Sunday, August 14, 2022

Kebun Sayur di Atap Rumah

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

Itulah yang diterapkan Posuf Liswardi. Setahun silam pria berusia 56 tahun itu merombak atap lantai 3 rumahnya menjadi pekarangan berukuran 15 m x 12 m. ‘Saya tak memiliki lahan cukup untuk bertanam sayuran,’ kata Posuf, pensiunan sebuah perusahaan pertambangan. Halaman depan rumah berukuran 15 m x 7 meter telah diaspal untuk berlindung mobilnya. Mau tak mau, hobinya berpindah ke ketinggian 15 meter. Di atap itu ia menanam sawi, kailan, kangkung, jahe, kunyit, kencur, temulawak, pinang, dan rosela.

Posuf hanya menggunakan pot-pot sebagai wadah penanaman. Pot itu disusun di rak-rak kayu bekas pembangunan rumah. Media menggunakan kotoran domba, sekam dan tanah, ditambah pupuk Urea serta disiram sehari sekali. Ia memilih tanaman yang tahan sorot matahari sepanjang hari dan berumur pendek. ‘Pasokannya cukup untuk satu keluarga,’ kata ayah 2 anak itu.

Komersial

Jika Posuf membudidayakan tanaman di atap untuk kebutuhan sehari-sehari, Bina Sarana Bakti (BSB), pekebun sayuran organik di Ciawi, Jawa Barat, menanam sayuran di atap untuk komersial. Idenya berawal dari tingginya jumlah penebangan hutan dan perkembangan pembangunan yang merusak kawasan Puncak. Oleh sebab itu, Agatho Elsener, pemilik BSB, merancang bangunan yang tak merusak lingkungan sehingga area hijau tergantikan. Alasan lain, air hujan harus ditampung dan digunakan untuk menyiram sehingga tak hilang begitu saja.

Gedung BSB yang terletak 45 km dari Jakarta itu, didirikan pada 2000. Atapnya ditanami sayuran, meniru tehnik roof garden di Eropa terutama Swiss, negara asal Agatho. Swiss memang pelopor roof garden di dunia. Di dekat danau Moos Wallishofen, Zurich, ada roof garden yang berdiri sejak 1914 dengan luas 30.000 m2. Atap itu dilapisi batu kerikil dan tanah setinggi 15 cm. Pertanian di atas atap juga ditemukan di Sihlpost platform pada stasiun kereta api kota Z?rich.

‘Jika Eropa lebih banyak menanam tanaman hias, di sini dikembangkan untuk sayuran,’ kata Daryanto, manajer lapang BSB. Seluruh bangunan terbuat dari semen beton menjamin kekokohan gedung selama 20 tahun. Luas lahan sayur di atap itu mencapai 1.800 m2, terbagi atas 180 bedeng berukuran 10 m x 1 m. Tinggi keseluruhan 4 lantai mencapai 15 m pada daerah berketinggian 900 m dpl.

Semen sebagai penyangga atap dipilih karena kuat dan tidak mempengaruhi pertumbuhan tanaman. Media yang digunakan harus porous lantaran kebutuhan oksigen sayuran tinggi. Oleh karena itu, lantai semen ditaburi tanah setinggi 40 cm, 5 cm lapisan terbawah berupa hancuran batu bata. Media campuran lain; tanah subur berupa kompos dan pupuk kandang.

Penampung air hujan ditempatkan pada seluruh pinggir gedung. Saluran penampung itu berujung di pipa air. Total ada 3 saluran penampung di seluruh gedung. Paling atas-lantai 4-menadah air hujan. Jika saluran telah penuh, air meluap turun ke lantai 3 melalui pipa. Di lantai 3, air mengalir memenuhi seluruh saluran dan berlanjut hingga ke penampung paling bawah. Di lantai 1, bak semen berukuran 10 m x 10 m x 10 m menampung air hujan sebanyak 10 ton sebagai cadangan di musim kemarau.

Fiber glass

Roof garden di BSB mirip greenhouse tetapi sisi kanan dan kiri terbuka. Tujuannya untuk mencegah peningkatan suhu. Sebab, atap penaung sayuran berupa fiber glass. Udara panas tidak akan ‘terperangkap’ karena aerasi udara dari sisi kanan-kiri bagus sekali, makanya sisi samping dibuat terbuka.

Sayangnya, saat musim hujan cahaya matahari menjadi berkurang terhalang fiber. Tanaman cenderung tumbuh rentan dan mudah rebah. Oleh karena itu, saat musim hujan, sinar matahari digantikan lampu berkekuatan 40 watt sebanyak 6 buah/bedeng. Jika awan menggelap, tiang lampu berketinggian 3 meter itu diturunkan dengan katrol hingga berjarak 10 cm dari tanaman.

‘Pemilihan tanaman harus disesuaikan dengan pencahayaan,’ kata Daryanto. Pada tingkat pertama, bedeng tanaman seluas 400 m2 di luar kaca bagian penyortiran sayuran itu ditanami tanaman yang tidak membutuhkan cahaya tinggi, misal peterseli, kangkung, seledri, dan kapri pucuk. Lantai kedua juga ditanami sayuran yang sama. Namun, di lantai ketiga lantaran hanya sedikit terkena sinar matahari, di isi tanaman hias berbunga sebagai ornamen gedung dan berfungsi sebagai repelan, penekan populasi hama dan penyakit.

Lantai 4, ditanami sayuran yang rentan hujan. Seperti bayam, selada, dan pakcoy, serta tanaman yang membutuhkan tambahan cahaya. ‘Di sini penyinaran hanya efektif selama 11 jam,’ kata Daryanto. Sedangkan beberapa tanaman seperti brokoli, bunga kol, pakcoy, dan bit membutuhkan penyinaran selama 18 jam.

Budidayanya memang berbeda dengan sayuran di tanah biasa. Diakui Daryanto, kondisi sayuran atap lebih terkontrol baik suhu maupun hama dan penyakit yang menjangkit. Penyebabnya lahan sayuran bertudung fiber glass itu tidak terkena hujan. Cara mengatasi hama juga dilakukan dengan rotasi tanaman dan tumpang sari. Brokoli disandingkan dengan bawang daun, selada-bawang daun, dan pakcoy-kemangi.

Lantaran terjaga, kualitas fisik yang dihasilkan lebih baik dibandingkan sayuran di lahan bawah. Hasilnya pun bisa 3 kali lipat lebih banyak. Contohnya satu bedeng kailan berukuran 10 meter biasanya hanya menghasilkan 5-8 kg sayuran, tetapi lahan di atap mampu berproduksi 12-16 kg. Apalagi jarak tanam yang cenderung rapat menghasilkan sayuran yang tinggi dan disukai oleh konsumen. Harganya pun melonjak lantaran grade sayuran kelas atas.

Yang pasti, keuntungan yang didapat dengan menggunakan sistem green roof adalah, ‘Kita tetap dapat memanen sayur pada musim hujan sehingga pengiriman bisa kontinu,’ kata Daryanto. (Vina Fitriani)

 

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img