivitas rata-rata mencapai 350 tangkai per meter persegi per tahun. Itu berarti dengan luas 20 ha, Marjoland mampu menghasilkan total jenderal 70-juta tangkai mawar setiap tahun. Tangkai-tangkai bunga Dewi Aphrodite itu yang dipanen para pekerja dengan bantuan mesin-mesin pintar untuk pasokan ke pasar Belanda, Jerman, Perancis, dan Spanyol-menyebut beberapa negara konsumen-melalui rumah lelang lima hari dalam sepekan hampir sepanjang tahun (baca: Teknologi Canggih di Kebun Meneer, Trubus edisi September 2012).

Menurut Muhammad Baidowi, praktikus florikultura di Bogor, Provinsi Jawa Barat, pemilihan varietas sangat mempengaruhi produktivitas mawar. “Biasanya yang bunganya kecil produktivitas lebih tinggi daripada yang berbunga besar,” kata mantan konsultan kebun produksi mawar potong itu.

Rundukkan cabang

Pada kunjungan pertengahan Juli itu Angelien menunjuk rumpun-rumpun yang baru ditanam pada April 2012. “Sampai sekarang sudah menghasilkan dua tangkai bunga,” tutur Angelien yang menyebut white fly dan thrips jadi ancaman sang ratu bunga dan diatasi dengan kontrol biologi. Setiap kali panen, pekerja memangkas cabang. Dari pangkasan itu muncul sekitar tiga tunas yang akan membawa bakal bunga berikutnya. Pekerja kadang-kadang mem-bending alias merundukkan cabang.

Menurut Ir Darliah MSc, periset mawar di Balai Penelitian Tanaman Hias (Balithi) di Cipanas, Kabupaten Cianjur, Provinsi Jawa Barat, sistem runduk diterapkan pada cabang tidak produktif. Misal menghasilkan bunga bertangkai pendek-di bawah 40 cm-yang harga jualnya bisa sepersepuluh harga mawar bertangkai panjang. “Pada sistem bending cabang tak produktif dirundukkan tapi tidak sampai menyebabkan tangkai patah,” tutur periset yang menyebut pada kunjungannya ke Belanda pada 1994 sistem itu sudah banyak diterapkan pekebun di sana. Tujuannya untuk menghasilkan tunas baru yang lebih vigor. (lihat ilustrasi: Merunduk, Produktif!)

Itulah yang dilakukan oleh Solihin, pekebun di Kampung Pasirsereh, Desa Cihideung, Kecamatan Parongpong, Kabupaten Bandung Barat, Provinsi Jawa Barat. Pekebun mawar potong sejak 20 tahun lalu itu menanam varietas ornela voodoo berwarna jingga di tiga rumah tanam masing-masing berkapasitas 2.000, 3.000, dan 5.000 tanaman. Rosa sinensis itu tumbuh di atas dua sistem tanam: bedengan selebar 80 cm tinggi 40-50 cm dan semacam talang selebar 40 cm dan tinggi 60 cm. Pada sisi kanan dan kiri bedengan membentang tali plastik untuk menahan cabang mawar yang dirundukkan.

Mula-mula pekerja memanen bunga, lalu dari setiap bekas pangkasan untuk panen itu muncul banyak tunas. Solihin biasanya hanya menyisakan 2-4 tunas yaitu yang posisinya paling dekat dengan pangkal batang. Dari tunas terpilih pekebun yang bisa menuai memanen 300 tangkai mawar per meter persegi per tahun itu nantinya memilih lagi cabang yang pertumbuhannya paling bagus. Cirinya ukuran cabang lebih besar dan lebih tinggi ketimbang cabang lain. Nah, cabang yang pertumbuhannya kurang baik tidak dipotong tapi direbahkan supaya nantinya memicu pertumbuhan tunas produktif.

Selektif

Darliah mengingatkan perlakuan bending mesti secara hati-hati supaya cabang tidak patah. “Cabang patah menyebabkan luka yang bisa menjadi pintu masuk cendawan atau bakteri penyebab penyakit,” ujar Yos Sutiyoso, praktikus dan konsultan hortikultura di Jakarta.

Sistem bending menghasilkan kanopi tanaman yang kian luas. Daun yang menghasilkan fotosintat-karena mendapat paparan langsung sinar matahar-lebih banyak. Artinya “dapur” penyedia makanan untuk pertumbuhan tunas baru bertambah. Tunas akan muncul dari ketiak daun dan batang bawah, tapi pertahankan hanya yang tumbuh di batang. Namun, menurut Darliah, posisi cabang yang di-rundukkan tidak boleh saling menutupi sebab bisa menyebabkan kelembapan di daerah kanopi terlalu tinggi dan penerimaan sinar matahari tidak optimal.

Selain itu supaya teknik itu efektif, budidaya mawar mesti dilakukan di bawah naungan. “Petani yang mengusahakan di lahan terbuka sulit menerapkan. Kalau hujan, daun yang terciprat air yang jatuh ke tanah bisa terserang penyakit tular tanah atau penyakit bercak,” kata Darliah.

Nun di Desa Gunungsari, Kecamatan Bumiaji, Kota Batu, Provinsi Jawa Timur, Sayadi Wibowo dan anggota Gabungan Kelompok Tani Mawar yang mengelola 60 kebun mawar di lahan terbuka pada ketinggian 800-1.000 meter di atas permukaan laut (m dpl) tidak melakukan cara bending. “Investasi membangun greenhouse dan perlengkapan lain seperti sistem irigasi terlalu mahal,” kata Sayadi. Pekebun hanya merompes bunga awal untuk merangsang lebih banyak tunas produktif. Biasanya dari satu tangkai akan muncul 2-4 tunas baru.

Oleh karena itu cara bending memang harus selektif seperti dilakukan di Marjoland. Pekerja memangkas untuk memanen bunga, membiarkan tiga tunas baru untuk produksi bunga berikutnya muncul di sana. Lalu hanya ketika diperlukan saja mereka mem-bending alias merundukkan cabang. Begitu seterusnya.

Total jenderal nurseri yang disebut-sebut sebagai produsen mawar paling progresif karena menerapkan berbagai teknologi budidaya terbaru itu mempertahankan tanaman selama 6 tahun, lalu melakukan peremajaan. Produksi optimal dicapai pada saat tanaman berumur 2-3 tahun tahun. Dengan  budidaya serbamodern itu dikembangkan selama 10 tahun terakhir Marjoland menjadi kebun kembang Dewi Aphrodite paling mutakhir. (Evy Syariefa/Peliput: Bondan Setyawan dan Imam Wiguna)

Keterangan Foto :

  1. Passion, andalan Marjoland, bersosok besar
  2. Kebun mawar modern 20 ha dengan produksi 70-juta tangkai per tahun
  3. Cahaya tambahan dari ribuan lampu berkekuatan 1.000 watt sebagai pengganti sinar matahari ketika cuaca mendung
  4. Pasokan karbondioksida ekstra melalui pipa plastik di bawah bedengan untuk mengoptimalkan fotosintesis. Hawa panas dari pipa aluminium yang mengelilingi bedengan mempertahan kondisi iklim mikro greenhouse sesuai untuk mawar
  5. White naomi salah satu yang kini mulai dikembangkan di Marjoland
  6. Penanaman dalam bedeng berupa talang yang bisa berpindah berisi media tanam rockwool
  7. Teknologi otomatisasi membantu pekerja memanen, menyortir, mengelompokkan, dan mengemas mawar potong
  8. Pada sistem bending, tangkai dirundukkan dan ditahan dengan tali atau pengait. Bending untuk menghasilkan tunas baru lebih produktif
  9. Solihin, pekebun di Cihideung, Kabupaten Bandung Barat, terapkan cara bending untuk mawar
- Advertisement -spot_img

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img